Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Wednesday, March 11, 2020

Ketika Makhluk Manis Versi Liberalis Berdalih Melawan Body Shaming



Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si
(Koordinator LENTERA)

Kasus foto tanpa busana milik seorang selebriti perempuan beberapa hari belakangan ini cukup menyita perhatian publik. Terlebih kejadiannya menjelang Hari Perempuan Internasional, 8 Maret. Tak ayal, ini seolah menjadi pesan bahwa kaum hawa harus bangga memperlihatkan bentuk asli tubuhnya tanpa harus rendah diri ketika ditujukan untuk melawan ide body shaming. Berhubung, bentuk tubuh sang aktris disebutkan tidak ideal (baca: tidak langsing). Yang katanya, ada beberapa bagian tubuh yang menunjukkan simpanan lemak, alias bergelambir.

Memang, tindakan sang aktris nampak bagai ‘kampanye’ positif. Karena body shaming sendiri pada dasarnya berkonotasi negatif. Yakni sebuah perilaku mengolok-olok bentuk tubuh orang lain. Baik dengan tujuan bercanda atau benar-benar menghina. Korban body shaming seringkali adalah perempuan gemuk. Namun hal ini juga terjadi pada kaum pria dan mereka yang bertubuh kurus. Parahnya, ketika perbuatan mengolok-olok ini terjadi di sosial media, ternyata tak jarang berubah menjadi cyberbullying. Hingga dapat menyebabkan masalah psikologis pada korbannya.

Namun demikian, tindakan sang aktris tersebut juga tak dapat dibenarkan. Dan hendaknya publik tidak menelan pesan sang aktris secara mentah-mentah. Apalagi, kalangan pekerja seni memang dikenal sebagai pihak yang vokal menyuarakan kebebasan perempuan. Bagi mereka, bidang seni adalah ruang yang terbuka lebar bagi perempuan untuk bebas berekspresi. Apakah mereka hendak berlenggak-lenggok sedemikian gemulai, berdandan sebegitu menornya, beradegan tak senonoh (baca: porno), hingga berpose tanpa busana sekalipun, menurut kesenian perbuatan-perbuatan itu sangat dibolehkan.

Tak ayal, ini pun berkelindan dengan topik Hari Perempuan Internasional 2020. Untuk menyambutnya, Netflix dan UN Women, badan PBB yang fokus pada kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menggandeng insan perfilman dalam rangka menyajikan sejumlah film ‘bagus’ tentang perempuan dengan beragam ceritanya.

Menurut Anita Bhatia, Wakil Direktur Eksekutif UN Women, kolaborasi ini untuk memunculkan isu-isu yang selama ini tidak terlihat dan membuktikan bahwa hanya dengan benar-benar melibatkan perempuan dalam film, dalam proses pembuatannya, serta dalam narasi kita secara keseluruhan, maka masyarakat dapat sungguh-sungguh berkembang.

Mencermati hal ini, jelas semua isu yang mereka usung secara internasional ini bermuatan liberal. Serba bebas. Serba boleh. Termasuk boleh menampilkan segala bentuk perbuatan si makhluk manis perempuan, tanpa batas. Ini benar-benar cara pandang khas kaum liberalis. Dan atas dalih apa pun, cara pandang ini tak layak dibenarkan, kendati untuk melawan body shaming. Lebih-lebih peristiwa ini terjadi di negeri muslim terbesar di dunia. Mau tak mau, ini adalah bencana.

Perempuan, sebagai subyek kehidupan di muka bumi ini, bagaimana pun mereka adalah salah satu jenis makhluk ciptaan Allah SWT. Yang berdasarkan konsekuensinya, harus terikat dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT bagi mereka. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنزَلَ مِن قَبْلُ وَمَن يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (TQS An-Nisa [4]: 136).

Dan melalui lisan Rasul-Nya ﷺ, juga disebutkan aturan bahwa: “Sesungguhnya seorang anak perempuan jika telah haid (baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali wajah dan kedua tangannya hingga pergelangan tangan.” (HR Abu Dawud).

Ini artinya, iman kepada Allah adalah suatu keharusan. Maka wajib bagi setiap muslim untuk beriman kepada syariat Islam secara total. Karena seluruh syariat ini telah tercantum dalam Al-Quran dan dibawa oleh Rasulullah ﷺ. Apabila tidak beriman, berarti seseorang itu telah kafir.

Dan sungguhlah, iman kepada syariat Islam ini tidak cukup dilandaskan pada akal semata. Melainkan harus disertai sikap penyerahan total dan penerimaan secara mutlak terhadap segala yang datang dari sisi-Nya. Allah SWT berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (TQS An-Nisa [4]: 65).

Demikian halnya firman Allah SWT:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (TQS Al-Ahzab [33]: 36).

Oleh karena itu, penolakan seseorang terhadap hukum-hukum syara' secara keseluruhan, atau hukum-hukum qath'iy secara rinci, dapat menyebabkan kekafiran. Baik hukum-hukum itu berkaitan dengan aqidah, akhlaq, ibadah, muamalah, 'uqubat (sanksi), makanan, minuman, maupun pakaian. Ingkar pada satu ayat, sama saja kufur kepada ayat yang lain.

No comments:

Post a Comment

Adbox