Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Thursday, January 2, 2020

Totalitas Taat, Nggak Pakai Menye-Menye



M. Arifin (Tabayyun Center)

Umar bin Abdil Aziz pernah berkata: Rasulullah saw dan para pemimpin setelahnya telah menjalankan berbagai sunnah. Mengambil sunnah tersebut sama dengan membenarkan kitabullah, menyempurnakan ketaatan kepada Allah dan menguatkan agama Allah. Siapa saja yang mengamalkannya niscaya akan mendapatkan petunjuk, siapa yang memohon pertolongan kepada ALLAH dengan menjalankan sunnah maka ia pasti akan ditolong. Siapa yang menyalahi sunnah maka ia telah mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, Allah akan memalingkannya dari kebenaran dan memasukannya ke neraka jahannam. (Ibnu Abdil Barr dalam jami' bayan al-ilm juz 2 hal 187)

Taat kepada syariah secara totalitas dengan meneladani Nabi SAW merupakan refleksi keimanan kepada Allah SWT, Alquran, dan kerasulan Nabi Muhammad SAW.  Seseorang tidak dikatakan beriman pada hakekatnya, hingga ia menjadikan Nabi SAW sebagai hakim untuk memutuskan seluruh persoalan mereka.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah, pada saat menafsirkan QS. An Nisaa': 65, menyatakan, Allah SWT bersumpah dengan mengatasnamakan diri-Nya sendiri Yang Maha Mulia dan Maha Suci, sesungguhnya seseorang belumlah beriman secara sempurna hingga ia berhakim kepada Rasullah SAW dalam seluruh urusan.

Semua yang Rasulullah putuskan merupakan kebenaran yang wajib diikuti baik lahir dan batin. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman: {tsumma laa yajiduu fii anfusihim harajan mimmaa qadlaita wa yusallimuu tasliimaa}: yakni, jika mereka telah berhakim kepadamu (Muhammad SAW), mereka wajib mentaatimu (mentaati keputusan yang diambil Nabi SAW) di dalam batin-batin mereka; dan mereka tidak mendapati perasaan ragu di dalam diri mereka atas apa yang telah kamu putuskan; dan lalu mengikutinya (keputusan Nabi SAW tersebut) baik dzahir maupun bathin.  Kemudian, mereka berserah diri kepada itu (keputusan Nabi SAW), dengan penyerahan diri yang bersifat utuh, tanpa ada ganjalan sedikitpun, tanpa ada penolakan sedikitpun, dan tanpa ada penyelisihan sedikitpun; sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih, Nabi SAW bersabda "Demi Dzat Yang jiwaku ada di tanganNya, sesungguhnya seseorang di antara kalian belumlah beriman hingga hawa nafsunya tunduk dengan apa yang aku bawa". [Imam Ibnu Katsir, Tafsiir Al-Quran Al-'Adziim, Juz 2/349]

Makna "menjadikan Nabi SAW sebagai hakim atas seluruh urusan" adalah menjadikan keputusan beliau SAW (syariat Islam) sebagai satu-satunya rujukan untuk menyelesaikan seluruh problem kehidupan, baik problem individu, masyarakat, maupun negara.

No comments:

Post a Comment

Adbox