Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Thursday, May 7, 2020

Menelaah Fenomena Monsterizing Khilafah



Taufik S. Permana
(Geopolitical Institute)

Dalam 2 dekade ini berkembang sejumlah tuduhan bahwa syariah dan Khilafah adalah ancaman. Hal ini sesungguhnya bagian dari penyesatan politik dan upaya memalingkan umat dari ancaman sebenarnya. Perang Salib yang berkepanjangan telah memberikan inspirasi bagi Barat, bahwa kaum Muslim tidak mungkin dikalahkan secara fisik sebelum mereka dilumpuhkan secara pemikiran. Barat lalu melakukan ghazwul-fikri (perang pemikiran) dan membuat berbagai propaganda negatif terhadap ideologi Islam. Perang peradaban antara Islam dan Kapitalisme ini sebenarnya merupakan sebuah keniscayaan yang mesti terjadi sebagaimana diramalkan oleh Huntington dalam bukunya, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996).

Khilafah merupakan entitas politik yang akan menerapkan syariah Islam secara kâffah. Artinya, melalui Khilafah inilah ideologi Islam akan eksis secara politis dan praktis. Dalam kacamata perang peradaban tentu keberadaan Khilafah semacam itu sangat tidak diinginkan oleh Barat di bawah pimpinan Amerika dan sekutunya. Mereka akan menghadang setiap upaya yang dapat mengantarkan pada tegaknya syariah Islam dalam institusi Khilafah. Salah satu caranya adalah mengkriminalisasi syariah dan Khilafah dengan cara monsterizing (monsterisasi), labelling dan stigmatisasi.

Padahal secara faktual ideologi Kapitalismelah yang harus didudukkan sebagai ancaman. Faktanya, hasil penerapan ideologi ini telah terbukti menyengsarakan masyarakat dunia. Dana Moneter Internasional/IMF bahkan turut mengakui bahwa Kapitalisme telah gagal untuk mensejahterakan dunia. Menurut laporan Oxfam pada awal tahun lalu, krisis kesenjangan global mencapai titik ekstrim. Sebesar 1% orang kaya di dunia memiliki kekayaan yang setara dengan semua penduduk dunia ini jika digabungkan (Oxfam.org, 18/01/16).

Sangat aneh kalau ada elemen umat Islam yang menolak dan menentang Khilafah. Pasalnya, Khilafah adalah ajaran Islam dan kewajiban syar'i untuk mewujudkannya. Para ulama bahkan menyebut kewajiban menegakkan khilafah sebagai taj al-furudh (mahkota kewajiban). Khilafah, sebagaimana dijelaskan oleh ulama (Abdul Qadim Zallum, Nizhâm al-Hukmi fi al-Islam, 2002: 34), adalah: Kepemimpinan umum atas seluruh kaum Muslim di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.

Berdasarkan definisi ini, ada tiga esensi utama Khilafah. Pertama: Mewujudkan ukhuwah. Dengan Khilafah akan terwujud ukhuwah umat Islam sedunia secara nyata dalam kehidupan. Umat Islam memiliki akidah dan syariah yang sama sehingga digambarkan oleh Rasulullah saw. bagaikan satu tubuh. Jika ada bagian yang sakit, seluruh tubuhikut merasakannya. Ukhuwah yang demikian kuat itu akan dapat diwujudkan secara nyata ketika ada yang menyatukan umat dalam satu negara, yakni Khilafah.

Menurut Abdul Qadir Audah, Islam menjadikan kaum Muslim sebagai umat yang satu, menyatukan mereka dalam satu negara, memberikan satu imam bagi mereka guna memerintah negara yang satu, dan umat yang satu tersebut bertugas menegakkan Islam dan mengendalikan berbagai urusannya dalam batas-batas yang ditetapkan oleh Islam (Abdul Qadir Audah, Al-Islâm wa Awdha'una as-Siyasiyyah, 1981: 278).

Kedua: Melaksanakan syariah. Tugas utama Khilafah adalah menegakkan hukum syariah Islam. Memang ada sebagian hukum syariah yang dapat dan harus dijalankan oleh individu. Namun, tidak sedikit hukum syariah yang hanya bisa dijalankan oleh negara. Dengan demikian esensi Khilafah adalah penegakan syariah secara kâffah. Ketika itu terjadi, Islam sebagai rahmatan lil 'alamin akan terwujud dalam kehidupan (Lihat: QS al-Anbiya' [21]: 107).

Kerahmatan Islam yang telah dijanjikan Allah SWT itu akan terwujud melalui penerapan syariah di bawah sistem Khilafah. Karena itu Khilafah akan membawa kebaikan untuk negeri ini dan penduduknya, Muslim dan non-Muslim.

Ketiga: Mengemban dakwah. Tugas Khilafah lainnya adalah mendakwahkan Islam ke seluruh dunia. Dengan Khilafah Islam dapat tersebar luas di berbagai penjuru dunia dengan cepat. Sejarah telah membuktikan realitas tersebut. Selama 13 tahun Rasulullah saw. berdakwah di Makkah, hanya sedikit penduduknya yang masuk Islam. Namun, setelah Rasulullah saw. hijrah ke Madinah dan berhasil membangun Daulah Islam, seluruh Jazirah Arab bisa dikuasai dan penduduknya berbondong-bondong masuk Islam.

Tugas mengemban dakwah Islam ini terus dilanjutkan oleh para khalifah sesudah Rasullah saw. Berkat dakwah mereka, Islam bisa tersebar luas di dunia, termasuk sampai ke negeri ini. Sebagian dari para ulama yang disebut Walisongo adalah utusan Khalifah yang dikirim untuk berdakwah ke negeri ini. Kesultanan Samudera Pasai, Mataram, Cirebon, Banten, Demak, serta kesultanan lainnya di kawasan Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku merupakan bukti bahwa dakwah Islam melalui Khilafah telah mempengaruhi perkembangan sosial politik di negeri ini.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox