Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, March 17, 2020

Dari Corona Sampai Agenda Imperialis Global Amerika?



Ilham Efendi
(Center of Global Political Analysis)

Penularan virus corona di seluruh dunia telah menembus 152 negara. Seiring dengan itu, jumlah pasien yang dinyatakan sembuh dari virus yang awalnya menyebar di Kota Wuhan, China, tersebut juga semakin banyak.

Ada sejumlah kekhawatiran Amerika Serikat menggunakan epidemi virus corona untuk memajukan agenda imperialis di berbagai wilayah dunia.

Apakah ini hanyalah cara lain untuk melakukan penetrasi intelijen militer Amerika Serikat yang lebih dalam ke benua? Ini adalah pertanyaan yang penting. Satu-satunya cara di mana penyakit ini dapat diatasi adalah melalui proliferasi tenaga medis, dokter yang terlatih, perawat, pengembangan rumah sakit lapangan dan klinik, dan itu melalui proses inilah penyakit itu dapat diatasi. Alasan mengapa penyakit ini memiliki dampak yang demikian traumatik di negara - negara berkembang adalah kenyataan bahwa kurangnya fasilitas kesehatan yang memadai di berbagai negara itu – fasilitas penelitian yang memadai – sehingga penyakit ini dapat diatasi dengn baik melalui penelitian serta melalui perawatan medis.

Mengingat penyakit ini adalah ancaman tidak hanya bagi warga China, tetapi juga menjadi ancaman internasional karena tidak ada cara itu dapat untuk mengatasi secara ketat penyakit itu di seluruh dunia.

Ingat, dalam prinsip kapitalisme tidak dirancang untuk membuat keputusan berdasarkan etika, tapi benar-benar didasarkan pada peningkatan hasil ekonomi. Dr. John Ashton, Presiden Fakultas Kesehatan Masyarakat Inggris, dengan tepat mengidentifikasi hal ini, "Kita juga harus mengatasi skandal keengganan industri farmasi berinvestasi dalam penelitian untuk menghasilkan obat dan vaksin, sesuatu yang tidak mau mereka lakukan karena jumlahnya, menurut mereka, sangat kecil dan tidak sepadan dengan investasi. Ini menunjukkan kebangkrutan moral perilaku kapitalisme yang kosong akan kerangka etika dan sosial."

Bertak belakang dengan kapitalisme, dalam Islam keberadaan obat untuk setiap penyakit dan menjaga urusan warga negara mendorong umat Islam untuk membuat kemajuan dalam penelitian medis.

Sama halnya dengan sekarang, Khilafah Ar Rasyidah di masa mendatang dapat membantu menciptakan lingkungan yang menunjang penelitian dan pengembangan. Misalnya, daripada membiarkan perusahaan mendapat insentif dari meneliti obat-obatan yang akan menghasilan keuntungan kembali, Daulah Islam dapat menyediakan dana penelitian yang akan dipersaingkan perusahaan-perusahaan swasta.

Dengan cara ini, Khilafah dapat mengarahkan jenis investasi yang diperlukan. Dana dapat diambil dari Baitul Mal dan dalam situasi genting pajak darurat dapat dibebankan kepada orang-orang sebagai dana untuk mencukupkan penelitian dan pembuatan obat yang penting. Hal ini akan menjadi proses yang jauh efisien daripada sistem saat ini, yang memberi peluang perusahaan-perusahaan swasta memutuskan apa yang harus dikembangkan berdasarkan keuntungan finansial mereka. Pada akhirnya, biaya riset dan pengembaangan masih diteruskan kepada para pembayar pajak dan uang pajak tersebut digunakan pemerintah untuk membayar harga pengobatan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan swasta. Sebagai contoh, di Inggris, pengobatan untuk kanker prostat yang disebut Casodex 150mg berharga £240 untuk 28 tablet sedangkan versi generiknya hanya £9,73 untuk jumlah yang sama. Perbedaan senilai £230,27 dimaksudkan untuk menutupi biaya riset dan pengembangan yang menggelembung. Tentu ini untuk memberikan keuntungan yang banyak bagi perusahaan-perusahaan farmasi.

Di samping itu, tidak hanya menyediakan cara yang efisien untuk meneliti dan mengembangkan obat-obatan yang penting, dalam Khilafah juga akan memungkinkan persilangan teknologi. Perusahaan-perusahaan lain tidak akan dibatasi oleh adanya sistem paten regresif. Jadi, negara Khilafah akan memberikan alternatif yang jelas atas kegagalan sistem Kapitalisme.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox