Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Wednesday, May 13, 2020

Rakyat Kelaparan, Bansos Tunggu Tas Berlogo



Oleh Dyan Ulandari
(Komunitas Penulis Ideologis)

Di malam gelap itu dengan langkah lebar tergesa-gesa Umar bin Khattab memanggul sendiri bahan makanan. Ia antarkan bahan tersebut untuk rakyat yakni sebuah keluarga yang diketahuinya merasakan kelaparan.

Sungguh sebelumnya Umar terkaget saat ia diam-diam menyusuri dari rumah ke rumah penduduknya, memeriksa secara langsung keadaan mereka. Ternyata masih terdapat rakyat yang tidak mempunyai bahan makanan hingga sekeluarga menahan lapar. Umar ketakutan dan menyalahkan diri sendiri, bagaimana jika ia dapati laknat Allah atasnya kelak. Betapa merasa lalainya ia sampai-sampai ada yang terlewat diketahuinya atas hal ini.

Itu secuplik kisah diantara yang lainnya tentang bagaimana sikap seorang penguasa dalam Islam yakni khalifah terhadap apa yang dipimpinnya. Namun hari ini justru fenomena yang terbalik terjadi pada sikap dan perilaku penguasa di negeri kaum muslim terhadap rakyatnya.

/Bansos Lambat, Ditunggangi PencitraanPencitraan/

Nasib tragis dialami satu satu keluarga yang berasal dari Tolitoli, Sulawesi Tengah. Pasalnya, saat ditemukan warga di tengah kebun di Kelurahan Amassangan, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, kondisi mereka sudah lemas karena kelaparan. (regional.kompas.com, 1/5/2020)

Empat belas orang mahasiswa asal Seram Bagian Timur, Maluku, mengaku nekat pulang kampung lantaran keuangan menepis selama masa PSBR yang diperpanjang sampai 15 Mei mendatang. Mereka nekat mudik ke kampung halaman lantaran kehabisan uang belanja dan sempat menahan lapar akibat bahan makanan mulai menipis dikontrakan. (m.cnnindonesia.com, 4/5/2020)

Namun di tengah fakta itu kita disuguhi pernyataan-pernyataan yang menunjukkan betapa kurang empati dan tak antisipatifnya sistem ini terhadap kebutuhan rakyat. Maka tak heran jika ada anekdot "data detail seluruh rakyat hanya ada saat pemilu, bahkan orang gila pun diminta suaranya".

Karena sistem politik ala demokrasi akan menomorsatukan pencitraan untuk dulang suara kala pemilu. Setelahnya, semua juga tahu bahwa rakyat tak diindahkan suara dan keluhannya. Begitu pula bertambah tak etis jika rakyat dilanda wabah, justru malah dimanfaatkan untuk momen pencitraan.

Bansos untuk rakyat berdampak covid harus melalui administrasi yang ribet. "Iya, masalahnya sampai saat ini BLT nya belum ada, musti (harus) lengkap administrasi, dan buka rekening bank, sementara perutnya perlu diisi sekarang," ujar Bupati Boltim dalam sebuah video. Dikatakannya mekanisme pemberian BLT tersebut terbilang menyulitkan warga. Warga, menurutnya, tak bisa harus menunggu lama untuk mendapatkan bantuan itu. (m.detik.com, 26/4/2020).

“Yang berhak menerima BLT Dana Desa pertama, masyarakat miskin itu pasti, kedua, yang belum terdaftar misalnya terjadi margin error sehingga belum terdaftar, masyarakat yang kehilangan mata pencaharian, belum dapat PKH, belum dapat Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), bahkan yang belum dapat kartu prakerja,” ujar Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar. (www.kemendes.go.id, 14/4/2020)

Serta bansos yang  sudah ada pun terhambat distribusinya ke tengah masyarakat karena belum selesainya produksi tas berlogo. Tak pantas logo dipandang lebih berharga dibanding hajat rakyat.

Menteri Sosial (Mensos) Juliari Batubara mengakui penyaluran bantuan sosial (bansos) berupa paket sembako untuk warga terdampak virus Corona (Covid-19) sempat tersendat. Hal itu dikarenakan harus menunggu tas pembungkus untuk mengemas paket.

Tas untuk mengemas paket sembako itu berwarna merah putih dan bertuliskan 'Bantuan Presiden RI Bersama Lawan Covid-19'. Di tas itu juga terdapat logo Presiden Republik Indonesia dan Kementerian Sosial serta cara-cara agar terhindar dari virus corona. (m.merdeka.com, 29/4/2020)

Tak hanya di tingkat daerah, politisasi bansos juga terjadi di tingkat nasional. Publik mempermasalahkan bantuan sosial yang digelontorkan pemerintahan Joko Widodo dengan nama Bantuan Presiden RI. Nama bansos itu dinilai seolah-olah bantuan dikeluarkan langsung oleh Jokowi. Padahal sumber dana bantuan sosial berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dipungut dari uang rakyat. (m.cnnindonesia.com, 29/4/2020)

Ahli kebijakan publik Agus Pambagio menyatakan pemerintah harus bergerak cepat mengintegrasikan data calon penerima bantuan sosial dengam ragam bantuan yang dikucurkan dari pemerintah. Menurut dia, tak sepatutnya pemerintah sibuk dengan urusan yang bersifat pencitraan dalam menanggulangi warga yang terkena dampak Covid-19. (koran.tempo.co, 29/4/2020)

/Islam: Wajib Cepat dan Mencukupi/

Strategi dalam mengatur kepentingan masyarakat dilandasi dengan kesederhanaan aturan, kecepatan pelayanan, dan profesionalitas orang yang mengurusinya. (Struktur Negara Khilafah, Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani). Dalam Islam salah satu kepentingan mengenai kebutuhan pokok termasuk pangan adalah hak rakyat yang harus cepat dan cukup dalam mendistribusikannya.

Khalifah bertanggung jawab, menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok dan pelayanan publik seluruh rakyat, baik terjadi wabah maupun tidak. Tanpa membedakan kaya, miskin, anak-anak, dewasa, muslim, ataupun non muslim. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya”. (HR. al-Bukhari).

Dengan mekanisme sistem kepemimpinan Islam yang komprehensif, maka rakyat tahu hak dan kewajibannya. Rakyat pun paham bahwa akses semacam bantuan sosial atau kebutuhan dasar lainnya berhak mereka dapatkan dari khalifah. Belum lagi terdapat para aghniya yang juga diberi kesempatan menyumbangkan hartanya.

Sudah menjadi kewajaran jika bantuan dari negara sebagai penopang utama itu datang pada mereka. Tidak langka dan ditunda-tunda bahkan dipolitisasi untuk menaikkan citra. Maka hal itu semua akan tercegah.

Khalifah memimpin karena dasar ketaqwaan kepada Allah SWT. Ketaqwaan inilah yang memberikan cara pandang berbeda dengan sistem kapitalisme dalam memandang ummat/masyarakat secara keseluruhan.

Dengan izin Allah sistem Islam akan menghadirkan kepemimpinan yang berhikmat pada syariat. Sehingga dengan iman dan taqwanya akan mengayomi, menghadirkan cinta, dan rasa asih terhadap rakyat.

Wallahua'lam bisshowab.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox