Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Sunday, March 15, 2020

Corona, Krisis Finansial Global, dan Bobroknya Peradaban Kapitalisme



Fajar Kurniawan
(Analis Senior PKAD)

Virus korona menyebar dengan cepat ke banyak negara, Amerika dan negara - negara di Eropa tidak luput dari hantaman virus tersebut. Virus Corona (Covid-19) bisa berdampak memukul pertumbuhan ekonomi cukup berat. Pertumbuhan ekonomi global di triwulan pertama di tahun 2020 tampak melambat, dikhawatirkan krisis keuangan pada 2008 terulang kembali.

Menkeu Sri Mulyani memperkirakan wabah virus novel Corona berdampak pada pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan akan melambat menjadi 2,8 persen dan pertumbuhan ini akan sama atau seperti terjadi pada tahun 2008 dan 2009 dimana terjadi krisis keuangan global.

Berkaca pada tahun 2008, situasi saat ini mampu menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat pada lembaga keuangan termasuk pada pemerintah dengan sistem perekonomian neo-liberalnya yang ternyata rapuh. Sebuah gambaran yang tragis bagi sebuah imperium bernama AS, yang selalu sesumbar dengan sistem perekonomian kapitalis yang disebarkannya ke seluruh dunia, ternyata tak mampu menolong perekonomian di negerinya sendiri ketika terancam kebangkrutan.

Apa yang terjadi pada Lehman dan Merrill Lynch pada saat itu, hampir bisa dipastikan mempunyai dampak bagi perekonomian di seluruh dunia. Selain goncangan di bursa efek lokal di negara yang bersangkutan, kemungkinan akan terjadi "Flight to safety" yaitu timbulnya aliran dana besar yang 'terbang' dari investasi yg beresiko pindah mencari instrumen aman, seperti obligasi pemerintah. Sudah menjadi sifat alami 'investor' bahwa ketika kondisi di pasar sangat mengkhawatirkan, kebanyakan orang akan lari 'mencari aman'.

Bagi Indonesia , jika Flight to Safety ini benar terjadi, sebagian investor asing akan keluar dari bursa untuk sementara waktu.  Namun, mereka masih bertahan di Indonesia dan mengalihkan sebagian portofolio ke pasar uang, Surat Utang Negara (SUN), dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Mereka menilai, bursa AS belum juga stabil. Investor asing tetap menilai pasar uang dan surat utang di Indonesia cukup menarik sebagai alternatif portofolio saham.

Namun perlu dicatat, kerapuhan ekonomi dunia bermula dari asas kapitalisme modern saat ini dibangun dengan non real based economy (ekonomi berbasis sektor non riil). Artinya, kapitalisme dominannya bermain dalam investasi spekulatif melalui sektior non riil
(keuangan), misalnya melalui kredit perbankan serta jual beli surat berharga seperti saham dan obligasi (Harahap, 2003). Dalam ekonomi berbasis sektor moneter/keuangan inilah, kapitalisme tidak dapat dilepaskan dengan bunga (riba).

Kapitalisme telah melahirkan sejumlah "kebijakan destruktif" yang kemudian dijajakan oleh Barat, terutama Amerika Serikat ke berbagai negara di dunia. Kebijakan tersebut nyaris diadopsi oleh sebagian besar negara di dunia termasuk di dalamnya negeri-negeri Islam.

Salah satu kebijakan tersebut adalah Kebijakan Pasar Modal. Pasar modal berupa pasar-pasar saham, surat berharga, dan mata uang. Pasar ini menjadi alat kriminal para investor raksasa untuk meraup keuntungan besar tanpa investasi yang riil. Kegiatan perekonomiannya bertumpu pada sektor ekonomi non-riil, yang pijakannya terletak pada kompetisi tidak seimbang yang mirip dengan perjudian, undian, dan penipuan.

Saat ini, perdagangan di sektor non-real ini telah sedemikian jauhnya, sehingga nilai trasanksinya berlipat ganda melebihi nilai sektor real. Hampir semua negara di dunia ini terjangkit bisnis spekulatif seperti perdagangan surat berharga/utang di bursa saham (stock exchange) berupa saham, obligasi (bonds), commercial paper, promissory notes, dsb.; perdagangan uang di pasar uang (Money market); serta perdagangan derivatif di bursa berjangka. Sistem ekonomi non riil ini berpotensi besar untuk meruntuhkan sistem keuangan secara keseluruhan.

Bursa saham yang merupakan barometer aktivitas perkonomian suatu negara tidak lebih dari sekedar arena kasino yang penuh berisi aktivitas seperti perjudian spekulasi. Dan spekulasi itulah dulu yang mengambrukkan pasar saham AS pada tahun 1929 yang menimbulkan depresi besar- besaran selama kurang lebih 10 tahun. Dan kini kondisi itu terulang kembali.

Walhasil, Kapitalisme menunjukkan kerapuhannya dalam menopang ekonomi dunia. Kerapuhan itu berlangsung tidak hanya di negara-negara miskin dan berkembang, tapi juga di negara-negara maju yang menjadi pengusung ideologi tersebut.Dan kapitalisme dengan ekonomi sektor non riilnya terbukti tidak mampu menyejahterakan umat manusia. Bangunan ekonomi spekulan itu hanya menguntungkan kalangan pemilik modal dan kaum borjuis. Oleh karena itu, agar terhidar dari kehancuran yang lebih besar, sudah saatnya kita harus melepaskan diri dari jerat kapitalisme global.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox