Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Wednesday, June 3, 2020

Kebijakan New Normal? What's Wrong?


Oleh : Yanna Ummu Azzzam
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Jakarta - Pemerintah menerbitkan protokol baru dalam lingkungan pekerjaan ketika sudah masuk bekerja. Perusahaan diminta mengatur jarak antar pekerja minimal 1 meter. Hal itu tertuang dalam surat edaran menteri kesehatan nomor HK.02.01/MENKES/335/2020 tentang protokol pencegahan penularan corona virus disease (COVID-19) di tempat kerja sektor jasa dan perdagangan (area publik) dalam mendukung keberlangsungan usaha. (detiknews).

Kebijakan ini sudah disusun dan resmi dimulai sebagai tahap persiapan pada 25 Mei 2020. Perusahaan-perusahaan BUMN dan swasta, tempat-tempat ibadah, sekolah-sekolah dan sarana umum lainnya akan dibuka secara bertahap dengan protokol kesehatan. Perusahaan diwajibkan membatasi jarak pekerjanya minimal 1 meter. Penerapan batasan jarak itu dilakukan baik di titik tempat bekerja maupun di bagian lainnya, memberikan tanda khusus yang ditempatkan di lantai area padat pekerja seperti ruang ganti, lift, dan area lain sebagai pembatas jarak antar pekerja, pengaturan jumlah pekerja yang masuk agar memudahkan penerapan menjaga jarak, pengaturan meja kerja, tempat duduk dengan jarak minimal 1 meter.

Begitu juga dengan sekolah-sekolah dan rumah ibadah yang akan dibuka kembali, harus mengikuti protokol kesehatan yang sudah diterbitkan oleh masing-masing pemangku kebijakan dan pembuat keputusan. Di sekolah-sekolah misalnya, siswa masuk sekolah secara bergantian (shif), pengaturan jarak 1 meter antar siswa, wajib memakai masker, tidak diperbolehkan ke sekolah dengan memakai angkutan umum (pun itu ojek), pengantar dan penjemput tidak boleh bergerombol, hanya berhenti untuk menurunkan dan menaikkan siswa ke kendaraannya. Tentu saja, protokol ini juga memerlukan biaya dan persiapan, baik untuk orang tua siswa atau pihak sekolah.

New Normal, itulah nama kebijakannya. Kebijakan yang dikeluarkan tidak lain untuk membangkitkan perusahaan-perusahaan yang hampir "koleps", pemilik mall, pemilik jaringan hotel besar, para pemilik maskapai penerbangan, para pemilik raksasa migas yang tidak mau terus merugi. Untuk alasan inilah pemerintah mengeluarkan kebijakan new normal. Berharap ekonomi dalam negeri segera membaik, pelaku usaha segera bisa bangkit. Dan kondisi di tengah pandemi yang diliputi kekhawatiran seakan hilang karena target pemerintah membangkitkan ekonomi harus segera direalisasikan. Rakyat tidak boleh khawatir dengan Covid-19, rakyat tidak perlu khawatir terinfeksi virus,  karena kondisi saat ini sudah berada di kondisi new normal. Rakyat harus punya maidset Covid-19 tidak berbahaya, rakyat harus berdamai dengan virus, bahkan memperlakukannya seperti sahabat atau pasangan (suami/istri). Karena saat ini kita dalam kondisi new normal.

Bagaimana seharusnya kita bersikap?, tetap kerja dari rumah?, tetap sekolah dari rumah?, tetap ibadah di rumah atau keluar rumah untuk bekerja, bersekolah dan beribadah, seperti anjuran dari pemerintah dengan kebijakan new normalnya?. Pandemi ini sungguhnya adalah salah satu tentara yang dikirimkan oleh pencipta dan pengatur alam semesta, yaitu Allah SWT. Ketika perusahaan kilang minyak raksasa tidak bisa mengucurkan minyak-minyaknya sehingga harga minyak anjlok, maka sungguh Allah hendak membersihkan tatanan lingkungan alam semesta ini. Ketika rakyat kebanyakan tidak bisa keluar rumah untuk belanja di mall, yang mereka lakukan adalah belanja dari rumah dengan membeli barang dari teman atau tetangga yang menawarkan produk secara online, sesungguhnya Allah hendak memberikan pelajaran, untuk saling mengenal dan saling membantu, saling menguatkan perekonomian antar teman atau tetangga.

Maka dalam kondisi new normal saat ini, padahal kondisi yang sebenarnya belum normal, kondisi yang sebenarnya masih belum terlaluinys pandemi ini dari tatanan dunia, kondisi yang sebenarnya masih membahayakan tingkat kesehatan dan nyawa manusia. Maka tetaplah di rumah, jangan terpancing dengan kebijakan new normal global yang sesungguhnya hanya mengikuti trand dunia, alih-alih menguatkan perekonomian, akan tetapi malah mengorbankan nyawa rakyatnya. Kebijakan yang seharusnya dilakukan adalah segera mengakhiri pandemi ini, baru kemudian menata ulang hal-hal yang harus segera dibenahi, baik itu secara ekonomi, memperbaiki tatanan masyarakat dan seterusnya.

Bagaimana seharusnya pemerintah mengakhiri pandemi ini? Seperti yang pernah dicontohkan oleh Kholifah Umar Bin Khattab, beliau menyuruh orang yang sehat untuk pergi ke bukit-bukit dan tidak membolehkan orang yang sehat becampur dengan orang yang sakit. Kebijakan ini biasa disebut lockdown atau isolasi. Begitu pula pernah terjadi di masa Rasulullah, ketika ada orang yang kena penyakit kusta, sementara orang tersebut ingin berbaiat kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah memerintahkan kepada utusannya supaya orang tersebut tetap tinggal di Madinah dan mengucapkan kepada utusannya bahwa Rasulullah telah menerima baiatnya tanpa menyentuh tangannya. Namun memang, apabila pemerintah mengeluarkan kebijakan lockdown ini, maka pemerintah bertanggung jawab penuh terhadap kebutuhan pokok rakyatnya.

Jadi tetaplah di rumah, dan biarlah pandemi ini menyelesaikan tugasnya. Membuat tatanan dunia baru, runtuhnya perekonomian dan sistem kapitalis dan bangkitnya ekonomi dan sistem pemerintahan Islam. Dimana hanya Allah, sang pencipta dan pengatur alam semesta yang akan mengatur dan menata kehidupan new normal yang sesungguhnya. Biarlah pandemi ini menyelesaikan tugasnya sambil kita belajar, bagaimana hidup sederhana, bagaimana hidup seperti panduan Islam. Allah hendak melihat kesiapan kita. Jika semua sudah siap, maka tatanan dunia baru, new normal yang sesungguhnya, akan Allah hadiahkan untuk kita. Tatanan kehidupan Islam yang sudah lama dirindukan.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox