Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, June 23, 2020

Katakanlah, Dialah Allah Yang Satu




Oleh : Bunda Hawari
(Divisi Parenting dan Generasi, LENTERA)

RUU HIP panen pro dan kontra dari masyarakat. Tak terkecuali dari sejumlah tokoh dan mayoritas elemen umat Islam. Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara kelembagaan di seluruh Indonesia, mengeluarkan pernyataan resmi menolak RUU HIP. MUI juga meminta agar diusut dalang di balik RUU yang bernafas komunisme sebagaimana ide milik PKI ini. Mengingat, letak masalah isi draft RUU HIP adalah terkait pasal 7 yang narasi lengkapnya memuat frasa “Ketuhanan yang Berkebudayaan”.

Jelas ini frasa yang berbahaya bagi pemikiran kaum muslimin. Bahkan berpotensi meracuninya. Apalagi, tengah ada wacana peleburan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) ke dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganagaraan (PKn) (rmol.id,19/06/2020). Padahal, sudahlah selama ini durasi mata pelajaran PAI di sekolah hanya maksimal 2 jam selama seminggu sekali, bayangkan jika harus dilebur dengan PKn. Ini tentu tak ubahnya menghilangkan mata pelajaran PAI itu sendiri. Yang dengan kata lain, sama saja mengaruskan sekularisasi umat secara masif dan sistematis melalui sektor pendidikan.

Kendati pembahasan RUU HIP tengah memasuki masa tunda, namun upaya sekularisasi umat dan generasi tentu harus dihentikan. Sebisa mungkin kita halau.

Lihatlah ketika muncul tudingan-tudingan keji kepada para siswa/mahasiswa anggota lembaga ROHIS (Kerohanian Islam) maupun komunitas ngaji. Mereka dikatakan kaum muda radikal dan ekstremis. Juga kaum muslimah yang aktif di berbagai majelis ta'lim dan pengajian, ternyata dihujani istilah serupa. Padahal aktivitas mereka semata-mata 'amar ma'ruf nahyi mungkar dan jelas-jelas mengajak pada ketaatan. Logikanya, sejak kapan ketaatan berkonotasi negatif selain ketika dilontarkan sebagai bentuk propaganda sekularisasi?

Firman Allah SWT:
   
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (١) اللَّهُ الصَّمَدُ (٢) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (٣) وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ (٤)

Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. (1) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (2) Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, (3) dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". (4) (TQS Al-Ikhlas [112]: 1-4).

Inilah mengapa keimanan itu tak cukup jika akidah yang diyakini masih sebatas agama keturunan. Keimanan hendaklah diyakini melalui proses berpikir, di samping adanya perasaan sebagai fitrah keimanan tersebut. Memang benar, bahwa iman yang fitri ini muncul dari perasaan hati nurani. Namun jika dibiarkan begitu saja adanya bahkan tidak dikaitkan dengan akal, maka kondisi ini sangat riskan dan tidak dapat dipertahankan lama. Karena pada kenyataannya, perasaan itu sering menambah-nambah tentang apa yang diimani, dengan sesuatu yang tidak ada hakikatnya. Tak jarang, ada orang yang mengkhayalkan keimanan dengan sifat-sifat tertentu yang dianggap lumrah begitubsaja terhadap apa yang diimaninya. Tanpa sadar, cara seperti ini justru dapat menjerumuskan ke arah kekufuran dan kesesatan.

Karena itu, keberadaan perasaan harus dibersamai dengan pemikiran dalam proses keimanan ini. Hal ini sungguh urgen, semata agar nantinya akan melahirkan keimanan yang kokoh.

Proses berpikir yang dibutuhkan menuju keimanan yang shohih adalah proses berpikir cemerlang (mustanir). Proses berpikir ini adalah proses berpikir yang akan mengantarkan semata-mata pada kebenaran. Karena, hanya dengan proses berpikir cemerlang saja seorang muslim mampu menjawab bahwa di balik keberadaan manusia, alam semesta, dan kehidupan ada Allah SWT selaku Al-Khaliq Al-Mudabbir (Allah Yang Mahapencipta dan Yang Mahapengatur). Tiada kesimpulan yang lain selain hal yang demikian.

Firman Allah SWT:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ (١٩٠) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (١٩١)

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (190) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.' " (191) (TQS 'Ali Imron [03]: 190-191).

Apabila iman kita kepada Allah SWT telah dicapai melalui proses berpikir, maka kesadaran kita terhadap keberadaan Allah menjadi sempurna. Begitu pula jika perasaan hati kita mengisyaratkan adanya Allah, lalu dikaitkan dengan akal sebagai instrumen berpikir, tentu perasaan tersebut akan mencapai tingkat yang meyakinkan. Bahkan hal yang demikian akan memberikan suatu pemahaman yang sempurna serta perasaan yang meyakinkan terhadap sifat-sifat ketuhanan. Yang dengan sendirinya, proses ini akan meyakinkan kita bahwa manusia tidak sanggup memahami hakikat Dzat Allah. Dan sebaliknya, hal ini justru akan memperkuat iman kita kepada Allah.

Setiap muslim wajib menjadikan imannya betul-betul muncul dari proses berpikir. Yakni dengan cara selalu meneliti dan memperhatikan serta senantiasa merujuk pada akalnya secara mutlak dalam beriman kepada adanya Allah SWT. Ajakan untuk memperhatikan alam semesta dengan seksama dalam rangka mencari sunatullah serta untuk memperoleh petunjuk agar beriman kepada Penciptanya, telah disebut ratusan kali di dalam Al-Qur'an dalam berbagai surat yang berbeda. Namun kesemuanya ditujukan pada optimalisasi potensi akal manusia untuk diajak berpikir dan merenung, sehingga imannya betul-betul muncul dari akal dan bukti yang nyata.

Keimanan adalah sesuatu yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Buah dari keimanan adalah komitmen terhadap pelaksanaan hukum syariat Allah. Dengan keimanan yang kokoh, umat yang beriman tak butuh frasa "berkebudayaan" demi dapat disebut religius, beradab, serta taat aturan. Yang justru harus diupayakan sebagai wujud keimanan di sini adalah senantiasa terikat dengan hukum syara' dengan sebaik-baiknya. Dengan adanya keyakinan seperti ini, kita patut menyadari bahwa kita wajib berserah diri terhadap semua yang dikabarkan oleh Allah SWT melalui Al-Qur'an.

Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنزَلَ مِن قَبْلُ وَمَن يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya." (TQS An-Nisa [4]: 136).

Juga ayat berikut ini:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (TQS An-Nisa [4]: 65).

Iman kepada Allah adalah suatu keharusan. Dan taat kepada syariat Islam secara total adalah kewajiban. Keimanan harus disertai sikap penyerahan secara total dan penerimaan secara mutlak terhadap segala sesuatu yang datang dari Allah SWT. Karena seluruh syariat ini tercantum di dalam Al-Qur'an dan dibawa oleh Rasulullah saw. Apabila tidak beriman, maka seseorang itu pasti kafir.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox