Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, February 25, 2020

Pemerintah Salah Lagi Kelola Bawang Putih



Oleh : Fauziyah Ali
(Analis Muslimah Voice
Bawang putih lagi dan lagi. Tiap tahun selalu terjadi. Harga 'si seksi bawang putih' masih bikin jantungan aja. Baru-baru ini viral dibicarakan penyebab kenaikan harga bawang putih akibat Virus Corona. Karena takut tertular virus, keran  impor bawang putih dari Cina akan dihentikan. Akhirnya ada kepanikan  pasar gitu di antara importir, distributor bahkan konsumen.

Ya emang sih ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan dari China memang cukup tinggi. Untuk bawang putih aja  ketersediaannya 87% sampai 90% dari impor terutama China. Permainan pasar menjadikan harga bawang putih ini 'seksi sekali'. Emang sih gak tembus 100 ribuan kenaikan pada tribulan pertama 2020 ini. Tapi kenaikan bawang putih yang mencapai angka hampir Rp 60.000 tetep aja bikin 'ngos-ngosan' bagi masyarakat terutama  ibu rumah tangga dan pengusaha kuliner. Karena harganya jadi cenderung dipermainkan gitu. Mereka, para kapitalis memandang harga mahal nggak mahal masyarakat pasti beli. Iya nggak?

Bapak Menteri Pertanian (Mentan), sendiri mengatakan bahwa ketersediaan stok bawang putih sebenarnya cukup untuk tiga bulan ke depan. Tapi koq  mengapa harga tetap naik? Usut punya usut ternyata ini disebabkan ada kepanikan di kalangan distributor yang kemudian  menimbun bawang putih sebagai antisipasi jika keran impor bawang putih dari Cina dihentikan. Begitupun konsumen macam emak-emak karena harga terus merangkak naik, banyak emak-emak yang akhirnya 'bersegera' membeli bawang putih sebelum harga semakin naik. Inilah yang membuat harga bawang putih menjadi tinggi, begitu kata Mentan, Yasrul Yasin (detikfinance.com).

Pak mentri  mengatakan stok bawang putih masih 120.000 ribu ton. Indonesia akan panen raya sebanyak 30.000 ton. Sementara kebutuhan perbulan diperkirakan 47.000 ton. Stok ini bisa tahan selama 3 bulan ke depan. So, harusnya memang nggak panik dan nggak maksa impor. Iya nggak?

Tapi lagi-lagi pemerintah memang setengah hati dalam mengurus pangan rakyatnya. Kebijakan impor pun tetap dipilih pemerintah sebagai solusi harga pangan yang sebenarnya seringkali bukan semata-mata karena stok menipis. Tapi fokus pada impornya itu sendiri yang menguntungkan segelintir orang, para mengusaha dan penguasa yang mengambil keuntungan dari kebutuhan pokok rakyat. Sungguh teganya mereka mendzalimi rakyat.

Katanya sih harus tetep impor supaya persediaan aman sampai puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri ini. Eh ladah...emang ada jaminan stok banyak, harga pas puasa dan hari raya tidak tinggi? Ah, jangan-jangan cuma alasan aja supaya saat ini impor jadi kesannya logis. Padahal nanti pas puasa harga bawang putih tetap aja mahal 'sundul langit'

====

Bicara bawang putih pastinya bukan soal sesiung dua siung doang. Lebih dari itu terkait dengan kedaulatan pangan negeri ini. Setiap tahun pemerintah seolah 'terpaksa' impor bawang putih. Padahal ada permainan mafia didalamnya. Komoditas bawang putih ini termasuk komoditas yang dimainkan harganya, dan dianggap harus sering membawa keuntungan bagi pihak-pihak tertentu dalam jangka pendek pastinya.

Lalu bagaimana dengan nasib rakyat? Ya, nggak mereka uruslah. Rakyat hanya dianggap sebagai konsumen yang akan membeli atau pastinya pasti membeli.  Sebagaimana yang kita tahu, berapapun harganya pasti bawang putih ini dibeli sebagai kebutuhan rumah tangga.

Begini nih kalau pake  kapitalisme. Jadi yang digunakan dalam mekanisme pasar kita menguntungkan para kapital besar doang. Prinsipnya mencari keuntungan yang sebanyak-banyaknya dengan model yang semepet-mepetnya. Apalagi keuntungan itu bisa didapat dari mengelola komoditas penting yang berupa kebutuhan pokok seperti bawang putih. Negara macam apa coba yang cuma jadi regulator (penengah) doang. Seharusnya negera itu pengatur untuk mencukupi kebutuhan rakyatnya.

Gimama  mau mewujudkan swasembada pangan coba? Wong ngurusi rakyat hanya t 'setengah hati'. Pemerintah hatinya terbelah. Belahan satunya untuk rakyat. Yang satu lagi untuk pengusaha.

====

Pasti kalau tidak ada solusi mendasar ya akan berputar-putar seperti ini dan terus-menerus. Persoalan pengadaan bawang putih yang melibatkan mafia-mafia besar dalam pengelolaan pangan mustahil diselesaikan jika negera yang bertanggung jawab bukan negara yang berjalan atas sistim yang shohih yaitu Daulah Islam. Solusi Islam atas kebutuhan pokok masyarakat jelas. Negara akan menjamin ketersediaan komoditas-komoditas yang termasuk kebutuhan masyarakat. Komoditas itu akan bisa didapat masyarakat  dengan mudah dan murah.

Islam telah menjadikan negara sebagai penanggung jawab atas kebutuhan rakyat. Karena jaminan kehidupan pada negara Islam adalah individu per individu. Hal-hal yang menyebabkan tersendatnya memperoleh kebutuhan hidup menjadi tanggung jawab negara karena negara bukan hanya regulator tapi sebagai penjamin kebutuhan tiap individu masyarakat.

Sistem Islam ini akan memperhatikan betul bagaimana kebutuhan pangan didapat? Dengan cara yang halal atau tidak? Mengandung zat berbahaya atau tidak? Begitupun dalam hal distribusi. Dalam Islam dilarang penimbunan dan permainan harga maka distribusi akan lancar. Tidak akan terhambat pada orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Semua itu dilakukan oleh negara karena pengurusan umat harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Wallahu alam bisshowab.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox