Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Saturday, February 1, 2020

Alugoro dan Mimpi Alutsista Digdaya di Dunia



Oleh: Hanif Kristianto
(Analis Politik-Media di Pusat Kajian dan Analisis Data)

  Presiden Jokowi melakukan kunjungan kerja ke Jawa Timur, hari ini, Selasa (28/1/2020). Salah satu lokasi yang disambanginya yakni galangan kapal milik PT PAL Indonesia (Persero) yang berada di Surabaya. Bersama Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Jokowi melakukan peninjauan kapal selam pertama buatan dalam negeri, KRI Alugoro-405. Kapal selam Alugoro merupakan produk ketiga dari batch pertama kerja sama pembangunan kapal selam PT PAL dengan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME), Korea Selatan. (https://money.kompas.com/read/2020/01/28/112300726/blusukan-ke-kapal-selam-made-in-surabaya-jokowi-wah-canggih?page=all.)

  Kepala Negara pun meminta seluruh alutsista yang diproduksi di Tanah Air mengadopsi pengembangan militer terkini yang serba digital. Sinergi dengan perusahaan-perusahaan asing juga menjadi salah satu upaya yang bisa ditempuh untuk mewujudkan produksi alutsista nasional yang kian modern dan canggih.( https://mediaindonesia.com/read/detail/286011-jokowi-minta-prabowo-perkuat-industri-alutsista).

  Menhan Prabowo punya perspesktif yang sama dengan Jokowi yang ingin memaksimalkan alutsista apabila bisa dipenuhi dari dalam negeri, maka akan dipasok dari domestik. Dahnil beralasan, keputusan impor biasanya karena faktot pertimbangan spesifikasi, teknologi, kapasitas industri pertahanan dalam negeri. (https://www.cnbcindonesia.com/news/20200128203446-4-133475/ini-alasan-prabowo-masih-harus-impor-senjata-dari-luar-negeri)

  Lantas bagaimana seharusnya politik militer ke depan Indonesia? Kebutuhan alutsista yang mengadopsi serba digital memang harus. Sayangnya, kemampuan alutsista Indonesia jauh di belakang negara-negara yang memiliki ideologi untuk pertahanan dan perang. Akankah Indonesia bisa merangkak dan mengejar ketertinggalan dengan negara lain?

Anatomi Kekuatan Militer Indonesia

  Tahun 2019 GlobalFirePower (GPF) mengeluarkan daftar terbaru peringkat militer negara-negara di dunia. Dalam daftar terbaru tersebut, Amerika Serikat masih berada di peringkat I dengan militer terkuat di dunia, diikuti Russia, China, India, dan Prancis di lima besar. Indonesia berada di nomor 16, di bawah Pakistann(15) dan di atas Israel (17). (https://www.globalfirepower.com/countries-listing.asp)

  Berikut 8 poin penilaian GPF:
1. Peringkat tak hanya berdasar pada banyaknya senjata yang dimiliki suatu negara, tapi juga keragaman jenis senjata yang dimiliki.
2. Kepemilikan senjata nuklir tidak dinilai.
3. Status negara dunia kelas 1, kelas 2, dan kelas 3.
4. Faktor geografis, ketersediaan sumber daya alam, fleksibilitas geografis, dan industry strategis nasional menjadi faktor penting
5. Negara yang tidak berbatasan dengan laut (landlocked) dan tidak memiliki angkatan laut tidak dikurangi nilainya, akan tetapi negara yang mempunyai laut tapi angkatan lautnya tidak kuat, nilainya akan berkurang
6. Negara-negara NATO meraih nilai bonus karena mereka bisa berbagai sumber daya, terutama dalam peperangan
7. Kestabilan dan kesehatan finansial suatu negara
8. Kepemimpinan suatu negara, tidak dinilai
  Posisi Indonesia tahun 2019 Asian Continental Powers Ranked by Military Strength berada di posisi nomor 9. Adapun di Asia Tenggara, Indonesia nomor 1. (https://www.globalfirepower.com/countries-listing-southeast-asia.asp). Cukup membanggakan. Sebab wilayah Indonesia berpulau-pulau dan luas, memang membutuhkan kekuatan ekstra.

  Satu hal yang tidak dimiliki Indonesia ialah industri militer yang tidak berbasis perang atau pertahanan. Buktinya, produksi alutsista masih harus mengadopsi dari negara-negara kelas 1 yang berideologi kapitalisme. AS masih menjadi rujukan utama, meski pernah mengalami embargo. Rusia dan China juga dilirik karena pengembangan alutsista meoncer. Kalaupun kerja sama dengan Korea Selatan masih berada pada posisi 7 dunia.

  Selain pengadopsian dari negara kelas 1, pengembangan industri militer di dalam negeri cenderung lamban. Hal ini bukan soal struktur pendanaan di APBN. Lebih pada hilangnya political will penguasa. APBN cenderung untuk membayar utang luar negeri dan beban lainnya. Belum lagi bicara kebocoran dana dan maraknya korupsi. Serignya penyediaan alutsista Indonesia pelaksananya masih berfikir proyek dan mendapatkan fee dari dana yang dikucurkan negara. Alhasil, beberapa kasus pernah mencuat terkait pembelian alutsista.

  Indonesia sendiri, bukanlah negara yang berpengaruh di dunia seperti negara kelas 1 yang berbasis pada ideologi kapitalisme. Militer AS karena berbasis pertahanan perang, pengembangan alutsistanya mendahului zaman. Karena ideologi kapitalisme yang dianut AS, mendorongnya ekspansi ke seluruh dunia. Timur-Tengah menjadi pangsa pasar penjualan alutsista AS. Arab Saudi rela berbelanja ke AS dan menjadi sekutunya. Selain itu, kedigdayaan militer AS juga untuk melindungi perusahaan multinasional AS yang bercokol di negeri-negeri lainnya.

  Rusia dan China adalah alternatif kedua, jika AS tidak berkenan menerima suatu negara dalam pengembangan alutsista. AS juga sering mengembargo negara yang dianggap tidak taat pada aturannya.
Bisa Wujudkan Mimpi Digdaya

  Lantas bagaimana jika Indonesia mampu bersaing dan bahkan menjadi yang terhebat, maka hal inilah yang perlu dilakukan:

Pertama, Indonesia harus memiliki ideologi jelas. Sebab posisi Indonesia masih sebagai negara pengekor dari negara kelas 1 semisal AS, Rusia, Cina, dan Barat. Maka pilihan ideologi Islam akan menjadikan Indonesia digdaya. Sumber Daya Manusia dan militer negeri-negeri kaum muslimin begitu besar. Rangking dari GPF negeri-negeri kaum muslim pun disebut.

Kedua, politik militer Indonesia berbasis perang dalam rangka penaklukan, jihad, dan melindungi negeri-negeri muslim yang terjajah. Sebagaimana firman Allah:

 وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)." (QS. Al-Anfal: 60)

Ketiga, ketergantugan impor bahan atau teknologi harus dihindari. Negara kelas 1 tidak pernah menunjukkan semua kemampuannya. Ada hal penting yang disembunyikan. Apalagi ditakut-takuti dengan embargo. Kalaulah pembuatan kapal selam Alugoro bekerjasama dengan Daewoo Korea Selatan, tak mungking korea menunjukkan semua teknologinya. Hal inilah yang mengakibatkan ketergantungan pada teknologi luar dan ketertinggalan jauh.

Keempat, Indonesia mendorong anak bangsa dengan aqidah Islam dan amal jariah untuk membantu Indonesia. Banyak anak bangsa yang mumpuni untuk menemukan teknologi baru dan lebih jauh. Diberikan dorongan penelitian dan pembiayaan semuanya oleh negara. Kampus-kampus didorong melakukan riset dan intelektual muslim menyumbangkan sumbangsihnya untuk Islam dan umatnya. Jika Indonesia digdaya dengan Islam, anak-anak bangsa turut mengerahkan daya dan upayanya, maka tak lama lagi Islam menjadi rahmat bagi semua.

  Oleh karena itu, Indonesia harus kembali berfikir ulang dengan memiliki ideologi yang sahih (Islam) dalam penganggaran militer. Mendidik anak bangsa untuk turut serta menebarkan Islam ke seluruh dunia. Hal inilah menjadi fajar kebangkitan Islam dan Indonesia menjadi pelindung dan penolong saudaranya muslim yang terjajah.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox