Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Saturday, May 30, 2020

Jawa Timur Nge-hits, Angka Corona Melejit



Oleh : Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si
(Koordinator LENTERA)

Kamis, tanggal 21 Mei 2020 adalah hari bersejarah bagi angka corona di Indonesia, terkhusus Provinsi Jawa Timur. Pada hari tersebut seperti ada petir di siang bolong. Bukan karena kebetulan bertepatan dengan momentum lengsernya rezim Orde Baru pada tahun 1998 lalu. Pasalnya, angka pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 melejit, yakni 973 orang.

Tak pelak, pada hari itu (21 Mei 2020) Jawa Timur mendadak nge-hits. Bukan apa-apa. Hanya saja yang menjadi masalah dari angka positif Covid-19 tersebut (973 orang), lebih dari setengahnya berasal dari Jawa Timur, dan angka tertinggi berasal dari Surabaya. Hari itu, Jawa Timur menyumbangkan angka 502 kasus, dengan angka di Surabaya mencapai 311 kasus. Tak ayal, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan angka tersebut sebagai peningkatan luar biasa.

Yang tak kalah istimewa, Jawa Timur juga mengantongi rekor jumlah klaster terbanyak di Indonesia. Sedikit mundur ke belakang, dikutip dari merdeka.com (11/05/2020), berdasarkan data tracing hingga tanggal 10 Mei 2020, tercatat ada 57 klaster di Jawa Timur. Padahal sehari sebelumnya (09/05/2020), masih tercatat hanya 52 klaster. Dari jumlah klaster tersebut (per 10 Mei 2020), untuk di Surabaya sendiri terdapat 16 klaster.

Kondisi ini jelas membuat seluruh Jawa Timur terhenyak. Terlebih menjelang Hari Raya Idulfitri 1441 H. Sudahlah selama bulan Ramadan sebelumnya juga tak kalah memprihatinkan, saat hari raya yang biasanya masyarakat berkumpul dan saling berkunjung juga mendadak tidak ada. Hari raya sepi, dan tentunya menyedihkan. Warga begitu paranoid untuk berkerumun.

Sejumlah ruas jalan di pelosok pemukiman di desa-desa ditutup, bahkan sejak sekitar 2,5 bulan sebelumnya. Ini termasuk fenomena di mana setiap rumah maupun pertokoan menyediakan sabun dan tempat cuci tangan mandiri. Disamping itu, warga juga me-lockdown mandiri kawasan tempat tinggalnya demi keselamatan diri sendiri beserta keluarganya.

Dan saat hari raya, “lockdown” mandiri ala warga ini makin ekstrem. Di sebagian wilayah, tak sedikit warga yang memasang reklame bertuliskan “mohon maaf, tidak menerima tamu” di pintu pagar rumah masing-masing. Ibarat kata, mereka hanya bisa berlaku demikian karena toh keselamatan jiwanya tidak bisa dititipkan kepada manusia mana pun, termasuk kepada penguasa di mana KTP mereka bernaung. Atau penguasa di atasnya lagi, yang pernah mereka puja-puji kala masa pemilihan kepala daerah.

Beruntungnya, gerakan warga yang semacam ini cukup kompak. Dan setidaknya ini bisa untuk saling menyemangati sesama warga Jawa Timur, tentunya dalam rangka memutus rantai penularan Covid-19. Karena siapa pun bisa tertular. Terlebih karut-marut data Bantuan Sosial (Bansos) dan kenaikan tarif BPJS. Hal ini sangat sensitif untuk makin mengikis kepercayaan warga kepada penguasa.

Jadi agaknya kurang tepat kritik dari pemerintah pusat, yang bahkan hendak menurunkan aparat untuk mendisiplinkan warga Jawa Timur di masa pandemi ini. Padahal jika hendak ditelusuri jauh ke belakang, faktor penularan Covid-19 di Jawa Timur pada awalnya bersumber dari luar kota. Dan kota yang menjadi episentrum tak lain adalah Surabaya. Hingga tak heran jika kemudian Surabaya diprediksi bisa menjadi Wuhan kedua. Na’udzubillahi.

Masih segar tentu dalam ingatan kita ketika Pemprov Jawa Timur dan Pemkot Surabaya mengatakan tidak akan me-lockdown Jawa Timur dan Surabaya hingga pertengahan Maret 2020 lantaran alasan ekonomi. Alasan ekonomi ini ‘ngotot’diambil oleh pemerintah daerah jika kita meninjau potensi ekonomi Jawa Timur.

Lihatlah, bagaimana Jawa Timur menempati posisi pertama dalam rangking ease of doing business atau kemudahan dalam memulai usaha terbaru yang dirilis oleh Asia Competitiveness Institute (ACI) tahun 2017. Berdasarkan data ACI 2017 tersebut, Jawa Timur berhasil memperbaiki kemampuannya dalam melakukan daya tarik ke investor. Untuk urusan daya tarik, Jawa Timur lompat dari peringkat 9 ke peringkat 2. Sementara untuk urusan regulasi, Jawa Timur berhasil mempertahankan posisi di nomor 1 lewat kebijakan-kebijakannya yang mendukung dunia usaha.

Sementara sejak awal tahun, Surabaya sudah menjadi zona merah. Namun saat itu, Bandar Udara Internasional Juanda masih beroperasi normal. Terminal-terminal bus antarkota masih lancar jaya. Pabrik-pabrik di sejumlah kawasan industri juga masih berjalan seakan bukan masa wabah. Padahal, pada saat yang sama Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta di ibukota sudah mulai sepi dari penumpang dan penerbangan. Jabodetabek sudah berangsur-angsur menutup akses transportasi. Jika demikian adanya, bagaimana Covid-19 di Jawa Timur tidak punya kesempatan luas untuk menyebar?

Semestinya, masih jauhnya Jawa Timur dari angka kasus di episentrum DKI Jakarta saat itu, tetap membuat pemerintah daerah (Pemprov, Pemkot, Pemkab) waspada. Tetap melakukan ikhtiar terbaik demi mencegah, mengatasi, dan meminimalisasi kasus yang terjadi. Bukan malah bergeming mengabaikan itu semua demi faktor ekonomi. Apalagi saat ini tren yang bertambah adalah angka pasien positif Covid-19 berstatus OTG (orang tanpa gejala). Ini membuat kondisi Jawa Timur makin berbahaya. Potensi penularan melalui transmisi lokal juga makin besar. Semata akibat sangat terlambatnya pemerintah mengambil tindakan tepat di awal pandemi.

Memang tak mudah untuk mengatasi wabah Covid-19 ini, sebagaimana curahan hati Bu Risma, Walikota Surabaya. Menurut data Pemprov Jawa Timur per 29 Mei 2020, jumlah pasien meninggal adalah yang tertinggi, yakni sebanyak 24 orang. Dari angka tersebut, 17 orang berasal dari Surabaya.

Namun semestinya disadari dengan sungguh-sungguh, bahwa kunci penanganan pandemi ini hanya membutuhkan setetes niat baik dan sejumput rasa kemanusiaan saja. Tidak lebih. Agar masyarakat merasakan hadirnya penguasa di sisi mereka untuk mengurusi urusan mereka. Yang tentunya kondisi mereka lebih terpuruk saat pandemi dibandingkan kondisi normal.

Sejenak merefleksi sejarah. Jawa Timur dikenal sebagai pusat peradaban Islam, dari dulu hingga saat ini. Di provinsi ini, terdapat jejak lima orang wali dari Wali Songo. Mereka seringkali disebut Wali Limo, karena lima orang di antara sembilan orang Wali Songo tersebut melaksanakan aktivitas dakwahnya di Jawa Timur. Kita tahu bagaimana Gresik dan Surabaya menyimpan banyak jejak dakwah Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, dan Sunan Giri. Juga kawasan sekitar Lamongan dan Tuban yang menjadi sentra dakwah Sunan Bonang dan Sunan Drajat.

Jawa Timur juga dikenal sebagai kawasan seribu pesantren. Jika dikatakan ‘mondok’ (belajar di pondok pesantren), pasti Jawa Timur menjadi daerah tujuan utama para santri. Apalagi bagi mereka yang ingin menimba ilmu hingga ke Mesir atau Timur Tengah, mondok di Jawa Timur adalah salah satu pintu gerbangnya. Lihat saja karya fenomenal novelis Habiburrahman El-Shirazy “Ayat-ayat Cinta”, tokoh utamanya diceritakan sebagai santri lulusan pondok di Jawa Timur. Atau penulis buku “Negeri 5 Menara”, beliau sendiri pun lulusan dari sebuah pondok di Jawa Timur.

Belum lagi sejarah heroiknya KH Hasyim Asy’ari dengan Resolusi Jihadnya serta Pondok Pesantren Tebu Ireng di Jombang peninggalan beliau. Pun kisah kumandang takbir Bung Tomo saat pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya. Dan tentunya masih banyak lagi tentunya fragmen perjuangan para hamba Allah di wilayah ini. Itu semua baru secuil bukti, bahwa Jawa Timur adalah sebagian dari bumi Allah yang diberkahi.

Jadi, ada apa dengan Jawa Timur? Di era corona ini, betapa profil Jawa Timur terkoyak. Lejitan prestasinya tak lagi tentang menjadi bumi para wali maupun tanah seribu pesantren. Alih-alih tentang kejayaan pemerintahan Airlangga dan Jayabaya yang sarat mitos dan mistis, yang jelas-jelas dengan mempercayainya adalah tindakan menyekutukan Allah SWT dan dipastikan tak bisa melenyapkan pandemi.

Ditambah fakta ironis, tentang tumbangnya Rumah Sakit rujukan Covid-19 di Surabaya hingga rumah sakit tersebut harus ditutup karena overload pasien kasus positif Covid-19. Juga sejumlah tenaga kesehatan (dokter dan perawat) yang wafat silih berganti. Ini baru di Surabaya. Bayangkan dengan kota/kabupaten lain yang tingkat teknologi kesehatannya masih di bawah Surabaya. Lagi-lagi, warga harus ikhtiar mencari selamat sendiri-sendiri. Astaghfirullah.

Bicara Jawa Timur di tahun 2020 adalah tak lebih tentang tingginya angka kasus positif Covid-19 hingga konon warganya harus didisiplinkan oleh pemerintah pusat, seolah pemerintah daerah sudah angkat tangan. Padahal hampir semua kota/kabupaten di Jawa Timur adalah kandang banteng, alias pendukung penguasa incumbent. Jawa Timur juga sudah bersedia menggusur lahan-lahan privat publik demi proyek ambisius rezim demi membangun Jalan Tol Trans Jawa yang super mahal tarifnya itu.

Namun kini Jawa Timur mendadak dituding ini dan itu, yang pada dasarnya bersumber dari kebijakan mencla-mencle pemerintah pusat hingga ke daerah. Tanpa ada roadmap revolusioner untuk menyelamatkan nyawa masyarakat di akar rumput. Hingga akibatnya, warga tetap saja bingung dan mau tidak mau harus bersedia menjadi korban pandemi. Sungguh, ini tak ubahnya habis manis sepah dibuang.

Sudah lebih dari cukup bagi warga untuk menyadari ini semua. Apalagi yang hendak diharapkan kecuali bersandar pada Sang Pemilik Hidup, Allah SWT. Virus corona adalah makhluk-Nya. Demikian halnya, penanganannya semestinya juga dilandaskan pada bagaimana aturan Allah selaku aturan dari penciptanya. Jangan lagi mengandalkan aturan absurd buatan manusia yang penuh hawa nafsu berkuasa.

Jika memang lockdown (karantina wilayah) adalah langkah yang diajarkan Rasulullah ﷺ , hendaklah itu yang ditempuh untuk menangani pandemi. Jika dalam sabdanya, Rasulullahﷺ  melarang untuk mendekati wabah seperti ketika kita lari sejauh-jauhnya jika melihat seekor singa, maka janganlah berdamai dengan Covid-19, apalagi menganggapnya selayaknya pasangan hidup (suami-istri). Ini jelas tindakan konyol yang bahkan melanggar tuntunan Rasul ﷺ . Bukankah Rasulullahﷺ  adalah utusan Allah yang harus kita imani dan teladani?

Firman Allah SWT dalam QS Al-Anfal [08] ayat 24-25:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ (٢٤) وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢٥)
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan (24). Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya (25).”[]

No comments:

Post a Comment

Adbox