Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Monday, June 29, 2020

Kedudukan Pengakuan Dan Sumpah Dalam Konsep Peradilan Islam



M. Nur Rakhmad, S.H. (Direktur Advokasi LBH Pelita Umat Korwil Jatim)

Kesadaran Hukum sangat sulit ditemukan jika sistem Hukum yang diadopsi dunia hanya berasal dari kecerdasan manusia. Baik dari sistem Hukum Common Law yang berasal dari Inggris ataupun Civil Law yang berasal dari Perancis. Karena kesadaran hukum tersebut dimunculkan dari ketakwaan yang hanya bisa ditemukan dalam Sistem Hukum Islam, yang kesadarannya muncul bahwa tiap manusia akan mempertanggungjawabkan atas tiap perbuatan yang dilakukannya di dunia.

Keunikan dan ketinggian Sistem Hukum dan Peradilan Islam, untuk membuktikan benar atau tidaknya dakwaan pendakwa terhadap terdakwa maka proses pembuktian merupakan perkara yang amat menentukan. Oleh karena itu, Islam telah menetapkan jenis pembuktian yang diakui legalitasnya yaitu: pengakuan pelaku (QS 2: 225), sumpah (QS 2: 84), saksi dan dokumen tertulis (QS 2: 282).

Jika seseorang telah mengaku telah melakukan suatu tindakan kriminal di pengadilan maka qadhi tidak serta merta menerima pengakuan itu hingga ia yakin bahwa pengakuan tersebut lahir dari kesadaran orang tersebut. Hal ini didasarkan pada sikap Rasulullah saw. yang tidak langsung menerima pengakuan Maiz yang mengaku telah berzina. Abu Abdullah bin Buraidah meriwayatkan: Maiz bin Malik al-Aslami mendatangi Rasulullah saw. dan berkata, "Ya Rasul, saya telah menzalimi diri saya dan telah berzina. Saya berharap Anda bersedia mensucikan saya." Namun, Rasul menolaknya. Pagi harinya ia datang lagi dan berkata, "Ya Rasul, saya telah berzina." Lalu ia ditolak lagi. Rasul kemudian mengirim utusan kepada kaumnya dan bertanya, "Apakah kalian mengetahui ada yang buruk pada akal Maiz dan kalian mengingkarinya?" Mereka menjawab, "Kami tidak mengetahui kecuali akalnya sama dengan orang shalih di antara kami." Lalu Maiz datang ketiga kalinya. Rasul mengutus lagi utusan untuk mengetahui akalnya, namun tidak ada yang ganjil darinya. Tatkala ia datang keempat kalinya maka Rasul membuatkan lubang untuknya dan memerintah-kan orang-orang untuk merajamnya. Lalu ia pun dirajam (HR Muslim) .

Hadis ini menunjukkan bahwa pengakuan bisa menjadi bayyinat (bukti) oleh qadhi dalam menetapkan keputusan.

Adapun sumpah yang dijadikan sebagai bayyinat sumpah yang atas peristiwa yang telah terjadi. Itu dilakukan setelah seseorang diminta oleh qadhi di pengadilan. Sumpah pihak pendakwa atau terdakwa tidak sah jika tidak diminta oleh qadhi. Demikian pula isi sumpah adalah sebagaimana yang dimaksudkan oleh qadhi bukan yang dimaksudkan oleh pihak yang bersumpah. Jika, misalnya, ia bersumpah dengan ungkapan tauriyah (peryataan bersayap) atau dengan syarat yang disamarkan maka yang berlaku adalah apa yang dimaksudkan oleh hakim. Ini didasarkan pada hadis Rasulullah saw.:

الْيَمِينُ عَلَى نِيَّةِ الْمُسْتَحْلِفِ

Sumpah itu berdasarkan niat dari pihak yang meminta sumpah (HR Muslim).[]

No comments:

Post a Comment

Adbox