Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Thursday, January 2, 2020

RESOLUSI INDONESIA 2020 : SAATNYA MENATA NEGARA DENGAN ISLAM

Oleh : Ahmad Sastra

Adalah sebuah kebodohan jika ada orang terjerembab ke dalam lubang sama dua kali. Adalah sebuah kedunguan jika ada manusia yang rela negaranya berulang kali dijajah. Adalah sebuah malapetaka, jika ada manusia yang mau selalu dibohongi. Adalah sebuah kehinaan jika ada sebuah negara selalu menjadi bulan-bulanan negara asing.

Inilah beberapa kalimat pembuka terkait Indonesia yang sebenarnya sejak lama telah menjadi negeri terjajah di hampir semua bidangnya. Adalah isapan jempol belaka jika negeri ini mengatakan telah berdaulat sebagai negara merdeka. Sebaliknya, negeri ini saat mengadopsi ideologi kapitalisme demokrasi sekuler sesungguhnya tengah terjerembab dalam neokolonialisme.

Penjajahan gaya baru kapitalisme memang tidak berupa penjajahan model lama dengan senjata dan menembaki rakyat jelata. Neokolonialisme kapitalisme justru melakukan penjajahan atas suatu negara melalui berbagai cara yang tidak disadari oleh rakyat. Melalui privatisasi, maka aset-aset strategis negara yang notabene untuk dan milik rakyat umum bisa dikuasai oleh individu asing dan aseng.

Ekonomi kapitalisme telah terbukti menjadikan orang kaya yang hanya segelintir mampu menguasai aset negara hingga 80 persen. Sementara rakyat jelata yang mayoritas hanya bisa gigit jari dan selalu menjadi obyek kaum kapitalis untuk terus diperas. Dengan istilah yang biasa didengar bahwa dengan kapitalisme maka yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin.

Kapitalisme juga telah mengakibatkan suatu negara justru terjerat rentenir dunia dengan bunga tinggi. Contohnya ya Indonesia yang kini tengah terjebak rentenir dunia hingga lebih dari 5000 triliun dengan bunga tinggi. Akibatnya aset-aset rakyat bisa digadaikan bahkan dijual untuk menutupi hutang, bahkan rakyat bisa diperas hartanya dengan kenaikan pajak dan harga kebutuhan pokok.

Kapitalisme selalu berorientasi kepada minoritas pemilik modal dan akan berdampak kepada kemiskinan mayoritas rakyat. Padahal kapitalisme adalah sistem ekonomi yang rapuh karena sering mengalami krisis. Penggunaan mata uang kertas adalah salah satu sumber krisis ekonomi yang tidak diikuti oleh nilai intrnsiknya. Berbeda dengan penggunaan mata uang dinar dan dirham yang secara intrinsik memiliki nilai karena berbasis emas.

Politik demokrasi yang merupakan turunan dari kapitalisme sekuler juga merupakan sistem politik terburuk karena secara genetik menjadikan uang sebagai alat transaksi politik (money politik). Pada akhirnya yang akan memimpin suatu negera demokrasi bukanlah orang yang baik dan mampu, melainkan orang yang punya uang dan berani menyuap. Hasilnya adalah suatu negara yang sarat dengan praktek korupsi, kolusi dan nepotisme.

Budaya hedonisme dan liberalisme juga merupakan anak kandung kapitalisme sekuler dimana asas manfaat dijadikan sebagai alat pertimbangan. Budaya seperti prostitusi, perjudian dan narkoba otomatis akan terus menjamur  dalam sistem kapitalisme karena mampu mendatangkan manfaat berupa materi. Sebab dalam ideologi kapitalisme demokrasi sekuler tidak mengenal istilah halal dan haram. Hal ini berbeda dengan ideologi Islam yang menimbang perbuatan dan materi berdasarkan hukum syara’ antara halal dan haram.

Dalam pandangan Islam segala sesuatu yang diharamkan Allah, maka akan menimbulkan keburukan pada kehidupan manusia. Ekonomi ribawi ala kapitalisme terbukti telah menjadi kerusakan dan kehancuran rakyat dan negara. Ekonomi berbasis ribawi justru telah menjerumuskan negara dan rakyat dalam jerat rentenir haram hingga negara dan rakyat bangkrut dan mati pelan-pelan. Allah bahkan mengancam para pelaku riba dengan dosa besar. Riba selain akan membunuh juga tidak akan mendatangkan keberkahan, sebab dilarang oleh Allah.

Kapitalisme sekuler adalah sistem kehidupan yang bertentangan dengan hukum Allah dan pasti akan mendatangkan kesengsaraan. Allah berfirman, “Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang  sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta". (QS Thaha : 124)

Sementara dalam sistem Islam, seluruh aspek penyelenggaraan negara berbasis iman dan taqwa. Iman maknya adalah percaya akan keberadaan Allah dan seluruh aturannya. Sementara taqwa adalah pengejawantahan seluruh syariah Islam dalam semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara dibawah institusi daulah ISlam. Aqidah Islam menuntun negara dan rakyat agar selalu terikat dengan hukum dan aturan Allah.

Keimanan dan ketaqwaan inilah yang justru akan mendatangkan kesejahteraan, keadilan, kebahagiaan dan keselamatan. Kebahagiaan kehudupan rakyat bukan hanya soal kaya dan miskin, melainkan adanya keberkahan. Kewajiban zakat bagi setiap muslim bahkan akan bisa menjadi faktor kesejahteraan bagi rakyat miskin. Tidak seperti kapitalisme yang justru makin menyengsarakan rakyat yang sudah miskin.

Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al A’raf : 96).

Karena itu, semestinya hal ini dipahami oleh seluruh komponen bangsa ini bahwa hanya dengan taat kepada aturan Allah lah negeri ini akan berkah dan penuh kesejahteraan dan keadilan. Bangsa ini semestinya kembali kepada hukum Allah dan Sunnah Rasul dalam mengelola negara ini.

Semestinya mengatur negara ini dengan syariah Islam kaffah menjadi resolusi bangsa 2019 dengan membuang jauh-jauh ideologi sampah kapitalisme sekuler apalagi komunisme ateis. Argumennya sederhana, karena alam semesta, bumi dan Indonesia ini adalah milik Allah, maka sudah seharusnya rakyat menggunakan aturan Allah dalam menata negara ini sebagai bentuk keimanan dan ketaqwaan. Keberkahan negeri ini ada dalam ketaatan kepada Allah sementara kesengsaraannya adalah ketika menjauh dari hukum Allah.

(AhmadSastra,KotaHujan,31/12/19 : 21.50 WIB)

No comments:

Post a Comment

Adbox