Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Saturday, February 15, 2020

Stop Bullying dengan Islam


Oleh: Anggie Sasmita
(Aktivis Muslimah Sukabumi)

Akhir-akhir ini viral beredar video yang berisikan adegan bullying terhadap seorang siswi. Dalam video tersebut, tiga siswa laki-laki memukuli dengan tangan, gagang sapu, dan menendang seorang siswi yang diduga terjadi di dalam ruang kelas.

Siswi yang dipukuli tampak diam saja sembari memegang perutnya yang terlihat kesakitan.

Sementara itu, ketiga siswa SMP itu senyum semringah saat menganiaya siswi tersebut.

Dari keterangan pelaku yang diperiksa oleh polisi, peristiwa itu diduga dilatarbelakangi rasa sakit hati ketiganya yang dilaporkan oleh korban kepada gurunya.

Korban mengadu kepada gurunya karena sempat dimintai uang oleh para pelaku.
(Dikutip dari Kompas.com 13/02)

Kasus bullying di atas hanyalah satu dari banyaknya perilaku bullying yang terjadi dalam beberapa bulan ke belakang. Belum lama jagat maya juga dihebohkan oleh berita kasus bullying yang mengakibatkan 2 jari siswa SMP di Malang harus diamputasi. Dan yang lebih tragis lagi dirilis dari MATA INDONESIA, JAKARTA – Seorang siswi SMPN 147 Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur berinisial SN (14) tewas setelah melakukan percobaan bunuh diri di sekolahnya, Selasa, 14 Januari 2020. SN diduga menjadi korban bullying oleh teman-temannya.

Perilaku bullying sebenarnya adalah fenomena gunung es. Yang terjadi di lapangan jauh lebih banyak dibanding yang terdata dan masuk berita menjadi pembahasan publik.

Tingginya kasus bullying di Indonesia secara tidak langsung juga mempengaruhi kualitas belajar para siswa. Fakta menyebutkan, lebih dari 160.000 anak membolos setiap harinya untuk menghindari bullying. Lalu, hampir 10% siswa memutuskan untuk keluar sekolah atau pindah sekolah dengan alasan serupa. Selain kualitas belajar yang menurun, bullying juga menimbulkan dampak psikologis.

/Kenapa bullying?/

Maraknya kasus bullying yang dilakukan pelajar, menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Ada apa dengan mental pelajar? Begitu mudahnya mereka mengekspresikan kekecewaan, rasa marah, hingga kebencian dengan perilaku yang menyakiti orang lain.  Setidaknya ada tiga pemicu perilaku bullying yang merajalela.

Pertama, minimnya edukasi dalam proses pencarian jati diri. Muhammad Iqbal, yang juga berprofesi sebagai dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana mengungkapkan, bahwa bullying dilakukan pelaku karena mereka sedang melakukan proses pencarian jati diri tanpa mampu mengontrol emosi dan pola pikir mereka. Sehingga perlu adanya langkah yang ditempuh negara untuk menuntaskan kasus kekerasan terhadap anak. Butuh adanya sinergi antara negara, anak, dan keluarga (Viva.co.id, 23/7/2017)

Kedua, dampak sosial media. Psikolog klinis Dr. M.M. Nilam Widyarini, M.Si menyatakan media sosial perlahan mengalami pergeseran fungsi. Keberanian orang untuk mem-bully dan nyinyir karena tidak terjadinya komunikasi secara tatap muka. Komunikasi melalui Internet memungkinkan terjadi deindividualisasi, kondisi ketika identitas seseorang tidak mudah dikenali karena memakai nama samaran.

Tak heran kalau media sosial dimanfaatkan para pelaku bullying sebagai pabrik kebencian. Inilah yang akhirnya membuat orang jauh lebih berani, frontal, galak, dan senang menghujat ketika berada di media sosial.

Ketiga, kekurangan kasih sayang dalam keluarga. Anak-anak yang jarang dipeluk, dicium, dan diperhatikan orangtuanya akan mengalami kondisi skin hunger (kelaparan kasih sayang). Keadaan ini membuat anak sulit membayangkan rasanya cinta, kasih sayang, dan berempati pada orang lain. Ruang batin anak-anak seperti ini kering dan malah hanya diisi dengan kesedihan bahkan dendam. Mereka sedih karena tak bisa merasakan kasih sayang seperti anak-anak lain, dan juga merasa dendam pada siapa saja yang ia anggap melukai hatinya.
Kasih sayang itu amat bermanfaat bukan saja mengisi ruang batin anak, tapi juga sekaligus sebagai kendali dan rem agresifitas seorang anak. Kecukupan kasih sayang pada seorang anak membuat ia tak mudah melampiaskan amarah apalagi menyakiti orang lain, karena ia bisa khawatir hal itu juga menimpa dirinya.

Keempat,  Pembiaran oleh sistem. Ya, hampir setiap ada kekerasan bahkan berakibat kematian yang dilakukan pelajar selalu ada excuse, pemakluman dan pengecualian. Pelaku tidak dipenjara, tapi diberikan perlakuan khusus yakni dianggap sebagai anak-anak. Minim efek jera. Sehingga memungkinkan remaja lainnya berbuat hal yang sama.

Terakhir, maraknya bullying oleh siswa di tanah air, juga cerminan arah dan pola pendidikan nasional masih bermasalah dan sistem sosial masyarakat yang kacau. Pendidikan nasional gagal membentuk karakter siswa berakhlak mulia, apalagi relijius. Ini semua karena sekulerisme menjadi pijakan bangsa ini termasuk dalam dunia pendidikan. Pelajaran agama minim dan sebatas teori, bukan untuk membentuk karakter yang berakhlak luhur.

Kasus bulying seperti mata rantai yang terus terjadi setiap tahun. Pelaku bullying biasanya pernah jadi korban, sehingga ada ‘dendam kesumat’ yang terbawa hingga dewasa. Kalau tidak segera diputus, mata rantai bullying terus lestari dan bisa mengancam generasi muda.

/Bullying dalam Pandangan Islam/

Dalam Islam, bullying sangatlah dilarang, sebagaimana firman Alloh SWT

“Hai orang – orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula suka sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang zalim”. (QS. Al-Hujarat [49]: 11)

Dari ayat di atas sangat jelas bahwa kita dilarang merendahkan, melecehkan, mencaci dan memaki sesama walaupun mereka memiliki kekurangan fisik sekalipun. Karena semua manusia sama di hadapan Alloh yang membedakannya hanya ketakwaannya bukan bentuk fisiknya.

Dalam hal ini semestinya negara perlu mengambil peran dalam menyeleksi segala macam pengaruh media. Begitu pun dengan masyarakat, mereka juga memiliki tanggung jawab untuk saling menasihati, mengajak kepada kebaikan, dan mencegah tindakan yang buruk. Sebab, apabila hanya orang tua saja yang berusaha membentuk generasi muda sedangkan kondisi lingkungan masyarakat dan negaranya tidak mendukung, maka tidak menutup kemungkinan, anak akan mudah terkontaminasi oleh pengaruh buruk dari lingkungan sekitar.

Peran orang tua pun sangat penting. Ketika anak mencari jati dirinya, maka orang tua selayaknya membantu anak dalam mencari jati dirinya. Jangan sampai, anak bingung dalam menentukan jati diri yang notabenenya mereka adalah seorang muslim, sehingga akhirnya melakukan tindakan yang tidak patut. Ibu, sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya harus mampu membentuk pondasi aqidah yang kuat dan pemahaman yang benar tentang jalan hidup mereka yang telah Allah tentukan. Begitu pun Ayah, semestinya dapat ikut serta dalam melakukan pengasuhan di dalam rumah.

Ketika negara, orangtua dan lingkungan dalam hal ini masyarakat sekitar dapat bersinergi, masalah bullying tentu akan lebih mudah diatasi. Mewujudkan generasi yang sholih dan sholihah tak akan menjadi hal yang sulit. 

Tentu saja sinergitas ketiga elemen ini akan menjadi sempurna jika di dalamnya diterapkan aturan Islam secara menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan. 

Wallahua'lam.[]


No comments:

Post a Comment

Adbox