Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, February 4, 2020

Arogansi Cina Pasca Corona, Akankah Berubah?


Oleh: Andre Husnari

Watak manusia jika sudah terjangkiti rasa sombong, maka dia tidak akan berhenti. Sampai dia mengalami suatu kejadian yang menghentakkan jiwanya. Kemudian baru dia tersadar, bahwa telah berbuat salah. Begitupun dalam konteks suatu bangsa.

Apabila kita sibak kembali lembaran-lembaran pernyataan pejabat Cina, sekitar 7-10 tahun lalu. Terlihat di sana, mereka hendak meyakinkan dunia, bahwasanya kebangkitan Cina adalah kebangkitan yang sejuk-damai. Pernyataan itu bermakna dua hal, pertama menyindir Barat, sebab dahulu jalan kebangkitan yang mereka tempuh sarat praktik dikriminatif, tak jarang merendahkan harkat bangsa lain sebagai manusia, bahkan berujung penjajahan dan pembunuhan massal.

Kedua, memuji diri sendiri. Cina adalah harapan baru, pembawa angin perubahan. Bangsa lain tidak perlu khawatir, bahkan seyogyanya mendukung. Lantas dicarikan sejarah pelayaran Cheng Ho sebagai contoh dan simbol.

Kebangkitan Cina sebagai kekuatan baru dunia sebenarnya memang sudah terprediksi. Reformasi yang diusung Deng Xiaoping pada akhir dekade 70-an di abad yang lalu beserta kisah sukses pertumbuhan ekonomi diatas dua digit bertahun-tahun, telah mengubah wajah Cina. Dampaknya ialah, just the matter of time. Ekonomi Cina telah menggeser semua negara G-7, kecuali Amerika Serikat, itupun tetap akan menimpa Negeri Paman Sam beberapa tahun kedepan.

Efek surplus anggaran, membuat Cina bisa mengalokasikan dana yang cukup untuk riset dan teknologi, termasuk anggaran militer. Secara SDM, mereka punya 1,5 juta tentara aktif. Belum lagi jumlah penduduk 1,4 milyar. Ini jelas persoalan pelik dalam kacamata geostrategis konstelasi dunia. Manuver militer Cina mempertontonkan provokasi murahan di Laut Cina Selatan sebagai bukti.

Dari segi ideologi politik, Cina masih tetap sebagai negara Komunis. Banyak pengamat apalagi khalayak yang lupa (atau pura-pura lupa) aspek ini. Hanya ada partai tunggal di sana, yaitu Partai Komunis Cina (PKC). Presiden, Perdana Menteri, dan jajarannya adalah mandataris Partai. Melawan partai sama halnya melawan negara. Kekuasaan absolut ada di tangan oligarki mereka. Doktrin komunis yang anti-agama telah kita saksikan contoh konkritnya pada 'tragedi uighur'. Heterogenitas dipasung, kritik dibungkam paksa.

Harap diingat, Cina juga punya hak veto di PBB. Apabila dunia selama ini kerap dibikin jengkel oleh veto Amerika Serikat membela Israel. Hari-hari kedepan modus dan panorama serupa juga akan sangat memungkinkan diperbuat oleh Cina.

Beranjak dari kondisi diatas, kontens pidato Presiden Xi Jinping pada 70th Anniversary of the Chinese Communist Party's yang sesumbar "No force can stop the Chinese people and the Chinese nation forging ahead" kemudian bisa dimengerti. Realita mereka tengah diatas angin, naik daun, orang kaya baru, lantas bersikap sombong.

Akhirnya datang virus corona. Kepongahan Cina ambruk seketika. Semaju-tinggi apapun peradaban sebuah bangsa, jika tidak mengenal konsepsi najis, maka tetap sulit hidup higienis. Termasuk perihal makan-minum. Sungguh menggelikan. Bukan rudal musuh yang meluluh-lantahkan mereka. Namun, jebakan Batman alias kelelawar.

Sebagai manusia, perasaan kita turut tersentuh melihat wabah corona yang menimpa Cina. Semoga tulah tersebut lekas hilang kemudian Cina insaf mengambil pelajaran, bertuah pada yang sudah.

Kekhawatiran kita, setelah semuanya pulih-reda. Arogansi jalan kembali. Kekhawatiran yang beralasan setidaknya karena dua perkara; pertama: naluri eksistensi diri supaya makin berkuasa, memimpin dunia. Mencapai cita yang belum pernah ditoreh sepanjang catatan sejarah peradaban leluhur mereka. Kedua: khasiat ideologi. Hanya dengan mengemban salah satu ideologi saja (Islam, Sosialis, Kapitalis) suatu bangsa dapat menjelma menjadi kekuatan dunia, bahkan menjadi adidaya.

Khasiat ideologi ini yang enggan diambil oleh Indonesia. Kondisi saat ini karena Indonesia cuma jadi negara pengekor Kapitalis. Kultur masyarakat kita yang agamis juga bertentangan dengan Sosialis-Komunis. Pilihan tepat jikalau memilih Ideologi Islam, lalu bangkit menuju adidaya dunia![]

No comments:

Post a Comment

Adbox