Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, June 9, 2020

Bagaimana Islam Memulai Kembali "New Normal"?


Oleh: Hayatul Mardhiyyah

Beberapa hari lalu sebelum tulisan ini tersaji di hadapan sidang pembaca, tagar #IslamSolusiAtasiPandemi sempat menjadi trending di twitter. Fenomena ini menunjukkan optimisme dan harapan yang terus tersemai di benak umat. Tentu ini menjadi kabar gembira bagi dunia di tengah kemelut penanganan pandemi oleh kapitalisme global yang tak kunjung menemukan titik terang.

Kondisi di atas tidak terjadi begitu saja. Ada dakwah Islam yang makin intens menampilkan aspek politik dalam Islam. Aspek politik yang dimaksudkan di sini adalah aspek bagaimana Islam mendudukkan dan mengurai problem kehidupan di tengah masyarakat. Termasuk solusi menghadapi pandemi. Efektif dan manusiawinya solusi Islam, membuka akal orang yang berpikir, untuk memahami keunggulan Islam dibanding kapitalisme yang penuh sengkarut. Bagi umat Islam, panggilan imanlah yang mendorongnya untuk mencari tahu tentang solusi Islam.

Banyak ulasan yang telah menggambarkan prinsip kebijakan Islam, berikut potret pelaksanaannya oleh Rasululloh dan para kholifah sesudah beliau SAW, saat menangani suatu wabah dan berbagai dampaknya. Agar solusi Islam itu semakin utuh dipahami, diperlukan juga sebuah penggambaran  prinsip kebijakan dalam Islam, tentang pemulihan dari suatu wabah di tengah tarik ulur kebijakan  "New Normal" yang penuh kontroversi.

Pentingnya Akurasi dalam Mengakhiri Situasi Darurat

Ketepatan dalam menyatakan situasi telah aman atau normal pasca wabah sangat penting, sebelum menormalkan kembali aktifitas di masyarakat. Kekeliruan dalam masalah ini bisa mengakibatkan bahaya wabah kembali berlanjut bahkan lebih parah. Meski WHO telah menyatakan sejumlah syarat yang harus dipenuhi suatu negara ketika hendak memberlakukan "New Normal", akan tetapi terpenuhinya syarat-syarat tersebut tidak serta merta menjamin suatu negara aman dari gelombang baru penularan Covid-19.

Gelombang kedua wabah Covid-19 terjadi di negara yang sebelumnya dinyatakan telah berhasil mengendalikan wabah. Prancis, ketika memberlakukan "new normal", mengalami ledakan kasus baru dalam sehari. Di Korea Selatan setelah sekolah dibuka, dalam sehari ada 79 kasus baru Covid-19. Sebanyak 251 sekolah akhirnya ditutup kembali (Bbc.com/Indonesia, 29/5).

Bagaimana Panduan Islam?

Setidaknya ada sejumlah prinsip umum dalam Islam yang tidak bisa ditawar sebagai asas, untuk memutuskan  berakhirnya situasi darurat akibat wabah penyakit:

1. Wajib bagi negara/pemimpin untuk menyadari bahwa ketundukan dan ketaatan tertinggi hanya kepada Alloh, sehingga senantiasa mengikatkan diri dengan syariat bukan kepentingan kelompok atau intervensi asing.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ عَمَّا جَاۤءَكَ مِنَ الْحَقِّۗ

"Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah  engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu ,"
QS. Al-Ma'idah[5]:48
Dengan demikian, ketaatan kepada Allohlah yang melingkupi suasana kesadaran pemimpin saat menimbang apakah situasi yang ada layak dinyatakan aman.

2. Wajib disadari keberadaan negara/pemimpin sebagai pemelihara dan perisai. Dalam hadits-hadits, Rasululloh telah menyatakan kedudukan pemimpin sebagai pemelihara urusan rakyatnya (roo'in) dan pelindung/perisai bagi rakyat dari segenap bahaya (junnah). 

Hal ini akan mengantarkan seluruh jajaran pemimpin dan pembantunya mengedepankan keselamatan dan kebutuhan rakyatnya. Mereka akan rela bekerja keras mengerahkan segenap kemampuan untuk melindungi rakyatnya. Tak ada pertimbangan untung rugi dan berkeluh kesah karena beratnya tugas yang harus dipikulnya. Apalagi sampai mencari keuntungan dari situasi krisis.

3. Islam mewajibkan memelihara jiwa dan menghilangkan bahaya yang mengancam umat. Rasululloh bersabda: "Tidak boleh (haram) membahayakan diri sendiri maupun orang lain". (HR Ibnu Majah dan Ahmad). Dengan demikian negara wajib mendahulukan keselamatan rakyat ketimbang pertimbangan ekonomi, apalagi kepentingan pihak-pihak tertentu yang tidak mewakili kepentingan rakyat banyak.

4. Islam memerintahkan agar pembacaan kondisi/fakta didasarkan pada ilmu atau pengetahuan bukan dugaan dan asumsi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمَا يَتَّبِعُ اَكْثَرُهُمْ اِلَّا ظَنًّاۗ اِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِيْ مِنَ الْحَقِّ شَيْـًٔاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢبِمَا يَفْعَلُوْنَ

"Dan kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan. Sesungguhnya dugaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan."
QS. Yunus[10]:36

Dalam situasi saat ini, kebenaran yang harus dicapai adalah pengetahuan mengenai karakter virus Covid-19 itu sendiri beserta prosedur pengendaliannya yang efektif. Di samping itu juga kebenaran dalam membaca keadaan penderita yang tertular di wilayah karantina.

Di sinilah dibutuhkan analisis dan rekomendasi para ahli yang kapabel dan amanah. Dibutuhkan juga dukungan penuh negara agar para ahli bisa melakukan riset yang memadai. Di sisi lain negara/pemimpin wajib mengambil pendapat mereka.

Rasululloh sendiri pernah mengesampingkan pendapatnya dan mengambil rekomendasi Hubab bin Mundzir saat menempatkan pasukan Badar. Hal ini karena pendapat Hubab lebih tepat ditinjau dari taktik berperang.

Dengan demikian, berakhirnya situasi darurat akan ditetapkan pemimpin berdasar pertimbangan yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya di hadapan Asy Syaari'(Alloh), seiring dengan hakikat fungsi negara sebagai pemelihara dan perisai, dan tidak bertolak belakang dengan data dan analisis  para ahli.

Standar Islam dalam Menetapkan "New Normal"

Kondisi darurat yang diakibatkan wabah bisa dinyatakan berakhir manakala ada indikasi tertentu:

1.Jika memang telah tampak tren menurunnya penularan penyakit yang sebelumnya mewabah di wilayah yang diberlakukan karantina. Kesimpulan ini tidak boleh didasarkan klaim dan asumsi tapi harus dibuktikan dengan data riil di lapangan setelah ditempuh langkah pemeriksaan yang massif dan akurat serta isolasi yang ketat.

2. Negara telah menemukan dan menyelenggarakan upaya pengobatan (preventif dan kuratif) yang teruji mampu meningkatkan kekebalan dan harapan sembuh. Upaya ini pun telah mampu diwujudkan dalam jangkauan yang luas dan merata. Hal ini sejalan dengan diperolehnya pengetahuan yang valid seputar seluk beluk dari penyakit yang mewabah.

Jika standar ini telah terpenuhi maka "New Normal" bisa dimulai dengan tetap memperhatikan prinsip "ihsan", yaitu kebaikan, kesempurnaan dalam pelaksanaan suatu aktivitas. Prinsip ini diperintahkan oleh syariat. Rasululloh bersabda:
"Sesungguhnya Alloh telah mewajibkan berlaku ihsan dalam segala hal..."(HR Muslim dari Syadad bin Aus). Oleh karena itu negara perlu memperhitungkan situasi adaptasi dengan terus melanjutkan langkah-langkah "penyembuhan" terhadap dampak wabah.

Di masyarakat yang langsung terdampak secara ekonomi, amat tidak bijak jika negara langsung menghentikan bantuan atau santunan sebelum bisa dipastikan mereka kembali bisa bekerja dan memperoleh penghasilan. Negara bisa mengalokasikan dana untuk mereka dari berbagai alternatif pendapatan dalam Baitul Mal. Bisa diambilkan dari pos kekayaan milik negara maupun pos kekayaan milik umum.

Yang tak boleh diabaikan, "New Normal" betul-betul akan berlangsung ketika kehidupan ini berjalan dalam sistem baru. Sebuah sistem yang tidak akan menjadi inang bagi segala bentuk pelanggaran hukum Alloh. New Normal needs New Islamic System.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox