Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, January 21, 2020

Tambang Minyak dan Gas Jangan Diberikan ke Swasta!



Hadi Sasongko
(Direktur PoRoS)

Melalui pernyataan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, pemerintah berencana mencabut subsidi tabung gas elpiji 3 kg pada pertengahan tahun ini. Konsekuensinya, harga gas elpiji 3 Kg akan mengalami kenaikan.

Kenaikan harga tabung gas elpiji 3 kg dijelaskan bahwa pemerintah mengganti skema pemberian subsidi dengan langsung ke penerima manfaat. Caranya dengan mentransfer uang subsidi kepada penerima. Diperkirakan, dicabutnya subsidi pada tabung gas elpiji 3 kg mencapai Rp 35.000 per tabung.

Dalam pandangan Pemerintah, yang disebut subsidi BBM adalah saat BBM dijual di bawah harga pasar internasional. Jika demikian maknanya, maka selama ini Pemerintah terus mensubsidi pihak asing seperti Cina, Korea, Jepang, AS dan lainnya. Mengapa? Karena Pemerintah menjual gas tersebut jauh di bawah harga pasar internasional. Gas Blok Tangguh sejak masa Megawati dijual ke Cina melalui kontrak 25 tahun dengan harga jauh di bawah harga internasional. Saat itu harganya hanya US$ 2,7 per MMBTU. Lalu naik menjadi US$ 3,5 per MMBTU. Harga internasionalnya saat itu adalah US$ 15-18 per MMBTU. Kerugian negara atas penjualan gas murah ke Cina itu diperkirakan sekitar Rp 500 triliun pertahun (Tribunnews.com, 12/3/2014).

Artinya, Pemerintah Indonesia mensubsidi Cina sekitar US$ 12 per MMBTU gas. Awal Juli lalu, Pemerintah mengklaim sukses merenegosiasi harga gas ke Cina menjadi US$ 8 per MMBTU (Detik.finance, 30/6). Meski naik, subsidi ke Cina masih besar sekitar US$ 10 per MMBTU. Begitu juga subsidi ke Korea. Harga jual gas Tangguh ke Korea hanya US$ 4,1 per MMBTU. Hal ini juga terjadi pada harga jual gas ke Jepang dan AS.

Yang jelas, kenaikan harga elpiji 3 kg berpotensi membuat rakyat susah. Jika harga elpiji naik, harga transportasi turut naik; harga bahan baku naik; harga semua kebutuhan pasti akan naik dan inflasi akan naik. Akibatnya, daya beli rakyat turun. Yang paling terdampak adalah rakyat dengan pendapatan pas-pasan. Kenaikan harga elpiji diperkirakan akan menambah jutaan jumlah orang miskin.

Jika pun benar pengurangan subsidi dialihkan untuk pembangunan infrastruktur, yang pertama-tama untung adalah para kapitalis dan pihak asing. Pasalnya, pemerintah hari ini disebut beberapa pihak menyerahkan pembangunan infrastruktur kepada pihak asing. Pembangunan MRT, misalnya; pengadaan Bus Transjakarta dan kereta monorel diserahkan ke Cina. Pengurangan subsidi juga diklaim untuk menciptakan pertumbuhan. Ini pun akan lebih banyak dinikmati oleh orang kaya dan para kapitalis.

Minyak dan gas (migas) serta sumberdaya alam (SDA) lainnya yang melimpah dalam pandangan Islam merupakan milik umum. Pengelolaannya harus diserahkan kepada negara untuk kesejahteraan rakyat. Tambang migas itu tidak boleh dikuasai swasta apalagi pihak asing. Rasul saw. bersabda:

«الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثٍ فِي الْكَلاَءِوَالْمَاءِ وَالنَّارِ»

Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: padang rumput, air dan api (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Karena itu, kebijakan kapitalistik, yakni liberalisasi migas baik di sektor hilir (termasuk kebijakan harganya) maupun di sektor hulu yang sangat menentukan jumlah produksi migas, juga kebijakan zalim serupa harus segera dihentikan.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox