Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Thursday, January 2, 2020

Muslim Uighur Memanggil Qutaibah Abad Ini yang Akan Membebaskan Mereka dari Penindasan Sistematis



Agung Wisnuwardana

Cina masih konsisten dengan spirit kebencian, keputusan yang tidak adil dengan program kamp-kamp penahanan 'indoktrinasi komunis' sebagai bagian dari program dan kampanye yang sedang berlangsung untuk melawan Islam. Serangkaian peraturan dibuat membatasi kebebasan menggunakan simbol dan bahkan nama Islam pada bayi atas nama melawan "ekstremisme religius"

Kelompok hak asasi manusia menuduh pihak berwenang China melakukan penindasan terhadap warga Muslim Uighur atas nama kontra terorisme. Kaum muslim menuduh pemerintah mengirim jutaan etnis Han di wilayah mereka dengan tujuan akhir untuk menghapus identitas dan budayanya. Sementara penduduk asli dijadikan penduduk kelas dua yang dipekerjakan sebagai pegawai rendahan, dan pekerja kasar untuk memperoleh penghidupannya. orang-orang China keturunan Han yang banyak melakukan berbagai bentuk permusuhan dan pelecehan terhadap penduduk asli. Di mana penduduk asli diperlakukan seperti suku Indian di Amerika.

Inilah kezaliman rezim Cina! Kaum Muslim Uighur terus menderita penganiayaan beragama, budaya dan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah Cina, yang didominasi oleh suku Han di Beijing. Dengan dalih mencegah penyebaran ekstremisme Islam, Cina telah membatasi kemampuan kaum Muslim Uighur untuk melakukan perjalanan, termasuk pergi haji.

Beijing memandang kawasan Xinjiang yang luas sebagai aset tak ternilai karena lokasinya yang strategis di dekat Asia Tengah dan cadangan minyak dan gasnya yang besar. Pemerintah China tidak cukup hanya menduduki Turkistan Timur dan menggabungkannya menjadi bagian dari China, tetapi ia mengubah bentuk penjajahannya menjadi penjajahan kependudukan, di keturunan Han yang merupakan suku terbesar ke Turkistan Timur. Selanjutnya mereka diberi jabatan tinggi dan kekuasaan penuh.

Namun, seberapapun kuatnya upaya pemerintah Cina untuk menekan kaum Muslim Xinjiang, sekali-kali Cina tidak akan pernah mampu memadamkan cahaya Islam. Allah SWT berfirman: Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipudaya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya." (TQS Ash-Shaf [61] : 8)

Bercermin dari problem umat Islam di Xinjiang, nyatalah bahwa Islam dan kaum Muslim telah dijadikan musuh bersama di seluruh dunia. Memang, Cina dan AS, dalam kadar yang terbatas, khususnya di sebagian wilayah Asia, selama ini tampak bersaing berebut pengaruh politik. Namun faktanya, mereka bersatu dan bekerjasama dalam membendung pengaruh Islam dan kaum Muslim, khususnya di Xinjiang. Hal ini mengingatkan kita pada persaingan AS dan dan Rusia di panggung internasional, tetapi mereka bersatu dalam melawan apa yang mereka sebut sebagai terorisme (baca: Islam).

Kenyataan di atas makin menegaskan bahwa di dunia ini pada akhirnya hanya ada dua kubu/ideologi yang saling bersaing dan bertarung: Islam dan kekufuran (yang saat ini direpresentasikan baik oleh Kapitalisme-sekular maupun Sosialisme-komunis). Sayangnya, pertarungan antarideologi ini sangat tidak seimbang. Pasalnya, hanya ideologi Islam yang saat ini tidak diemban oleh institusi negara sejak Khilafah Islam sebagai pengembannya diruntuhkan oleh Inggris tahun 1924.
Karena itu menegakkan kembali Khilafah adalah hal yang niscata bagi kaum Muslim sedunia untuk memenangkan pertarunagn melawan ideologi Kapitalisme-sekular maupun Sosialisme-komunis. Hanya dengan itu kekuatan kekufuran yang melakukan berbagai kezaliman terhadap umat Islam di seluruh dunia, termasuk Xinjiang, bisa dihentikan. []

No comments:

Post a Comment

Adbox