Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Sunday, January 19, 2020

Satu Kata: Dakwah!



Abu Inas (Tabayyun Center)

‏﴿ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ ‏وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا﴾‏

"Di antara orang-orang yang beriman terdapat orang-orang hebat yang membenarkan janji mereka kepada Allah. Di antara mereka ada orang yang telah wafat,di antara mereka ada yang menunggu giliran dan mereka sekali-kali tidak pernah mengubah (janji) mereka." (QS Al-Ahzab : 23)

Membincangkan dakwah tentu penting bagi setiap Muslim. Pasalnya, selain kewajiban, dakwah adalah pilar utama Islam. Tanpa dakwah, Islam tak akan tegak. Tanpa dakwah Islam tak akan tersebar luas. Tanpa dakwah tak akan tercipta 'izzul Islam wal Muslimin. Tanpa dakwah manusia seluruhnya tak akan bisa terselamatkan dari azab Allah SWT.

Masalahnya, saat ini dakwah cenderung dipahami oleh kebanyakan Muslim sebagai tugas dan kewajiban para ulama, kiai, ustadz dan mubalig saja. Masih sedikit yang memahami bahwa dakwah adalah juga tugas dan kewajiban setiap individu Muslim. Bahkan sejatinya, setiap Muslim menjadikan dakwah sebagai fokus utama sekaligus poros hidupnya. Sebab, hanya dengan itulah akan tercipta 'izzul Islam wal Muslimin.

Masalah lainnya, mereka yang terbiasa berdakwah sering dihadapkan pada sejumlah tantangan, baik tantangan internal maupun eksternal. Tak jarang, berbagai tantangan ini menjadikan sebagian pengemban dakwah mengalami futur, bahkan tak sedikit yang akhirnya terlempar dari medan dakwah.

Ada ulama menyebutkan: Beruntunglah orang yang nafsunya dikuasai akalnya dan celakalah orang yang akalnya dikuasai nafsunya. Hawa nafsu yang telah merajalela akan mempermainkan akal dengan segudang logika. Pengemban dakwah yang di lubuk hatinya merasa bersalah karena tidak merasa optimal menggapai ridha Allah, pada akhirnya memang akan merasa galau. Keresahan itu tetap akan terasa dalam diri orang beriman.

Namun demikian, kembali hawa nafsu meruntuhkan akal sehat. Berbagai justifikasi dicari untuk membenarkan perilaku tak terpuji tersebut. Ada yang merasa qana'ah hanya dengan menghadiri kajian - kajian saja; selain itu tidak walau sekadar menyebarkan opini Islami, serta mengajak kawan atau kerabat ke acara-acara dakwah, dsb.

Sebagian orang merasa puas berdakwah dengan menyebarkan opini lewat jejaring sosial atau membuat tulisan-tulisan di blog atau situs. Meski tulisan-tulisan itu memang bermanfaat, langkah tersebut belumlah mencukupi untuk disebut sebagai dakwah karena tidak terjadi kontak antarpersonal dan feedback yang memadai karena keterbatasan ruang dan waktu. Beda dengan kegiatan durusul-masajid maupun kontak yang responnya dapat segera diketahui dan disikapi.

Ada juga yang menutupi rasa bersalah mereka dengan berinfak dalam jumlah besar untuk kepentingan dakwah. "Biarlah saya tak bisa berdakwah dengan lisan, tapi harta saya akan saya pakai di jalan dakwah," demikian pikir mereka. Mereka lupa bahwa dakwah adalah aktivitas lisan untuk mengubah pemikiran masyarakat, bukan investasi usaha. Infak di jalan dakwah memang bermanfaat untuk operasional dakwah maupun infrastruktur dakwah, tetapi tidak menghasilkan pergolakan pemikiran, menasehati penguasa yang zalim ataupun mengadopsi kemaslahatan umat.

Jangan sampai menjadi "pengemban dakwah semu" menyelusup ke dalam pikiran aktivitas para pengemban dakwah. Inilah yang membuat mereka sudah terpuaskan dan merasa telah mengerahkan energi yang optimal, padahal menyalurkannya di jalan yang keliru.

Dalam kegalauan itu, tidak jarang godaan lebih besar menyergap para pengemban dakwah. Ada di antara mereka lalu melemparkan kesalahan kepada orang lain, pembina atau pengurus. Ada juga yang kemudian memilih untuk meninggalkan medan dakwah. Sebaliknya, mereka sendiri lupa melakukan introspeksi atas kelemahan dan kesalahan diri. Uniknya, mereka bisa mentoleransi kekurangan perusahaan tempat mereka bekerja atau kelemahan rekan kerja atau atasan mereka, tetapi menutup pintu maaf untuk rekan sesama juru dakwah.

Konsisten berdakwah! Ya, para pendakwah tentu akan selalu memelihara energi dakwah. Berdakwah sesulit apapun itu. Membangkitkan semangat dakwah dalam diri.

Mari kita terlibat menjadi para pejuang. Ingatlah bahwa dakwah adalah sebuah kewajiban dari Allah. Ingatlah betapa besar kemuliaan bagi seorang pengemban dakwah. Jadilah pemberi semangat, jangan hanya menunggu uluran semangat. Lihatlah realitas umat yang membutuhkan uluran dakwah. Bangkitlah dan bergeraklah sekecil apapun yang Anda lakukan, karena diam akan mematikan energi dakwah. Diam adalah sebuah kerugian besar (lihat: QS al-'Asr [103]:1-3) Diam berarti membiarkan diri kita terhanyut oleh derasnya arus sekularisasi dan kapitalisasi.

Saatnya seluruh pengemban dakwah melakukan muhasabah terhadap diri sendiri. Saatnya kita dengan jujur mengakui kelemahan dan kekurangan curahan usaha dan perhatian terhadap dakwah, tenggelam dalam kesibukan diri dan selalu mencari-cari jalan untuk membenarkan itu semua.

Saatnya kita meluruskan kembali keikhlasan diri, memantapkan langkah dan menata diri agar lebih bersemangat dalam menapaki jalan dakwah.

Yakinlah bahwa Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan dan perjuangan hamba-hamba-Nya. Pertolongan dan keberka-han hidup akan dilimpahkan kepada mereka yang bersungguh-sungguh menegakkan agama-Nya.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox