Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, February 4, 2020

Sistem Khilafah Itu Merusak, Benarkah?


Oleh : Achmad Fathoni
(Direktur el-Harokah Research Center)

Sebagaimana diberitakan pada laman www.kumparan.com pada 3 Januari 2020 bahwa Meko Polhukam Mahfud MD menegaskan bahwa tak akan ada lagi bentuk ajaran khilafah yang terus didengungkan oleh sejumlah ormas agama. Selain berseberangan dengan dasar negara, ajaran khilafah tersebut bersifat merusak tatanan bernegara yang telah lama digunakan di Indonesia. Hal tersebut disampaiakan Mahfud usai menerima kunjungan perwakilan Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI). “Sistem khilafah yang sekarang yang ditawarkan yang sebenarnya itu agendanya merusak,” ujar Mahfud di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jum’at (3/1).

Tentu saja pernyataan ngawur tersebut patut dikecam dan ditolak dengan keras oleh publik, terutama umat Islam. Karena jelas pernyataan tersebut sangat tendensius, ahistoris, dan merupakan fitnah keji terhadap khilafah, yang merupakan salah satu bagian ajaran Islam yang sangat penting. Pernyataan membabi-buta tersebut, sejatinya tidak layak keluar dari lisan pejabat publik yang masih mengaku dirinya seorang Muslim. Jelas, dia menunjukkan sikap yang tidak adil dan tidak fair, dan ditengarai sedang mengidap penyakit simdrom Khilafah phobia (ketakutan yang berlebihan) terhadap sistem Khilafah. Dia hanya bersikap garang terhadap khilafah Islam, namun hanya bersikap diam terhadap kejahatan sistem kapitalisme-demokrasi yang dipraktikkan negara-negara Barat beserta penguasa komprador di seluruh belahan dunia.

Semisal, kekejaman negara Israel terhadap kaum Muslimin di Palestina, kekejian negara AS terhadap warga negara Irak, pembersihan etnis Muslim Rohingnya di Myanmar, di Uighur (Cina), di Kashmir (India), dan tentu masih banyak lagi kekejian-kekejian yang lain. Dengan kejadian tragedi kemanusiaan yang nyata di depan mata itu, Mahfud MD nyaris tak terdengar suaranya.

Sebaliknya, justru Khilafah Islam dalam sejarahnya telah menebarkan kebaikan bagi umat manusia di berbagai belahan dunia, termasuk di Nusantara, dia tentang habis-habisan, bahkan dia tuduh sebagai sistem yang merusak. Ini tentu sangat ironis. Untuk itu, berikut penulis uraikan beberapa fakta kemuliaan khilafah yang patut menjadi perhatian semua pihak, agar bisa menilai pernyataan tak bermutu Mahfud MD tersebut, antara lain sebagai berikut.

Pertama, dalam sejarah khilafah sangat berjasa bagi negeri ini. Di era yang lalu, pada masa pemerintahan Khilafah Utsmaniyah pernah berjasa dalam membantu rakyat Nusantara saat terjadi bencana banjir di Batavia, ketika masa penjajahan Belanda. Tepatnya pada tahun 1916. Sultan Mehmed V mengirim bantuan 25.000 Kurush koin emas, yang senilai dengan 91.500 US dollar atau sekitar 1,2 milyar. Tentu saja pemberian bantuan itu didorong oleh semangat membantu meringankan saudara sesama Muslim yang mengalami musibah. Arsip pengiriman bantuan milik Khilafah Utsmaniyah ini masih tersimpan rapi sampai sekarang di Turki. Inilah bukti bahwa rakyat Nusantara atau Indonesia sangat berhutang jasa dan kebaikan kepada Khilafah Islamiyah yang waktu itu direpresentasikan oleh Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Istambul Turki.

Fakta sejarah yang lain yaitu ditemukannya sebuah arsip Khilafah Utsmani yang berisi sebuah petisi dari Sultan Alaudin Riayat Syah kepada Sultan Sulaiman al-Qanuni yang dibawa oleh Husein Effendi. Dalam surat ini, Aceh mengakui penguasa Utsmani sebagai Khalifah Islam. Selain itu, surat ini juga berisi laporan tentang aktivitasa militer Portugis yang menimbulkan masalah besar terhadap para pedagang Muslim dan jamaah haji dalam perjalanan ke Mekkah. Karena itu, bantuan Khilafah Utsmani sangat mendesak untuk menyelamatkan kaum Muslim yang terus dibantai Farangi (Portugis) (Sumber: Farooqi, “Protecting the Routhers to Mecca”, hal. 215). Dan tentunya masih banyak fakta sejarah yang lain, yang menunjukkan jasa Khilafah Islam di masa lalu terhadap negeri ini.

Kedua, khilafah telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi kemajuan dan kesejahteraan dunia. Pernyataan yang menyatakan bahwa khilafah itu bersifat merusak merupakan pernyataan yang ahistoris dan merupakan fitnah yang jahat. Mereka sengaja menutupi kontribusi Khilafah yang sangat besar terhadap Barat dan Timur. Misalnya:

 (1) di Barat, Khilafah pernah membebaskan daerah-daerah jajahan Romawi. Atas permintaan rakyat yang daerahnya akan ditaklukkan Romawi, mereka lebih senang menjadi bagian Khilafah Islam daripada dikuasai Romawi, yang menerapkan pajak dan upeti yang mencekik rakyat yang dijajah. Sebaliknya negeri-negeri yang dibebaskan khilafah Islam diperlakukan adil bahkan diberikan kesejahteraan, kemajuan, dan kedamaian yang tiada tara,

(2) Khilafah juga pernah membebaskan rakyat Eropa dari bencana kelaparan besar (The Great Famine). Juga bencana kelaparan di Amerika selama masa perang AS-Inggris demi merebut kemerdekaan AS dari penjajah Inggris. Juta-an orang akan mati, jika bantuan bahan makanan dari Khilafah tidak segera disalurkan. Bahkan perjanjian yang diberikan ditandatangani dalam sebuah surat dengan menggunakan Bahasa Arab,

(3) di Timur, atas permintaan para Sultan di Sumatera, Khilafah Utsmaniyah mengirim kapal induk militernya untuk mengusir penjajah Portugis dari Malaka. Kisah heroic yang menggelora tersebut masih tersimpan dalam sejarah rakyat Indonesia,

(4) Benua Afrika pernah menjadi benua “emas” pada masa Khalifah Umar bib Abdul Aziz, rakyat di sana mengalami kesejahteraan yang sangat tinggi, dengan ditandai tidak ditemukannya orang miskin di sana, bahkan rakyat tidak ada yang bersedia menerima zakat, karena mereka telah kaya,

(5) jasa khilafah juga banyak dalam kemajuan ilmu pengetahuan modern. Banyak ilmuan Muslim yang menjadi Bapak Ilmu Pengetahuan, miasalnya: Ibn Khaldun (bapak Ilmu Pemerintahan), Al-Khawarizmi (Bapak Ilmu Matematika, Penemu angka nol), Ibn Sina (Bapak Kedokteran Dunia),

(6) dalam bidang pendidikan, Universitas Al Azhar di Kairo adalah universitas pertama di dunia yang ada Mesir. Al-Azhar adalah cikal bakal sistem universitas di dunia. Karena kemajuan Khilafah, banyak sarjana Barat yang kuliah di kota-kota Khilafah Islam ketika itu,

(7) dalam bidang sanitasi dan peradaban, Khilafah Islamiyah saat itu menjadi rujukan sanitasi kota di dunia. Banyak kalangan penduduk Eropa yang mengikuti gaya hidup Islam (Islamic Life Style). Misalnya, berpakaian panjang ala gamis di kalangan para raja, bangsawan, dan rakyat biasa. Hingga tahum 1900-an para pekerja di Eropa masih menggunakan “khimar” atau penutup kepala lengkap. Bahkan Raja Roger II dari Sisilia memesan globe pertama di dunia dalam bentuk emas lengkap dengan peta negara-negara dari seorang ilmuwan Muslim yang bernama Al-Idrisi, saat itu belum ditemukan teknologi pemotretan luar angkasa.   

Ketiga, khilafah merupakan keniscayaan di era modern saat ini. Saat ini, sistem kapitalisme dan Sosialisme telah gagal dalam menyejahterakan dunia, maka sistem Khilafah-lah yang menjadi solusi tuntasnya. Karena hanya khilafah satu-satunya sistem yang secara konseptual dan empiris  terbukti dalam sejarah telah mampu menyejahterakan umat manusia di berbagai belahan dunia. Bahkan kembalinya sistem Khilafah yang kedua telah diprediksi para pemikir Barat. The National Intelligence Council (NIC) CIA pada Desember 2004 memprediksi bahwa tahun 2020-an akan muncul ‘A New Chaliphate’ (Khilafah Baru) di pentas dunia. Laporan itu dipublikasikan setebal 123 halaman dengan judul “Mapping The Global Future”.

Di dalam laporan tersebut dijelaskan tentang kebangkitan kembali Khilafah Islam, yakni Pemerintahan Global Islam yang akan mampu melawan dan menjadi tantangan nilai-nilai Barat. Untuk itu, semua pihak yang mau berpikir jernih, objektif, dan visioner tentu harus menyiapkan diri menyongsong kembalinya sistem khilafah yang akan memimpin dunia di masa mendatang dan yang akan menghentikan hegemoni Barat terhadap negeri-negeri Muslim dan negara-negara dunia ketiga. Dan sebaliknya Khilafah akan menghantarkan kemajuan, kedamaian, dan keadilan di permukaan bumi ini sebagaimana telah diwujudkan Khilafah di masa lalu.

Dengan demikian, pernyataan Mahfud MD yang menuduh sistem khilafah itu adalah sistem yang merusak dan membahayakan negeri ini, tertolak secara diametral baik secara konseptual maupun empiris serta historis. Maka publik harus tegas menolak dan membuang jauh-jauh pernyataan tersebut. Karena pernyataan tersebut hanyalah ilusi dan pembohongan terhadap publik tentang kemuliaan dan kebaikan Khilafah. Wallahu a’lam.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox