Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Sunday, March 15, 2020

Sekularisme, Dalang Di Balik Psikopat "Ingusan"


Oleh: Pipit Agustin

Kematian adalah musibah. Akan tetapi musibah yang lebih dahsyat adalah matinya hati nurani. Kasus demi kasus kekerasan terhadap anak kembali terjadi. Mirisnya, Indonesia tidak belajar dari dua kasus yang mendunia pada 2014 dan 2015 silam. Seperi dilansir Liputan6.com (02/08/2019), dua dari lima kasus pembunuhan kategori anak tersadis di dunia terjadi di negeri ini. Adalah kasus Yuyun dan Angeline  menghebohkan dunia. Hari ini, mengulang kasus keduanya, seorang balita (APA)  tewas di tangan tetangganya sendiri, (NF) remaja putri 15 tahun dengan cara ditenggelamkan di bak mandi dan disumpal mulutnya serta dicekik lehernya. Sadis!

Kita semua patut berduka dan menyesalkan kejadian ini. Kerusakan moral anak-anak semakin mengkhawatirkan. Akan tetapi, duka dan penyesalan saja tidak akan mampu memblokade tindak kejahatan yang dilakukan remaja dan melindungi anak-anak dari psikopat yang masih "ingusan". Lantas seperti apa sikap dan tindakan yang tepat?

Komisioner KPAI Ai Maryati yang mempertanyakan pengawasan orang tua si pelaku hingga pelaku nekat membunuh tetangganya dengan keji di rumahnya sendiri.

"Di sini tidak ada peran keluarga karena di rumah biasanya ada orangtua, apakah tidak ada pantauan orangtua atau rumah itu kosong? Ini catatan krusial sehingga ada tindakan kejahatan yang mulus tanpa diketahui orang dewasa," kata Ai kepada Kompas.com, Sabtu (7/3/2020).

Benarlah nasihat Imam Al Ghazali, "...jika anak dibiasakan berbuat jahat dan dibiarkan begitu saja seperti ternak, maka ia akan sengsara dan binasa. Dosanya pun akan dipikul oleh orang tua dan walinya."

Sudah waktunya kita menyadari bahwa dalang di balik tindak kejahatan terhadap anak adalah sekularisme. Tatanan kehidupan ala Barat kafir merusak isi kepala generasi muda. Penerapan sekularisme secara komprehensif ditambah gaya hidup pragmatis dan hedonis "menyempurnakan" jalan menuju teror humanisme.

Masyarakat di abad modern merasa terancam dengan sesamanya. Terbukti merebaknya kasus pembunuhan dan kekerasan yang menimpa. Anak bunuh orang tua atau sebaliknya,  kerabat dibunuh kerabat, kakak-adik inses, kekerasan hubungan sesama jenis, bulliying, dll. Rasa aman sirna. Ini adalah penyakit level kronis.

Tindak kejahatan yang terobsesi dari tokoh imajinatif seperti yang dilakukan NF adalah bukti industri hiburan kapitalistik yang diciptakan Barat mengandung racun. Di mana materialisme berserikat dengan kebebasan individu menumbuhkan aksi-aksi kekerasan sementara masyarakatnya cuek. Ditambah kebijakan dan undang-undang yang tabrak-tubruk satu sama lain. Belum lagi kebingungan pemerintah dalam mengkategorikan usia anak-anak dan sanksi yang tepat bagi mereka yang kedapatan melakukan kejahatan.

Oleh karena itu, penting dan mendesak untuk meringkus dalang di balik semua kefasadan ini. Lalu memutasinya dari muka bumi. Agar perilaku kejahatan terhadap anak tidak menjadi habit di masyarakat.

Sebagai gantinya, Islam memiliki daya "terapi" untuk mengembalikan peradaban yang sehat. "Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya." (HR. Daruquthni)

Islam tidak memerlukan sepeser biaya dalam merehabilitasi mental masyarakat. Akidah dan syariah Islam mengandung lima "nutrisi" penting yang dibutuhkan masyarakat agar sehat, yaitu:
(1) memelihara agama;
(2) memelihara jiwa;
(3) memelihara akal;
(4) memelihara keturunan;
(5) memelihara harta benda.

Kesemuanya itu dijamin oleh struktural (negara), bukan individu ataupun komunitas. Negara hadir menjadi pelindung dan perisai rakyat. Melalui instrumen perundangan-undangan yang bersumber dari wahyu Allah dan dicontohkan aplikasinya oleh Rasulullah dan para Khulafaur Rasyidin, nyaris tanpa cacat. Hal ini dapat dilihat dari kasus serupa sepanjang kekhilafan berdiri di muka bumi. Nyaris tidak terdengar beritanya kenakalan remaja dan anak-anak. Justru pada masa itu didominasi berita inspiratif anak-anak saleh, ulama-ulama cabe rawit, panglima-panglima belia penakluk dunia.

Hingga hari ini, prestasi itu tidak ada bandingnya. Justru bertaburan prestasi
sebaliknya, dengan jumlah yang melimpah tak terhingga. Kalaupun ada kasus di masa Islam, hal itu sangatlah kecil, bagaikan Pluto di hadapan matahari.

Mengapa bisa demikian?  Sebab visi Islam rahmatan lil'alamin measurable dan aplikable, tidak mengawang-awang sebagaimana konsep sekularisme. Sistem sosial,  politik,  ekonomi, dan hukum Islam bersinergi menemani tumbang kembang generasi. Derasnya siraman akidah mampu memblokade hasrat berbuat jahat. Spirit amar ma'ruf nahi munkar masyarakat pun bergelora sehingga mampu menghambat tindakan menyimpang atau yang dicurigai menyimpang. Dan yang tak kalah urgen, kehadiran negara sebagai benteng pertahanan, dengan mudah menghalau budaya asing yang hendak masuk, baik secara fisik maupun konten melalui media sosial.

Tidak diragukan lagi, nutrisi peradaban terjaga dalam naungan negara penjaga seperti khilafah Islam.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox