Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Wednesday, May 13, 2020

The Real New Normal: Campakkan Kapitalisme!



Farid Syahbana
(PP GEMA Pembebasan)

Badan pusat statistic (BPS) merilis bahwa pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada kuartal-I 2020 sebesar 2,97 % year on year (yoy). Angka tersebut meleset jauh dibandingkan dengan prediksi pertumbuhan oleh otoritas ekonomi pada kuartal I yang mencapai  kisaran 4 % lebih.

Untuk target keseluruhan pertumbuhan ekonomi di  tahun 2020, pemerintah mematok angka di level 2,3%. Menteri keuangan Sri Mulyani pun sudah menyampaikan target pertumbuhan ekonomi tahun 2021, diproyeksikan tumbuh kisaran 4,5% - 5,5%.

Menyaksikan prediksi angka pertumbuhan ekonomi ditengah Pandemik Corona oleh otoritas ekonomi, jadi teringat ungkapan mantan Menteri Ekonomi tahun 2013, Chatib Basri, diberbagai kesempatan ia menjelaskan bahwa prediksi pertumbuhan ekonomi di tengah situasi pandemik Corona menandakan bahwa anda punya selera humor yang tinggi.

Kalau kita melihat urut-urutannya secara jelas maka anjloknya pertumbuhan ekonomi nasional atau global, variable utama diantaranya adalah pandemik virus Corona.  Economic Shock kali ini merupakan kombinasi yang tak terprediksi sebelumnya, bukan hanya dari problem barang dan/atau jasa, persoalan moneter atau pun ruang fiskal yang sempit.

Ada sebab yang tak dapat ditentang, yakni Corona Virus. Sampai detik ini belum ada yang dapat memastikan kapan corona virus ini akan berakhir. Karena bacaan sederhananya, kalau ingin ada peningkatan angka pertumbuhan ekonomi sebagaimana tahun-tahun sebelumnya maka selesaikan dahulu persoalan pandemik Corona.

Sementara itu, Untuk Indonesia, pertumbuhan Corona Virus belum terlihat melandai, meskipun beberapa daerah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Sejak awal maret hingga awal Mei (12/05), belum pernah sekalipun kasus aktif Covid-19 di Indonesia menurun. Penurunan terjadi jika kasus sembuh dalam satu hari melampaui penambahan kasus baru.

Apalagi kali ini kita dihadapkan pada issue New Normal, yakni sebuah kehidupan dengan Tatanan baru, menjalankan kebiasaan-kebiasaan baru, menjalani kehidupan dengan pola hidup bersih dan sehat. Mulai dari kebiasaan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, memakai masker ketika keluar rumah, hingga menghindari kerumunan dan tetap tinggal di rumah.

Jadi mohon maaf mesti disampaikan, sepanjang vaksin belum ditemukan, sepanjang virus belum dapat dikendalikan penyebarannya, corona virus akan tetap ada di Indonesia. Hal ini dipertegas kembali oleh Jubir Corona, Ahmad Yurianto "Perlu satu upaya untuk hidup dalam tatanan baru, yang menyadari COVID-19 akan terus terjadi," ujarnya, Selasa (12/5/2020).

Kembali ke problem ekonomi, kronologi awal merebaknya corona virus adalah di Wuhan, China. Positioning China dalam rantai pasokan produksi global (Global Supply Chain) sangat krusial. China merupakan pemain utama sebagai pemasok suplai global selama dua dekade terakhir, Saat ini Cina diperkirakan menyumbang hampir 20% dari produk domestik bruto (PDB) dunia.

Saat Ekonomi China melambat di masa pandemik, maka rantai pasokan global tentu terganggu. Efek kejut dan lanjutannya adalah gangguan kepada Negara-negara lain yang selama ini terkoneksi dan menjadi mitra dagang China untuk persediaan bahan baku produksi.

Indonesia menjalani hubungan dagang yang cukup mesra dengan China, Contoh Komoditi Ekspor seperti Batubara dan kelapa sawit yang merupakan komoditi primadona dalam hubungan dagang Indonesia - China. jika komoditi tersebut demand (permintaan) dari Tiongkok menurun, maka produksinya tentu akan menurun dan berakibat terhadap harga kedua komoditi tersebut.

Selanjutnya ancaman PHK depan mata, pendapatan sumber daya manusia yang mengandalkan harapan hidupnya kepada komoditi tersebut akan tergerus. Kemudian Daya beli akan menurun, penurunan daya beli akan melemahkan sektor produksi/Investasi. Kombinasi jap dari Supply Shock dan Demand Shock menghasilkan Economic Shock (Ekonomi Terlunta-lunta).

Ditambah kebijakan PSBB dan Issue New Normal, orang-orang dihimbau untuk dirumah, akibatnya  adalah aktivitas ekonomi yang mengandalkan kehadiran fisik tentu terganggu.

Kalau begitu, darimana datangnya angka-angka optimistic pertumbuhan ekonomi ketika pandemiknya belum jua usai?
Jikalau tetap ingin menerka-nerka pertumbuhan ekonomi akan rebound pada tahun-tahun berikutnya pasca 2020, PDB dunia diprediksi akan meningkat, pertanyaannya kemudian, apakah linier tingginya angka PDB dengan tingkat kesejahteraan masyarakat dunia?

Karena PDB sebagai alat ukur dalam system Kapitalisme ditujukan untuk menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi agregat (keseluruhan), sama sekali tidak mencerminkan distribusi kekayaannya, dengan kata lain, Koefisien gininya banyak tak berubah, tetap sedikit orang yang menguasai kekayaan dunia.

Kesenjangan kekayaan antara si kaya dan si miskin semakin lebar, nyata dan tak terbantahkan, rilis lembaga sosial Oxfam (2017), harta delapan orang paling kaya di dunia, sama dengan kekayaan setengah populasi orang miskin dunia (3,6 Milyar orang lebih) sementara total penduduk dunia diperkirakan 7 miliar lebih.

Solusi Alternative : Islam

Islam merupakan agama yang paripurna, tidak hanya mengatur persoalan Ritual dan moral, Islam juga mengatur manusia dalam segala aspek kehidupan.

Buruknya distribusi kekayaan yang selama ini terjadi justru disebabkan oleh Kapitalisme. Kendati secara tekstual Kapitalisme memberikan kesempatan yang sama (equality of opportunity) kepada setiap anggota masyarakat, namun faktual, struktur dan metodenya terlihat diskriminatif.

Orang-orang yang kuat akan Kapital (modal) dapat kebebasan untuk menambah sebanyak-banyaknya pundi-pundi kekayaan. Terdapat kebebasan untuk kepemilikan/ pemanfaatan barang yang sejatinya adalah kepemilikan Umum.

Padahal harta-harta yang tergolong milik umum itu amat penting bagi hajat hidup manusia. Nilainya pun amat besar. Apabila harta-harta itu boleh dimiliki individu, niscaya akan mengakibatkan terkosentrasinya kekayaan pada segelintir orang (oligarki).

Yang dapat diharapkan mengatasi problem ekonomi itu adalah sistem ekonomi Islam. Islam memang tidak mengharuskan persamaan dalam kepemilikan kekayaan, namun Islam tidak membiarkan buruknya distribusi kekayaan. Islam memandang individu sebagai manusia yang harus dipenuhi kebutuhan-kebutuhan primernya secara menyeluruh.

Jika politik ekonomi ini diterapkan dalam suatu negara secara konsisten, maka problem lebarnya kesenjangan ekonomi antar individu di tengah-tengah masyarakat dapat diatasi.

Saya membayangkan kondisi hari-hari ini, Kapitalisme kalau diibaratkan seorang petinju, ia masuk pada ronde –ronde penghujung dimana terpojok disudut ring, dihajar dengan kombinasi pukulan Jab, straight, Hook, dan Uppercut.

Pada saat-saat kritis terus berusaha bertahan dengan terlunta-lunta…yap, Kapitalisme bukan berada pada situasi senja, Kapitalisme diujung tanduk, tatanan baru/New Normal seharusnya adalah campakkan Kapitalisme.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox