Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Friday, February 7, 2020

Kemajuan Teknologi Itu Gampang, Asal Negara Bangkit Dituntun Kebangkitan Ideologi



dr. M. Amin
(Direktur Poverty Care)

Bila kita cermati, kehidupan saat ini didesain oleh kapitalisme bukan untuk menghidupkan kehidupan manusia tetapi untuk menghidupkan mesin-mesin pemutar uang. Kapitalisme menjadikan sumber daya alam bahkan sumber daya manusia sebagai aset bagi mekanisme putaran pasar/uang semata.

Walhasil intelektual diciptakan untuk menginovasi produk-produk agar laku dijual. Ilmu terdedikasi untuk bisnis: industri global. Peran negara dalam sistem kapitalisme untuk menjaga agar mekanisme pasar tersebut berjalan tanpa perlambatan. Padahal seharusnya negara punya peran untuk mengurus kemaslahatan rakyat, tidak semua hal harus dianggap berdasar kacamata bisnis.

Adapun saat ini teknologi berkembang dalam era industri tahap empat, hingga capaian hi-tech, namun tingginya teknologi tidak berdampak pada kemaslahatan umat. Contohnya dalam hal kesehatan. Semakin  hi-tech alat kesehatan, semakin tidak terjangkau harganya oleh umat.

Adakalanya rumah sakit terpaksa tidak optimal merawat pasien karena kekurangan alat dan fasilitas kesehatan. Hal tersebut terjadi karena model pengatur dan pengelola teknologi faskes (fasilitas kesehatan) dan alkes (alat kesehatan) diatur oleh mekanisme bisnis.

Bahkan industri perang pun saat ini tidak diurus negara sebagai bentuk pelayanan, melainkan diurus melalui mekanisme bisnis. Walhasil, Dahana dijadikan PT untuk mencari untung.

Nasib lembaga-lembaga negara yang lain pun tidak jauh dari hal tersebut, sebab tata kelola keuangan lembaga negara harus mengikuti konsep enterprising the goverment. Lembaga negara harus dibuat bersaing  fair dengan institusi bisnis swasta, yakni bersaing dalam memposisikan rakyat sebagai konsumen. Maka dibentuklah berbagai BLU dan UPT dengan alasan rakyat diberi kebebasan memilih produk maupun jasa dari korporasi dan quasi korporasi milik negara ataukah swasta.

Demikian pula dalam hal riset, berbagai riset lembaga pemerintahan diarahkan agar dapat diterima oleh bisnis. Sebagai contoh riset strategis superkonduktor pun dipacu agar bisa diterima hasilnya oleh perusahaan Jembo, Luvata, dsb. Kemanakah negara agar aplikasi riset ini bermanfaat untuk kemaslahatan rakyat? Miris.

Padahal, jika kita renungkan, perkembangan teknologi sipil suatu bangsa tidak lepas dari kemajuan teknologi militernya. Teknologi sipil yang kita gunakan saat ini seperti perangkat seluler, komputer, radar, transportasi, GPS, nuklir, robotika dan lain-lain adalah hasil teknologi militer yang diambil dan dikembangkan sedemikian rupa untuk keperluan sipil. Semakin maju perkembangan teknologi militer suatu negara, perkembangan teknologi sipilnya juga akan mengikuti perkembangannya.

Apa motivasi suatu negara untuk memperkuat teknologi militernya sebenarnya dipengaruhi oleh karakter politik luar negerinya. Apakah negara tersebut adalah negara pembebek ideologi atau pengusung utama deologi. Negara pembebek ideologi pasti negara lemah; politik luar negerinya hanya mengikuti arahan negara pengusung utama ideologi; sedikit sekali rangsangan untuk memperkuat teknologi militernya. Sebaliknya, negara pengusung utama ideologi, politik luar negerinya akan diarahkan demi menjadikan ideologinya sebagai pemimpin atas bangsa-bangsa lain. Negara tipe ini akan berusaha menyebarkan supremasi ideologinya ke negara lainnya atau berusaha mati-matian mempertahankan ideologinya dari gempuran ideologi negara lain. Untuk keperluan visi ideologis, negara ini jelas membutuhkan kekuatan militer. Faktor inilah yang menjadi rangsangan kuat negara tipe pengusung ideologi mengembangkan teknologi militernya.

Kita bisa lihat, hampir semua negara yang pesat perkembangan teknologinya adalah negara-negara pengusung ideologi seperti Amerika Serikat, Uni Sovyet (Rusia), Cina, Inggris, dan Prancis; atau negara-negara yang pernah atau sedang terlibat dalam benturan ideologi baik itu benturan pemikiran atau bahkan perang fisik seperti Jerman, Jepang, Korea Utara, dan Korea Selatan.

Umat Islam memiliki kekayaan alam dan sumberdaya manusia intelektual yang melimpah jika disatukan. Modal ini cukup untuk proses perkembangan teknologi. Namun, sumberdaya melimpah itu masih tercerai-berai dan belum dimobilisasi untuk sebuah visi yang jelas. Inilah yang menyebabkan ketertinggalan kita di bidang teknologi.

Karena itu, saat ini yang kita perlukan adalah sebuah negara yang memiliki visi ideologi, bukan negara pembebek ideologi. Sebuah negara yang memiliki visi mengemban ideologi Islam sebagai qiyadah fikriyah ke seluruh dunia. Politik luar negeri Islam adalah menyebarluaskan Islam ke seluruh dunia melalui dakwah dan jihad. Khilafah akan menyatukan dan memobilisasi semua sumberdaya melimpah milik umat untuk pengembangan teknologi militernya. Teknologi militer ini, insya Allah, nantinya akan melahirkan perkembangan teknologi sipil. Teknologi sipil akan menyokong kesejahteraan seluruh umat baik Muslim maupun non-Muslim di dalam naungan Islam sebagai rahmatan lil 'alamin.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox