Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Friday, May 29, 2020

A New Normal Life Penyelamat Ekonomi Kapitalis



Oleh: Rina Yulistina

Menjadi teringat lagu rap terserah, menggambarkan betapa ambyarnya pemerintah menangani pandemi ini. A  new normal life terus diaruskan ditengah masyarakat, kebijakan plin plan pemerintah membuat tenaga medis mumet sekaligus geram, beberapa waktu lalu hastag #IndonesiaTerserah menjadi trending di negeri ini.

Persiapan new normal telah terlihat ketika pemerintah memilih untuk melonggarkan PSBB membuka sektor-sektor ekonomi seperti armada transportasi darat, laut dan udara, dan juga mall. Ketika sektor-sektor tersebut dibuka lonjakan penambahan pasien positif naik dratis. Apalagi sebentar lagi kantor dan sekolah akan dibuka, pabrik akan menyusul di kemudian hari, bahkan pak Presiden meminta Menpar siapkan promosi wisata. Bisa dibayangkan berapa jumlah lonjakan penderita covid? Dan sudah bisa ditebak siapa yang akan babak belur kalau bukan tenaga medis?

Telah banyak penolakan, kritikan dari berbagai lapisan masyarakat mulai dari Nakes, akademisi, praktisi, pakar dan masyarakat menilai bahwa Indonesia belum siap untuk melakukan a new normal life, namun hal itu benar-benar telah diindahkan oleh pemerintah, terasa pemerintah telah mati rasa dan buta memaksakan kebijakannya tanpa melihat fakta yang sebenarnya. Jalur pandemi Indonesia masih berada pada tahap abnormal tapi pemerintah bersih kukuh menyatakan bahwa pandemi telah terkendali dan kurva telah landai. Tidak berlebihan jika masyarakat menyatakan bahwa pemerintah sedang mempermainkan nyawa rakyat.

Memang saat ini tren dunia mengambil langkah a new normal life, namun apakah Indonesia mesti melakukannya? Semboyan hidup berdamai dengan korona bahkan salah satu profesor di negeri ini menganggab korona sebagai istri, pernyataan konyol tersebut bukan menjadi bukti bahwa Indonesia telah menakhlukan korona namun lebih tepatnya menjadi bukti nyata pemerintah telah kalah menghadapi korona.

Bukan hanya Indonesia yang kalah menghadapi korona seluruh dunia pun mengalami kekalahan, korona menang telak. Makhluk kecil tak terlihat telah mampu memporak porandakan seluruh sendi kehidupan terutama dalam sektor kesehatan dan ekonomi. ADB memprediksi kerugian perekonomian dunia akibat dampak virus korona berada dalam kisaran US$ 5,8 triliun sampai US$ 8,8 triliun, atau setara dengan 6,4% sampai 9,7% dari produk domestik bruto (PDB) global.

Negara-negara di Eropa dan Amerika mengalami kebangkrutan menghadapi pandemi ini, uang triliunan telah digelontorkan namun virus ini terasa ogah untuk pergi. Termasuk di Indonesia dengan pemberian bansos yang nilainya sangat jauh dibawah negara-negara lainnya, merasakan hal yang sama. Jika kebijakannya tetap di rumah saja lantas siapa yang akan menanggung kerugian ekonomi?

Ya, kerugian ekonomi menjadi faktor utama dibuatnya kebijakan "a new normal life" yang dicanangkan oleh PBB. Dengan adanya new normal rakyat secara tidak langsung digunakan untuk membayar kerugian negara. Bagaimana cara membayar kerugian negara? dengan cara rakyat kembali produkdif, kembali bekerja, kembali memiliki penghasilan, kembali melakukan konsumsi. Pada akhirnya pertumbuhan ekonomi mulai merangkak, PDB akan berjalan normal mengangkat ekonomi dalam negeri. Disisi lain dengan semakin membaiknya kondisi ekonomi itu artinya membaik juga kondisi pendapatan negara melalui pajak, pajak merupakan jantung terpenting dalam perekonomian kapitalis melalui pajak dari rakyat inilah para penjabat negeri ini mendapatkan gaji dan dari pajak rakyat pulalah pemerintah bisa membayar cicilan utang dan bunga.

Terasa keputusan a new normal life menjadi sangat indah, sangat mulia bak pahlawan. Masyarakat tidak akan lagi kesusahan memenuhi kebutuhan hidupnya, kemiskinan teratasi, pengangguran berkurang, masyarakat akan kembali menjadi pahlawan negara penyelamat resesi ekonomi global. Namun sesungguhnya dibalik itu semua rakyat dijadikan bamper ekonomi kapitalis, nyawa rakyat dikorbankan demi penyelamatan resesi ekonomi. Apakah itu adil? Inilah sebenarnya bukti nyata pelepasan tanggungjawab pemerintah dalam mengurusi kebutuhan rakyat di tengah pandemi. Rakyat dibiarkan untuk bekerja dan bersekolah ditengah marabahaya ancaman terkena covid19. Seperti hidup ditengah rimba siapa yang kuat dialah yang bertahan hidup siapa yang tumbang dianggab mengurangi jumlah penduduk. Sangat kejam.

Tidak berlebih jika ada pertanyaan semacam ini, "Kenapa selalu rakyat yang jadi korban kenapa bukan para penjabat saja yang dijadikan korban? bukankah rakyat yang menjadi tuannya karena yang telah menggaji mereka?" pertanyaan menggelitik ini tidak pernah lepas dengan paradigma kepemimpinan di negeri ini. Di dalam alam demokrasi menjadi sesuatu yang sangat utopis jika suara rakyat suara tuhan, yang menjadi suara tuhan adalah para pemilik modal yang telah menggelontorkan banyak rupiah demi kursi jabatan. Jabatan bukanlah amanah namun menjadi alat memudahkan para kapital menguasai negri ini sebagai simbosis mutualisme.

Pada dasarnya sistem kapitalis hampir karam karena korona namun selama sistem rusak ini tetap dipertahankan maka akan tetap menghisab darah rakyat untuk bertahan hidup. Sudah tak layak lagi jika sistem kapitalis demokrasi tetap di pertahankan. Harus ada alternatif sistem yang memanusiakan manusia, sistem yang menjaga setiap nyawa rakyat skaligus menjamin kesejahteraan hidup mereka. Sistem itu hanya ada di sistem khilafah.

Khilafah menjadikan seorang khalifah memahami posisinya sebagai seorang pemimpin yang menjaga amanah, bukan jabatan yang dicari bukan pula harta benda yang dicari namun keridhoan Allah atas kepimimpinannya terhadap rakyatnya. Khalifah faham betul jika kebijakan yang dukeluarkannya menyelengsarakan rakyatnya maka kakinya akan terseret ke neraka. Sehingga kehati-hatian dalam mengambil kebijakan sangat difikirkan dan ditimbang dengan syara'. Hal itulah yang menjadi sebab kempemimpinan khalifah bukan ajang yang diperebutkan. []



No comments:

Post a Comment

Adbox