Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Thursday, April 9, 2020

Dihantam Corona, Apa Kabar Groundbreaking Bandara Kediri?



Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si
(Koordinator LENTERA; berdomisili di Kampung Inggris, Kediri)

Pembangunan Bandara Kediri sudah di depan mata. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Polana B Pramesti menyebut bahwa rencana pembangunan Bandara Kediri, Jawa Timur, ditargetkan groundbreaking pada 16 April 2020 mendatang. Sedangkan pembukaannya ditargetkan pada tahun 2022.

Dikutip dari katadata.co.id (10/03/2020), Bandara Kediri dibangun dengan menggunakan konsep multi-airport. Bandara ini pun telah masuk dalam proyek strategis nasional atau PSN. Kehadirannya diharapkan dapat menjadi alternatif untuk mengurangi daya tampung Bandara Juanda, Surabaya yang sudah maksimal.

Direktur Utama PT Angkasa Pura (AP) I (Persero) Faik Fahmi mengatakan, PT Gudang Garam Tbk akan bermitra dengan Angkasa Pura (AP) I untuk mengoperasikan Bandara Kediri. Dan ini adalah investasi jangka panjang secara nasional. Faik menyebut, Bandara Kediri merupakan salah satu wilayah yang potensial untuk dikembangkan menjadi bandara penumpang maupun kargo. Namun untuk merealisasikannya, masih diperlukan aksesibilitas yang baik. Karenanya, dalam menyambut potensi yang ada, melalui proyek Bandara Kediri ini Gudang Garam berharap bisa meningkatkan kontribusinya bagi Jawa Timur. Yakni, dapat membuka akses ke wilayah Tulung Agung, Blitar, Ponorogo, Trenggalek, Madiun, dan Magetan.

Di samping itu, pembangunan Bandara ini tentu memiliki target nominal pendapatan yang terukur. Meskipun, pihak Gudang Garam menyatakan tak mengejar keuntungan dengan pembangunan Bandara ini. Dan Kementerian Perhubungan akan memberikan hak konsesi pengelolaan Bandara Kediri kepada Gudang Garam selama 30 sampai 50 tahun. Namun Gudang Garam berharap mendapat hak konsesi itu hingga 50 tahun agar perusahaannya tak terlalu merugi. Hal ini lantaran Gudang Garam tidak yakin tingkat pengembalian aset alias return on assets (ROA) dari pembangunan Bandara Kediri dapat mencapai di atas 10%. Karena menurut mereka, proyek ini memang bukan ditujukan untuk aspek komersial. Tapi lebih kepada peningkatan kontribusi bagi daerah sekitar, provinsi, juga negara.

Namun dengan kondisi Kota dan Kabupaten Kediri yang tengah menjadi zona merah corona, bagaimana proyeksi pembangunan Bandara Kediri ini?

Terkait hal ini, memang belum diperoleh informasi terbaru. Namun sebagai pertimbangan, ada beberapa hal yang patut kita ketahui. Diantaranya, tentang skema lalu lintas udara di Asia Pasifik yang diperkirakan turun 24% pada kuartal pertama tahun 2020 ini akibat sejumlah larangan penerbangan untuk mencegah penyebaran virus corona.

Hal ini berpotensi menurunkan pendapatan bandara di wilayah Asia Pasifik tersebut hingga mencapai US $ 3 miliar atau setara Rp 43 triliun. Direktur Jenderal ACI Asia-Pasifik Stefano Baronci mengatakan pembatalan penerbangan telah menyebabkan pendapatan bandara dari biaya pendaratan dan parkir maskapai menurun.

Selain itu, adanya penurunan jumlah penerbangan menyebabkan kerugian operator bandara di sektor perbelanjaan atau ritel dan biaya keamanan penumpang. Karena, pengoperasian bandara tidak seperti maskapai penerbangan, yang dapat memilih untuk membatalkan penerbangan atau memindahkan pesawat mereka ke pasar lain untuk mengurangi biaya operasi. Operator bandara mengelola aset tidak bergerak yang tidak dapat ditutup.

Adanya wabah corona, bagaimana pun pasti mempengaruhi keuangan operator bandara secara signifikan. Hal ini termasuk mengganggu rencana ekspansi jangka panjang di masa depan. Bandara dihadapkan pada tekanan arus kas secara langsung, namun dengan kemampuan terbatas untuk mengurangi biaya tetap.

Sementara itu, Asosiasi Transportasi Udara Internasional atau IATA menjelaskan wabah corona diproyeksi memangkas pendapatan maskapai penerbangan hingga US$ 113 miliar atau setara Rp 1.624 triliun pada tahun ini. Untuk menutup kerugian, diperlukan setidaknya tambahan 80% penerbangan di musim tertentu ketika wabah tersebut mulai mereda.

Adapun di Indonesia, PT Angkasa Pura II (AP II) mencatat penurunan penumpang 4%-5% pada Februari 2020 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tersebut disebabkan oleh menurunnya pergerakan pesawat di bandara-bandara yang dikelola AP II sebesar 6% akibat wabah virus corona. Penurunan jumlah penumpang dan pergerakan pesawat tentu berdampak pada kerugian terhadap nilai pendapatan AP II.

Berangkat dari sejumlah fakta ini, seolah menunjukkan bahwa Bandara Kediri berpotensi mungkin akan sedikit terhambat proses pembangunan berikut masa pengoperasiannya nanti. Namun jika mencermati bahwa Bandara Kediri merupakan bandara pertama di Indonesia yang dibangun dengan dana penuh dari swasta, maka ada satu hal yang perlu memantik kesadaran kita. Yakni, apakah pembangunan bandara ini bagian dari upaya privatisasi wilayah Kediri dan sekitarnya secara geografis dan politis? Karena meski berdalih kontribusi dan tidak terlalu menargetkan profit, namun bagi pemodal tiada akan pernah ada makan siang yang gratis (no free lunch). Baik, kita lihat saja nanti.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox