Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, February 11, 2020

Aneh, Jika Ada Ormas Islam Tapi Mengusung Liberalisme!




Hadi Sasongko
(Direktur POROS)

Perbaikan negeri tidak bisa dilepaskan dari kiprah dan peran ormas Islam dalam upaya menegakkan Islam dan menyelesaikan persoalan keumatan selama ini. perjuangan ormas Islam memerlukan arah yang jelas. Bukan sekadar jelas, tujuan tersebut juga benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Tapak demi tapak perjuangan Nabi Muhammad saw. menggambarkan dengan jelas bahwa arah perjuangan beliau adalah tegaknya kehidupan Islam secara kaffah. Gerbang keberhasilannya adalah tegaknya masyarakat Islam di Madinah.

Secara ringkas, meminjam ungkapan Ali bin Nayif Suhud, "Tujuan hijrah Nabi saw. ke Madinah adalah untuk menegakkan negara yang menerapkan Islam (ad-Dawlah al-Islamiyyah), mengemban dakwah Islam, dan bersungguh-sungguh melakukan jihad di jalan-Nya sehingga tidak ada lagi fitnah di muka bumi ini." (Al-Mufashal fi Ahkam al-Hijrah, I/24).

Para Sahabat dan generasi berikutnya melanjutkan dengan menjaga penerapan Islam kâffah dalam sistem Khilafah.

Dari dulu tetap saja ada dua kutub besar dalam langkah perjuangan umat, yakni gerakan kultural dan gerakan struktural (politik). Ada yang berupaya untuk memisahkannya. Ormas bergerak di tataran kultural, sedangkan partai politik bergerak di tataran struktural. Padahal realitas menunjukkan tidak perlu ada dikotomi gerakan kultural dengan gerakan politik. Rasulullah saw. sejak diberi wahyu tak kenal lelah melakukan apa yang sekarang dikenal dengan gerakan kultural. Beliau menyampaikan dakwah untuk memberikan pemahaman tentang akidah, syariah dan dakwah. Terjadilah revolusi pemikiran; dari semula meyakini banyak Tuhan menjadi tauhid; sebelumnya menyembah sesama manusia menjadi menyembah Pencipta manusia; tolok ukur materialistik berubah menjadi halal-haram; orientasi hidup dunia berubah total menjadi meraih akhirat tanpa melupakan dunia; dll. Muncullah budaya tauhid, persaudaraan (ukhuwah), memperhatikan fakir miskin, berpihak pada kaum yang lemah (dhu'afa) dan dilemahkan (mustadh'afin), anti kezaliman/kefasikan/kekufuran, menentang kecurangan dalam timbangan, dll.

Berikutnya, lahirlah generasi Sahabat binaan Nabi saw. yang berkepribadian Islam (syakshiyah islamiyyah) dan berkarakter. Mereka berjuang di tengah-tengah masyarakat. Inilah sisi gerakan kulturalnya.

Namun, Rasulullah saw. tidak berhenti sampai di situ. Hasil dari gerakan kulturalnya itu berproses menjadi kelompok orang yang berjuang secara politik. Mereka tidak berhenti pada diri sendiri. Pribadi-pribadi itu mengorganisasi diri dalam perjuangan politik di tengah-tengah umat. Kelompok ini digambarkan oleh Allah SWT:

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

Siapa saja yang mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang (QS al Maidah [5]: 56).


Frasa "hizb Allah" dalam ayat itu bermakna kelompok/jamaah. Karenanya, Imam ath-Thabari memaknainya dengan "al-Anshar", yakni para penolong agama Allah (Jami' al-Bayan fii Ta'wil al-Qur'an, X/427).

Mereka bersama-sama dengan Nabi saw. memberikan sikap terhadap kebijakan-kebijakan dan sikap penguasa ketika itu. Al-Quran menjelaskan bagaimana Rasulullah dan Sahabat menentang keras sikap Abu Lahab sebagai penguasa kala itu (lihat QS al-Lahab), mengeluarkan sikap terhadap kebijakan para pembesar yang melegalisasi pembunuhan bayi perempuan (QS at-Takwir), dll. Mereka melakukan perang pemikiran (shira' al-fikri), propaganda dan perjuangan politik (kifah siyasi), pencerdasan kepada publik dan peningkatan daya sosial yang menekankan pada semangat perlawanan terhadap kefasikan/kezaliman/kekufuran. Ini menggambarkan bahwa gerakan yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para Sahabat merupakan gerakan politik.

Ormas Islam harus mengusung politik Islam. Untuk itu, perlu dijauhkan sikap politik yang justru membahayakan perjuangan Islam itu sendiri. Pertama: sekularisasi. Sekularisasi merupakan proses membumikan sekularisme, yakni memisahkan Islam dari kehidupan. Terjebak pada pemikiran sekular hanya berarti menyimpangkan arah perjuangan Islam.

Dalam panggung politik Indonesia, upaya sekularisasi demikian gencar. Sekadar contoh, ketika ramai muncul Perda tentang minuman keras, baca al-Quran, jilbab, dll segera muncul sikap bahwa Indonesia bukan negara agama. Islam hanya dipakai untuk simbol saat pengambilan 'sumpah' saksi saja. Ormas Islam justru harus menggali dan mengedepankan argumentasi syar'i disamping argumentasi faktual logikal.

Kedua: pragmatisme. Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran adalah "faedah" atau "manfaat". Tidak melihat halal-haram. Persoalan ideologis dipinggirkan. Yang penting bagi orang pragmatis adalah manfaat sesaat baik berupa kedudukan, jabatan, uang atau kekuasaan. Bila ormas Islam terjebak pada pragmatisme maka pada satu sisi ia dapat tergelincir dari hukum syariah; pada sisi lain, ormas demikian tidak akan dapat melakukan perubahan karena diombang-ambingkan oleh kepentingan sesaat.

Ketiga: moderatisme (tidak kekanan, tidak kekiri). Padahal Islam tidak mengenal moderatisme. Tidak ada prinsip: "tidak iman, tidak kafir", "tidak Islam, tidak kufur". Istilah "ummat[an] wasatha" dalam QS al-Baqarah ayat 143 tidak tepat dimaknai sebagai umat yang di tengah dalam arti moderat. Sebab, 'ummat[an] wasatha' artinya adalah umat yang adil (HR Ahmad). umat terbaik/al-khiyar' (Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an, III/141).

Sikap moderat dalam arti selalu kompromi, tidak kekanan tidak kekiri, hanya akan menjadikan ormas Islam bersikap abu-abu. Dampaknya, tidak jelas mana yang haq dan mana yang batil. Masyarakat pun sulit mengikuti kebenaran dan mendukung perjuangan.

Keempat: sikap apolitis. Sikap apolitis tidak kalah berbahaya. Dengan sikap apolitis, ormas Islam tidak peduli terhadap realitas yang ada. Orang yang apolitis, misalnya, akan mengatakan, "Untuk apa ngurusin masalah kasus Jiwasraya, bagi kita kan tidak ada pengaruhnya. Itu kan urusan elit.”[]

No comments:

Post a Comment

Adbox