Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, April 14, 2020

DAKWAH KHILAFAH: SEBUAH TANTANGAN UMAT DI TENGAH PANDEMI COVID-19



(A brief analysis)

Oleh: Endah Sulistiowati
Dir. Muslimah Voice

I. Pendahuluan

Ada semacam opini di tengah masyarakat bahwa demokrasi kapitalis tidak menghendaki Islam bangkit dan memimpin. Islam hanya ditempatkan pada area sangat individual. Tak ada larangan untuk salat, zakat, sedekah, puasa, haji. Jika pun Muslim berbisnis, akan diawasi. Jika Islam tampil dalam urusan politik publik, diharuskan menggunakan topeng, sehingga berwajah moderat. Bukan wajah asli Islam yang sebenarnya. Sebab hukum-hukum politik publik semisal Khilafah, hukum sanksi, hukum pergaulan sosial, ekonomi, hukum jihad, dsb harus disembunyikan dari umat. Dilakukan dengan cara penyesatan berpikir, yaitu hukum-hukum tersebut dikesankan 'garang' karena akan mengancam perdamaian dan keamanan dunia.

Opini itu mungkin saja terkonfirmasi pada kasus penangkapan Saudara Ali Baharsyah yang konsisten memperjuangkan syariah & khilafah sekaligus kritis terhadap sikap rezim yang dia anggap zalim.

Aktivis Islam Alimudin Baharsyah ditetapkan sebagai Tersangka dengan pasal berlapis. Salah satunya, dia dituduh melakukan makar melalui media sosial Facebook berdasarkan ketentuan Pasal 107 KUHP.

Dalam pernyataannya yang dikutip berbagai media, Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Himawan Bayu Aji menyebut telah memantau Ali Baharsyah sejak 2018. Ali dituding ingin menyebarkan paham yang diyakininya dan dianggap Penyidik berbahaya. Keterangan ini sejalan dengan materi Penyidikan yang berulang kali mempersoalkan ajaran Islam khilafah. Video Ali yang menyerukan Khilafah dijadikan bukti Perkara.

Kami mempelajari ada banyak kebencian rezim zalim di seluruh dunia terhadap agama Allah yang lurus tampak nyata dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh dada mereka jauh lebih besar lagi. Karena itu kita melihat rezim merekayasa kebohongan demi kebohongan, dengan anggapan siapa tahu sebagian masyarakat mempercayainya, agar hal itu menjadi justifikasi untuk melakukan aksi-aksi paling tercela. Slogan kontra khilafah dan radikalisme yang mereka usung merupakan bukti atas hal itu. Slogan itu tidak lebih hanyalah kedok untuk menutupi kebohongan di belakangnya untuk menerapkan kebijakan-kebijakan dengki terhadap Islam dan kaum Muslimin.

II. Permasalahan

Berdasar opini yang berkembang di tengah masyarakat, maka penulis merasa perlu untuk membahas beberapa permasalahan terkait Dakwah Khilafah di Tengah Pandemi Corona sebagai berikut:

1. Mungkinkah ada konspirasi untuk menghalangi dakwah Khilafah dengan masifnya penyebaran virus Covid-19 di seluruh dunia?

2. Apa yang harus dilakukan para pengemban dakwah dan kaum muslimin untuk menyampaikan dakwah khilafah di tengah pandemi corona?

III. Pembahasan

A. Prediksi NIC Khilafah Bangkit Kembali Pada Tahun 2020: Mungkinkah?

Akhir tahun 2019 virus Covid-19 mulai ditemukan di Wuhan Cina, awal tahun 2020 hampir semua negara terjangkit virus ini. Termasuk Indonesia yang awal Maret tahun ini ditemukan penderita pertamanya. Dan saat tulisan ini dibuat sudah 3842 dinyatakan positif, 327 meninggal, dan 286 dinyatakan sembuh, prosentase kematian yang cukup tinggi no dua di dunia.

Tahun 2020 adalah tahun yang sakral bagi siapapun yang pernah membaca laporan NIC pada Desember 2004 bahwa Khilafah sebagai babak dunia baru akan tegak. Banyak usaha dari musuh-musuh Islam untuk menghalangi tegaknya Khilafah ini.

Adakah kemungkinan Covid-19 ini tersebar sebagai salah satu cara membendung tegaknya Khilafah? Kemungkinan-kemungkinan apapun bisa jadi ada, tapi memang spionase dan sabotase sulit dibuktikan, kecuali terbongkar dan ditulis/diberitakan oleh 'media populer'. Namun sebagai seorang muslim tetap harus mewaspadai hal ini.

NIC menyatakan: "A New Caliphate provides an example of how a global movement fueled by radical religious identity politics could constitute a challenge to Western norms and values as the foundation of the global system" [Maping The Global Future: Report of the National Intelligence Council's 2020 Project].

AS menyambutnya dengan cemas, mereka menjatuhkan mental umat dengan mencuri start dan membuat khilafah palsu di Iraq. Beberapa dari umat pun tergiur untuk ikut membaiat. Namun faktanya jauh dari Khilafah yang diperjuangkan para pengemban dakwah.

Upaya-upaya menghalangi dakwah Khilafah ini tidak pernah berhenti. Alienasi para pengembannya serta ajaran Khilafah terus dilakukan. Termasuk saat umat Islam harus dihadapkan pula dengan kengerian serangan virus Covid-19.

Ditutupnya masjid-masjid, dihentikannya sholat Jum'at sementara, serta ketidak-bolehan mengadakan perkumpulan-perkumpulan setidaknya ini secara tidak langsung memberi nilai positif bagi pembenci dakwah Khilafah.
Oleh karena itu dalam kondisi pandemi ini bukan berarti dakwah juga berhenti. Para pengemban dakwah dan kutlah dakwah ideologis berupaya memulihkan kepercayaan umat agar euforia dan kesadaran kembali pulih, dan dakwah Khilafah terus membumi.

B. Strategi Umat Islam Dalam Menghadapi Tantangan Dakwah Khilafah

Terkait dengan kebangkitan kembali sistem pemerintahan khilafah, Rasululloh pernah bersabda:

"Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu  Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zhalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada.  Selanjutnya  akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.”
(HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430), Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796))

Para ulama pun menjadikan hadits yang agung di atas sebagai bisyârah tegaknya kembali periode Khilafah di atas manhaj kenabian, dimana hadits yang agung ini mengandung informasi penting mengenai lima periode kepemimpinan politik yang akan dialami oleh kaum Muslim sejak masa kenabian, yakni:

1. Periode Kenabian (Nubuwwah);
2. Periode Khilafah yang Tegak di Atas Manhaj Kenabian (Khilâfat[an] ’alâ Minhâj al-Nubuwwah);
3. Periode Penguasa yang Zhalim (Mulk[an] ‘Âdhdh[an])
4. Periode Penguasa yang Diktator (Mulk[an] Jabriyyat[an]);
5. Periode Khilafah yang Tegak di Atas Manhaj Kenabian (Khilâfat[an] ’alâ Minhâj al-Nubuwwah)

Ketika musuh-musuh Islam berupaya sekuat tenaga untuk menghalangi tegaknya Khilafah dengan cara mereka, maka kita yang menyadari betapa Khilafah ajaran Islam ini sangat urgent untuk bisa memutus mata rantai kedzoliman terhadap umat Islam. Maka umat pun harus dibangun kesadarannya.

Di saat pandemi seolah-seolah aktivitas sosial berhenti, namun di era digital saat ini, informasi apapun bisa disebarluaskan. Banyak cara yang bisa kita lakukan dengan kecanggihan teknologi. Salah besar jika kita harus menyalahkan virus. Bagaimanapun tersebarnya virus tersebut adalah ketetapan Allah. Semua atas izin Alloh, bukan?

Untuk tetap istiqomah dalam membumikan sistem khilafah melalui dakwah, setidaknya ada beberapa hal yang harus terus dilakukan umat Islam, antara lain:

a. Meningkatkan taqarub Ilallah.
Umat Islam harus semakin mendekatkan diri kepada Allah. Menginstropeksi diri dan bertaubat mungkin kita masih melakukan hal-hal yang diharamkan Allah.

Setidaknya dengan dekat dengan Allah menjaga kewarasan kita. Sehingga dakwah dan aktivitas lainnya masih terus bisa dilakukan dengan segala keterbatasan.

b. Jaga adab dalam dakwah
Memang dakwah via sosmed menjadi pilihan alternatif ditengah mengganasnya serangan virus Covid 19. Belajar dari kasus Ali Baharsyah maka banyak rambu-rambu yang harus dipatuhi sehingga dakwah aman, opini tersampaikan.

Karena bagaimanapun UU ITE terus bergentayangan mencari mangsa, sehingga bagi para pegiat sosmed harus berhati-hati dan bijak. Tetap santun dalam mengkritik penguasa karena mereka mempunyai kekuasaan, mengendalikan hukum sekaligus menerapkan kepada siapa pun yang dikehendaki. Kita berharap ditegakkan prinsip equality before the law tetapi yang muncul adalah hukum pisau dapur (downward law is greater than upward law) bahkan terkesan "the haves always come out ahead". Kita budayakan kritik tetapi tetap konstruktif. Menusuk tetapi tidak melukai, menyengat tanpa meninggalkan bekas lebam.

IV. Penutup

Ada beberapa hal yang bisa disimpulkan dari paparan diatas yaitu:

1. Ada dan tidaknya konspirasi seharusnya ghiroh menegakkan hukum Alloh melalui dakwah khilafah menjadikan pengemban dakwah terus secara masif menyadarkan umat atas urgensi khilafah dalam peradaban umat Islam sedunia.

2. Meski dalam masa pandemi corona kita dianjurkan untuk Work From Home, Dakwah From Home, Ibadah At Home, namun pengemban dakwah dan umat tidak boleh berpangku tangan menyadarkan umat meraih Islam kaffah. Terus menebar kebaikan ditengah keterbatasan dengan tetap menjaga adab. Kritik yang membangun adalah kritik yang konstruktif dengan terus memupuk semangat keberanian dan jiwa pejuang kebenaran dan keadilan (braveness and vigilante).

#LamRad
#LiveOppressedOrRiseUpAgainst


No comments:

Post a Comment

Adbox