Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Friday, February 28, 2020

Penindasan Muslim India, Potret Umat Muslim Kehilangan Perisai


Oleh: Diyana Indah Sari
(Analis Muslimah Voice)

Betapa menyayat hati kabar terbaru akhir-akhir ini. Belum usai kisah penindasan umat muslim di Palestina, Suriah, Uyghur, kini berlanjut pada umat muslim di India. Keberadaan umat muslim sebagai minoritas di beberapa negara terus ditekan dan dikecam. Umat muslim diperlakukan tidak adil dan semakin ditindas.

Peristiwa pilu pada umat muslim india yang mendapat kekerasan dari umat hindu dipicu oleh kontroversi Undang-Undang Kewarganegaraan di wilayah pinggiran New Delhi, India, Seperti dilansir AFP, Rabu (26/2), unjuk rasa menentang undang-undang kewarganegaraan yang disahkan dimulai sejak Minggu pekan lalu. Namun, aksi tersebut berujung bentrokan dan kerusuhan antara umat Muslim dan Hindu di wilayah timur laut New Delhi.

UU kontroversial itu mengizinkan India memberi status kewarganegaraan terhadap imigran yang menerima persekusi di negara asalnya seperti Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan. Namun, UU itu hanya berlaku bagi imigran pemeluk agama Hindu, Kristen, dan agama minoritas lainnya selain Muslim.
Beleid itu disahkan oleh pemerintahan Narendra Modi yang beraliran sayap kanan. Partai pengusungnya, Bharatiya Janata (BJP), dituduh bersikap diskriminatif terhadap umat Muslim. (https://m.cnnindonesia.com/internasional/20200226202106-113-478499/korban-tewas-kerusuhan-muslim-hindu-di-india-bertambah)

Kita dapat melihat, bagimana umat muslim sebagai minoritas di negara tersebut sangat dibenci dan diberlakukan tidak adil. Sudah banyak umat muslim diberbagai negara yang mendaptkan perlakuan buruk, yang ditindas dan terus disiksa.

Peristiwa seperti ini seharusnya membuat mata kita semakin terbuka, sudah seharusnya sebagai umat muslim saling peduli dengan saudara-saudaranya yang lain, yang mengalami nasib pilu seperti  ini.
Penindasan pada umat muslim semakin menjadi-jadi, tidak ada yang membuat mereka takut untuk melakukan kekerasan pada umat muslim. Berbagai ketidak adilan dialami oleh umat muslim, ketik umat muslim ditindas tidak ada satu negarapun yang  turun tangan untuk membantu dan membela umat muslim.

Tidak satupun pemimpin negara muslim yang mau dan berani mengirimkan pasukannya untuk membantu menyelamatkan umat muslim, dengan alasan masalah ini merupakan urusan dalam negara tersebut yang tidak boleh diintervensi negara manapun.

Penderitaan umat muslim yang tidak berada satu wilayah dibiarkan begitu saja, pembantaian umat muslim di bagian bumi yang bukan negaranya maka itu bukan bagian dari masalah muslim di negara lainnya.

Lalu bagaimana dengan HAM? Ternyata HAM hanya bungkam ketika menyaksikan umat muslim ditindas, HAM tidak menunjukan peranya membantu umat muslim yang teraniaya. Inikah yang dimaksud keadilan HAM? Kita tentu tidak bisa berharap dengan adanya HAM, karena HAM itu sendiri merupakan produk untuk memaksakan kehendak yang menyimpang, dan sekaligus menyudutkan islam. HAM juga dijadikan alibi untuk memaksakan kehendak minoritas atas mayoritas dengan alasan kebebasan beragama.

Dengan sistem kehidupan yang rusak, dengan diembannya kapitalis sekuleris, sistem demokrasi dan diadopsinya HAM. Umat muslim tidak akan dibiarkan hidup dengan tenang, orang-orang kafir, dan munafik serta para rezim zolim akan dengan sangat mudah menindas umat muslim dan merendahkan umat muslim. Mereka tidak ingin jika umat muslim bangkit dan bersatu. Maka dengan dipecah-pecahnya umat muslim dengan sekat-sekat negara semakin memudahkan untuk menindas umat muslim.

Peristiwa umat muslim di India ini menambah catatan panjang penderitaan umat muslim di dunia, apakah hal ini tidak membuat diri ini tergerak untuk bersama-sama mencari solusi dan mengeluarkan umat muslim dari cengkeraman kejahatan rezim zolim ini?

Tentu saja permasalahan ini tidak akan teratasi dengan konsep nation state umat islam tercerai berai dan tidak dapat saling menolong saudaranya.

Umat muslim butuh perisai, umat muslim perlu perlindungan dalam menjalankan syari'at islam secara kaffah. Dan yang menjadi perisai untuk mencegah kekejaman terhadap umat muslim adalah khilafah atas kekuasaan Allah SWT

إنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ، فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ، وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ

“Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang Imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’Azza wa Jalla dan berlaku adil, maka dia (Khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)

Dengan adanya khilafah maka umat muslim akan terlindungi, umat muslim akan bersatu dan tidak tercerai berai.
Kedilan akan ditegakkan dan kesejahteraan akan hadir atas kekuasaan Allah SWT. Oleh karena itu perlu pemahaman mengenai aqidah islam yang benar dan pemahaman islam secara menyeluruh. Sistem islam merupakan sistem yang paling haq dan aturan yang diterapkan adalah aturan paling adil karena merupakan aturan dari Allah SWT.

Sudah seharusnya kita meninggalkan ideologi kufur kapitalis sekuleris, sistem demokrasi dan sikap nasionalisme berlebih, yang hanya memberikan kerusakan dan penderitaan. Umat muslim perlu bersatu berjuang untuk menjemput khilafah, perisai umat sebagai konsekuensi keimanan dengan jalan dakwah dan jihad, mengemban ideologi islam untuk kebangkitan yang shahih.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox