Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Saturday, January 18, 2020

TABUNG IJO MELEJIT TINGGI (LAGI)


Oleh : Dwi Putri Arumdani
(Aktivis Mahasiswa)

"Kado Pahit Awal Tahun 2020" rupanya menjadi sebuah ucapan yang benar adanya. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) telah memastikan akan mencabut subsidi untuk elpiji 3 kilogram (kg).

Harga elpiji 3 kilogram (kg) akan disesuaikan harga pasar mengikuti elpiji non subsidi 12 kilogram (kg). Dikutip dari laman Pertamina,  harga Elpiji 12 kilogram Rp 139.000 atau Rp 11.583 per kg, maka harga Elpiji 3 kg akan menjadi Rp 34.749 per tabung, jauh lebih mahal dari harga subsidi di bawah Rp 20.000.

Tak hanya itu, mulai Bulan Juli 2020, Elpiji subsidi 3 kg tak akan dijual bebas. Pemerintah berdalih subsidi Elpiji 3 kg akan diberikan kepada masyarakat kurang mampu. Hal ini dilakukan guna menekan subsidi yang diberikan oleh pemerintah karena selama ini orang kaya pun juga bisa menikmati Elpiji subsidi 3 kg.

Akan tetapi, tidak serta merta masyarakat kurang mampu akan senantiasa mendapatkan Elpiji subsidi 3 kg. Masyarakat kurang mampu rencananya hanya akan mendapatkan sekitar 10-15% jatah Elpiji subsidi 3kg (3 Elpiji subsidi dari 10 yang dibutuhkan). Selebihnya, masyarakat kurang mampu tetap membeli Elpiji dengan harga pasar yang telah ditetapkan.

Miris mengiris hati ketika melihat kebijakan yang memang tidak berpihak kepada rakyat secara menyeluruh. Bagaimana tidak, Gas merupakan sumber daya alam yang diberikan oleh Allah, Tuhan semesta alam untuk rakyat semuanya. Harusnya, pemerintah sebagai wakil rakyat bertugas untuk mengelola Gas agar gas tersebut mampu digunakan oleh rakyat dengan sebaik-baiknya, bukan malah menjual ke rakyat. Karena gas adalah milik rakyat semua, gratis adalah hal yang wajar. Baik rakyat tersebut miskin ataupun kaya. Jika standartnya adalah menjual kepada rakyat, bukan menjadi hal yang mustahil jika semua akan bayar pada waktunya.

Sejatinya, pemimpin atau penguasa adalah pelayan bagi rakyat. Ia memenuhi segala kebutuhan rakyat dengan ikhlas. Sebagaimana seorang penggembala, ia akan menyediakan tanah lapang penuh dengan makanannha sehingga gembalaan bisa dengan puas untuk mengenyangkan perutnya. Ketika perut gembala telah benar-benar penuh barulah penggembala akan membawanya pulang. Itu artinya, pemimpin atau penguasa berkewajiban penuh untuk memastikan apakah segala kebutuhkan rakyatnya terpenuhi termasuk kebutuhan gas dimana kalau zaman sekarang tidak bisa memasak dengan mudah tanpa gas. Tentu itu semua tanpa pamrih sebagaimana penggembala tak pernah meminta imbalan atas rumput kepada gembalaannya.

Prinsip pemerintah atau penguasa sebagai pembisnis (jual-beli) dengan rakyatnya merupakan karakter keturunan sistem Kapitalisme-demokrasi. Di dalam sistem tersebut pemerintah atau penguasa akan bekerja sesuai dengan kebutuhan para Kapital atau tuannya. Jika tidak mereka tidak akan mendapatkan imbalan seperti yang mereka mau. Disisi lain, memang, asas yang digunakan oleh sistem Kapitalisme-demokrasi adalah asas manfaat yang akan condong kepada kepentingan para Kapital itu sendiri. Semua diukur dengan asas manfaat. Mampu mendatangkan keuntungan kepada mereka. Oleh karena itu, memberlakukan stop subsidi merupakan tindakkan yang sangat kurang tepat. Bahkan dzalim. Karena tidak sesuai dengan fitrah seharusnya.

Islam mengharamkan sebuah kedzaliman. Dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau meriwayatkan dari Allah ‘azza wa Jalla, sesungguhnya Allah telah berfirman:

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya..."

Jelas dalam hadist tersebut Allah mengharamkan tindakan yang dzalim. Jika sesuatu dikatakan haram pasti akan mendapatkan dosa dan akan bermuara di neraka jika tidak segera bertaubat. Oleh karena itu, marilah kita tinggalkan sistem Jahiliyah yakni sistem Kapitalisme-demokrasi yang hanya akan membuat rakyat terus sengsara dan semakin sengsara. Berbeda halnya dengan Islam, dimana ia adalah seperangkat aturan komplit yang diturunkan langsung oleh pencipta manusia yakni Allah subhanahu wata'ala. Sistem Islam akan berjalan dengan baik jika diterapkan didalam naungan Khilafah Rasyidah. Wallahu A'lam.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox