Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Wednesday, April 22, 2020

SUARAKAN KEADILAN DAN KEBENARAN SECARA KRITIS KONSTRUKTIF



(Reportase Kuliah Online Spesial Uniol 4.0 Diponorogo, Selasa, 21/4)


"Seorang pejuang harus siap resiko saat menyuarakan kebenaran dan keadilan meski telah membingkainya dengan pemikiran kritis konstruktif. Bukankah jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat haq di hadapan penguasa zalim? Ingat, berani dan berjiwa mujahid. Tapi tetap terukur dan berhitung strategis."

Demikian salah satu pesan Prof. Suteki, rektor online di Universitas Online (Uniol) 4.0 Diponorogo sekaligus narasumber dalam kuliah online yang diikuti oleh segenap civitas akademika Uniol melalu media Zoom pada Selasa (21/4). Kuliah online kali ini mengambil tema "Mengulik Aktivitas Dakwah dalam Mass Society di Negara Hukum Indonesia."

Dalam paparannya, Prof. Suteki menyampaikan bahwa saat ini kita tinggal dalam masyarakat mass society. Fakta yang bisa kita rasakan dalam masyarakat seperti ini antara lain, agama tak lagi berpengaruh dalam pengambilan keputusan informal masyarakat maupun formal kenegaraan. Zaman sekarang kita lebih nyaman dengan sekularisasi dimana urusan dunia harus dipisahkan dengan akhirat. Termasuk Politik harus dipisahkan dari agama.

"Hari ini agama tidak boleh mengintrusi politik sehingga dalam demokrasi tidak dikenal halal haram, dan hanya mengadopsi pemikiran-pemikiran Barat yang sudah jelas condong ke liberal kapital," ungkap Prof. Suteki.

Sebagai pakar hukum dan masyarakat, Prof. Suteki juga menyoroti persoalan hukum di Indonesia. Menurut beliau, hukum kini seolah terlepas dari watak transendensi-nya. Hukum seharusnya menjadikan agama sebagai panutan dan bintang pemandu. Beliau menyayangkan, hukum sekarang menjadi sangat profan nan sekular dan itu menjadi bahan utama penegakan hukum di Indonesia ini.

Beliau melanjutkan, penegakan hukum sekarang yang berhati nurani kian dilumpuhkan. Contohnya, adanya ulama yang dijerat dan dikandangkan dengan tuduhan radikalisme atau rumusan ujaran kebencian yang sarat dengan kepentingan ambigu.

Padahal kata beliau,  posisi Indonesia sebagai negara hukum transendental seharusnya memberikan ruang bagi dakwah. Dakwah yaitu aktivitas amar ma'ruf nahi munkar adalah perkara sah dan tidak salah dilakukan berdasarkan hukum yang ada di negeri ini. 

Setelah pemaparan materi selesai, Prof. Suteki membuka sesi diskusi. Peserta sangat antusias mengikutinya. Terbukti, begitu banyak pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan seputar cara aman menyampaikan kritik agar terhindar dari jerat hukum, cara mengakhiri kepemimpinan yang represif, tips berdakwah sebagai ASN, dll.

Tak terasa, waktu dua jam berlalu dengan cepat. Secara umum, kuliah berjalan khidmat tapi dalam suasana santai dan penuh ukhuwah. Baik narasumber dan peserta berharap kuliah online via Zoom bisa sesekali terlaksana lagi di kesempatan berikutnya.[] (PS)

No comments:

Post a Comment

Adbox