Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Thursday, May 7, 2020

Substansi Sistem Khilafah



H. Indarto Imam

Substansi ide khilafah adalah ukhuwah, syariah dan dakwah. Ukhuwah artinya persatuan umat Islam seluruh dunia. Syariah artinya penerapan syariah Islam secara kaffah. Dakwah artinya menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia. Ketiga substansi ini yang terangkum dalam kata 'Khilafah'. Maka dari itu, tidak ada yang buruk dari ide khilafah karena ini bersumber dari sumber ajaran Islam. Justru aneh, jika ide ini dianggap ide buruk. Mungkin ya jika kacamata yang digunakan adalah kacamata orang kafir/Barat.

Tak dipungkiri, Khilafah memiliki peran menentukan dalam penyebaran Islam di Indonesia. Khilafahlah yang mengutus para dai mendakwahkan Islam di Indonesia. Beberapa di antaranya dikenal sebagai Walisongo. Bahkan Khilafah pernah mengirim tentaranya untuk membantu Samudera Pasai mengusir penjajah Portugis. Para Walisongo pada saat itu datang ke negeri ini dalam kondisi Khilafah masih jaya. Wajar jika mereka tak mendakwahkan ide khilafah. Malah aneh jika mereka mendakwahkan tegaknya Khilafah.

Namun belakangan ada pernyataan sistem Khilafah tidak relevan di Indonesia. Membangkitkan kembali ide khilafah pada masa sekarang adalah utopis. NKRI sudah sesuai ajaran Islam.

Terkait dalil khilafah, ada banyak hadits yang menggunakan kata khilafah sebagai sistem pemerintahannya dan khalifah sebagai pemimpin sistem Khilafah.

كَانَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلَ تَسُوْسُهُمْ اْلأَنْبِيَاءُ. كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌ خَلَفَهُ نَبِيٌّ. وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِيْ. وَسَتَكُوْنُ خُلَفَاءَ فَتَكْثُرُ. قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: فُوْا بِبَيْعَةِ اْلأَوَّلِ فَاْلأَوَّلِ.

"Dulu Bani Israil diatur oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi wafat, dia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada lagi nabi sesudahku. Yang akan ada adalah para khalifah dan jumlah mereka akan banyak." Mereka [para Sahabat] bertanya, "Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?" Nabi saw. bersabda, "Penuhilah baiat untuk khalifah yang pertama, yang pertama saja." (HR Muslim).

Berkaitan dengan kewajiban kesatuan kepemimpinan, Rasulullah saw. juga menggunakan istilah khalîfah:

إِذَا بُوْيِعَ لِخَلِيْفَتَيْنِ، فَاقْتُلُوْا الآخِرَ مِنْهُمَا

Jika dibaiat dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya (HR Muslim).

Bahkan ada yang menganggap bahwa Khulafaur Rasyidin adalah  kebetulan sejarah saja. Sebagian kalangan lagi menyebut para ulama, khususnya para wali, tidak pernah mengajarkan Khilafah kepada umat. Mereka menilai, justru para ulama menanamkan substansi syariah Islam pada aturan yang ada. Menurut mereka, para ulama terdahulu tidak mendakwahkan bentuk/wadah bagi Islam.

Padahal ajaran Khilafah bersumber dari Al-Quran, as-Sunnah, Ijmak Sahabat dan Qiyas. Dalam Islam, Khilafah atau Al-Imamah al-'Uzhma merupakan perkara yang ma'lum[un] min ad-din bi adh-dharurah (telah dimaklumi sebagai bagian penting dari ajaran Islam). Khilafah didefinisikan sebagai kepemimpinan umum bagi kaum muslimin seluruhnya di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Kewajiban menegakkan Khilafah pun disepakati para ulama dari seluruh mazhab. Tak ada khilafiyah (perbedaan pendapat) dalam masalah ini, kecuali dari segelintir ulama yang pendapatnya tidak diakui (la yu'taddu bihi).

Imam al-Qurthubi, seorang ulama besar dari mazhab Maliki, ketika menjelaskan tafsir surah al-Baqarah ayat 30, menyatakan, "Ayat ini merupakan dalil paling asal mengenai kewajiban mengangkat seorang imam/khalifah yang wajib didengar dan ditaati, untuk menyatukan pendapat serta melaksanakan hukum-hukum Khalifah. Tidak ada perselisihan pendapat tentang kewajiban tersebut di kalangan umat Islam maupun di kalangan ulama, kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-A'sham (Imam al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1/264-265).

Al-'Allamah Abu Zakaria an-Nawawi, dari kalangan ulama mazhab Syafii, juga mengatakan, "Para imam mazhab telah bersepakat, bahwa kaum Muslim wajib mengangkat seorang khalifah." (Imam an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, XII/205).[]

No comments:

Post a Comment

Adbox