Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Monday, January 27, 2020

Polemik Ingkar Jilbab



Oleh: Ratna Mufidah, SE

Alih-alih turut menyadarkan umat muslimah supaya taat syariat dalam hal jilbab, Ibu Hj.Sinta Nuriyah yang merupakan istri dari almarhum Gus Dur malah mengatakan jilbab tidak wajib. Tentu hal ini sangat disayangkan, mengingat kedudukan beliau adalah seorang cucu menantu dari pendiri ormas Islam terbesar di Tanah air, KH.Hasyim Asy’ari yang merupakan tokoh pejuang syariat Islam.

Baru-baru ini Mahfud MD juga menge-tweet tentang fakta bahwa putri Raja Salman tidak pakai hijab dan tidak dipersoalkan. Seolah-olah mau menunjukkan kepada khalayak bahwa di Negara yang lebih Islami saja, boleh tidak berhijab. Tentu hal semacam ini membuat publik semakin tidak meyakini hijab sebagai kewajiban muslimah saat keluar rumah.

Padahal, peran ulama sebagai pewaris para Nabi seharusnya justru mengingatkan, menyampaikan dan menyerukan kewajiban-kewajiban yang belum dipahami dan dilaksanakan oleh seluruh umat alias masih dipahami sebagian umat saja. Berhijab bagi muslimah saat keluar rumah sudah sangat jelas dalilnya, tak pernah ada perdebatan sejak jaman Rasulullah kecuali saat ini saja saat pemikiran asing mulai merasuki kaum muslimin termasuk para intelektual muslim dan ulama.

 Pelepasan hijab para muslimah di Negeri-negeri Islam adalah salah satu efek dari runtuhnya khilafah yang selama ini menjadi pelaksana dan penjaga syariat Islam. Ketika syariat Islam sudah tidak diterapkan lagi, tak ada lagi sangsi bagi pelanggar syariat. Sementara itu, pemikiran Barat yang bertentangan dengan Islam justru semakin longgar menyerang benak kaum muslimin akibat tidak ada penjagaan dari Negara yang melindungi pemikiran umat.

Kebebasan berfikir dan bertindak yang selama ini menjadi ruh asas sekularisme demokrasi telah menghasilkan dampak yang luar biasa dalam perusakan pemikiran kaum muslimin. Hakikatnya pemikiran Barat dengan pemikiran Islam sangat berseberangan. Dalam Islam tidak ada prinsip kebebasan berfikir dan bertindak kecuali terbatas dalam perkara-perkara mubah. Semua perbuatan muslim wajib terikat hukum syara’.

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, ialah ucapan, “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (TQS. An-Nur:51-52).

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (TQS al-AnfL: 24)

Kewajiban berjilbab sudah sangat jelas tertuang dalam nash, baik al Qur’an maupun hadits. Bila dalam istilah di Indonesia, jilbab dimaknakan kepada penutup kepala atau kerudung, ayatnya jelas,

وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ ….. ٣١

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya” (An Nur: 31).

Kata khumur (kerudung) adalah bentuk jamak dari kata khimar, yaitu kain untuk menutupi kepala. Allah SWT memerintahkan agar kerudung dijulurkan ke atas lehar dan dada. Adapun istilah jilbab sendiri berasal dari Bahasa Arab, mengacu pada ayat Al Qur’an yaitu jalaabah. Menurut Kitab Nidzomul Ijtima’I merupakan pakaian wanita dalam kehidupan umum atau saat keluar rumah yang dikenakan diluar pakaian sehari-hari dan ia ulurkan ke bawah hingga menutupi kedua kakinya. Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ٥٩

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S Al Ahzab: 59).
Rasul dan para shahabat dengan kesempurnaan iman mereka, selalu bersegera untuk taat dalam melaksanakan segala atuannya, Al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah ra. Berkata:

Semoga Allah merahmati kaum wanita yang hijrah pertama kali, ketika Allah menurunkan firman-Nya, “Dan hendaklah mereka mengenakan kain kerudung mereka diulurkan ke kerah baju mereka.” (TQS. An-Nur:31). Maka kaum wanita itu merobek kain sarung mereka (untuk dijadikan kerudung) dan menutup kepala mereka dengannya.

Syariat Islam datang untuk mengatur seluruh umat manusia di muka bumi, tidak membeda-bedakan daerah territorial ataupun suku dan kebudayaan tempat manusia lahir, semuanya cocok diterapkan syariat. Karena Islam datang dari Rabb Semesta yang menciptakan manusia dana lam semesta. Sang Pencipta mengetahui apa yang terbaik bagi kehidupan hamba-Nya. Saat Allah menciptakan manusia, Allah juga menurunkan petunjuk bagi manusia supaya selamat dunia dan akhirat.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox