Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Saturday, April 18, 2020

Kapitalisme Biang Petaka 'Aging Population'

'

Aminudin Syuhadak
(Direktur LANSKAP)

Ketika beberapa negara berkembang bonus demografi, negara berkembang seperti Indonesia, India, Brasil sedang mengalami bonus demografi, negara maju justru menghadapi permasalahan demografi aging population.

Banyak negara maju, termasuk AS, justru menghadapi aging population, dengan kondisi proporsi penduduk usia lanjut yang meningkat tajam. Kondisi tersebut dalam jangka panjang berpotensi berdampak negatif pada kinerja perekonomian dan dapat menjadi salah satu faktor kerentanan. Dampak rambatannya yang cukup besar pada perekonomian negara berkembang, termasuk Indonesia, menggarisbawahi pentingnya mencermati fenomena aging population.

Berdasarkan hasil penelitian Badan Penelitian Nasional Korsel (NARS) yang dirilis akhir Agustus lalu, menjadi alarm bahwa populasi penduduk Korea Selatan berpotensi mengalami kepunahan lantaran angka kelahiran yang merosot drastis ke angka terendah yakni pada poin 1,19 tiap perempuan. Simulasi penelitian menunjukkan populasi penduduk akan menyusut dari 50 juta pada saat ini menjadi 40 juta pada 2056 dan 10 juta saja pada 2136. Kemudian orang Korsel terakhir yang tersisa bakal hidup sampai 2750. Hingga akhirnya bangsa Korsel bakal punah.

Problem kependudukan banyak negara mengingatkan kita pada isu yang sama yang juga menimpa Jepang dan negara-negara macan Asia beberapa dekade terakhir ini.  Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Singapura tengah berjuang keras membiayai beban tunjangan sosial buat penduduk usia senja mereka yang jumlahnya kian banyak. Hampir sama seperti Korea Selatan, sekitar 39.6 persen penduduk Jepang akan pensiun pada 2050. Menurut sebuah studi yang dirilis Universitas Tohoku, Jepang pada 2012, penduduk Negeri Sakura juga akan punah seribu tahun mendatang, dengan anak terakhir yang lahir pada 3011. Sebuah ironi dan paradoks, negara-negara yang dijuluki sebagai "keajaiban Asia Timur" karena keberhasilannya menjelma menjadi kawasan-kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, kini menghadapi resiko kepunahan rasnya sendiri sebagai sebuah bangsa.

Fenomena aging population yang sedang melanda negara-negara Asia Timur ini tidak bisa dilepaskan dari pelopornya yakni negeri-negeri kapitalis Barat yang sudah mengalaminya terlebih dahulu. Asia Timur yang sukses bertransformasi dari sekedar bagian pasif kapitalisme global selama era ekspansi kolonialisme Barat lalu menjelma menjadi pelaku aktif globalisasi sistem Kapitalisme – tidak membutuhkan waktu lama untuk mengalami sindrom yang sama dengan para pionirnya di Barat seperti Perancis, Italia dan lainnya. Hanya sekitar tiga dekade penerapan Kapitalisme di negeri-negeri mereka, kerusakan segera melanda kehidupan masyarakat di Asia Timur.

Sindrom Budaya Chicago, begitu seorang profesor Malaysia menyebutnya. Profesor Ulung Institut Antarabangsa Tamadun dan Pemikiran Islam (Istac), Prof. Dr. Mohd. Kamal Hassan mengenali gejala-gejala dari kehidupan kota – kota Besar di Amerika Serikat dan negara Barat lainnya yang "mencapai kemajuan ekonomi namun mengalami kerusakan peradaban" dan ini merupakan karakter dari negara-negara maju hari ini.

Pembangunan pesat senantiasa diiringi dengan krisis sosial, keruntuhan institusi keluarga, meluasnya kriminalitas, kekerasan terhadap perempuan dan anak, tingginya angka bunuh diri, hingga anjoknya angka kelahiran dan pernikahan akibat massifnya pelibatan perempuan sebagai angkatan kerja. Korea Selatan menghadapi problem serius pada tingkat bunuh diri penduduk lansia yang sangat tinggi, 4000 lebih lansia bunuh diri per tahunnya. Begitupun di Jepang, sekitar 30.000 orang mati bunuh diri setiap tahun atau sekitar 80-100 orang Jepang mati bunuh diri per harinya yang justru kebanyakan dari usia produktif dan berpenghasilan cukup. Kekerasan terhadap anak juga menjadi masalah besar di negara-negara kapitalis Asia Timur.

Di Korea Selatan jumlah kasus pelecehan anak naik menjadi 6.700 pada tahun 2013 dari 2.100 pada tahun 2001, dan kemudian naik 36% tahun ini (2014) menjadi 10.240 kasus. Jepang bahkan lebih buruk dalam hal ini, total 73.765 kasus kekerasan terhadap anak di 2013- tingkat tertinggi dan untuk pertama kalinya kasus kekerasan anak melampaui 70.000 kasus.

Masyarakat Barat yang bercirikan 3 hal: sekular, pragmatis dan hedonis  – sebagaimana yang  dikemukakan oleh Taqiyuddin an-Nabhani (1953) dalam Nizham al-Islam– segera menularkan ciri yang sama pada kehidupan masyarakat di negara-negara maju Asia Timur, lengkap dengan konsekuensi kerusakan yang menjalar pada kehidupan masyarakatnya. Ketika Barat terus berupaya menyebarkan nilai-nilai dan ideologi mereka kepada dunia dengan cara yang sangat arogan dan memfitnah peradaban Islam, maka sebenarnya mereka telah mencoba untuk menyembunyikan keputusasaan yang mereka ciptakan pada masyarakat mereka sendiri dan juga di kawasan seperti Asia Timur. Sekarang Barat tidak lagi mampu menyembunyikan kemunduran dan kerusakan peradabannya.

Kemajuan dan modernitas yang ditawarkan Kapitalisme justru menjadi resep manjur bagi arus massal dehumanisasi bagi umat manusia, karena membuat masyarakatnya lebih menghargai materi dan kesenangan fisik daripada bangunan masyarakatnya, ide kebebasan telah membuat mereka abai terhadap kemanusiaan dan pelestarian ras manusia itu sendiri.

Paham individualistik akut telah melahirkan generasi yang rusak mentalnya, kosong secara spiritual, gagal mendefinisikan realitas kehidupan, tidak memiliki tujuan hidup dan terobsesi pada tokoh-tokoh superhero imajinatif dan inhuman dari industri hiburan kapitalistik yang mereka ciptakan sendiri.

Mereka akhirnya terbentuk menjadi generasi yang tidak manusiawi (inhuman generations), karena terobsesi pada kesuksesan materi dan gaya hidup hedonis yang menggadaikan kebahagiaan manusiawi dalam berkeluarga, tidak percaya pada komitmen pernikahan, menunda memiliki anak atau bahkan memandang anak sebagai beban karena tidak memiliki keyakinan akan sang Pencipta yang menjamin rizqi setiap anak manusia. Ditambah kebijakan womenomics ala kapitalisme yang menciptakan gelombang massal pekerja perempuan, yang juga memaksakan standar nilai bahwa perempuan akan mendapat status social yang lebih terhormat jika memiliki pekerjaan, sehingga kaum perempuan semakin kehilangan gairah untuk menjalani peran domestiknya sebagai ibu dan istri di rumah.

Inilah mengapa angka kelahiran dan tingkat pernikahan di negara-negara maju menjadi sangat rendah, karena generasi mudanya semakin tidak menghargai pernikahan dan bangunan keluarga, sehingga perlahan tapi pasti -secara simultan- arus dehumanisasi modern ini mengantarkan pada krisis populasi bahkan punahnya populasi manusia! Inilah kemajuan beracun yang ditawarkan ideologi sekulerisme, dikatakan beracun sebab di tengah keberlimpahan ilmu pengetahuan, di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa, sangat banyak manusia gagal dalam mengatur kehidupan pribadinya dan gagal dalam membangun peradaban.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox