Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Monday, January 13, 2020

MENELUSURI KEBERADAAN NASJO

 

Oleh : Ahmad Sastra

Ahmad Khozinuddin, SH, seorang advokat pembela Islam dan ulama dari LBH Pelita Umat kena getahnya setelah menyebarkan artikel Nasrudin Joha. Berdasarkan artikel berjudul Klarifikasi Status Hukum Ketua LBH Pelita Umat bahwa dirinya benar telah ditangkap oleh Tim Penyidik dari Direktorat Cyber Crime Mabes Polri pada pukul 02.30 dini hari (10/01) dengan status langsung tersangka. Nasrudin Joha sendiri sampai tulisan ini dibuat belum diketahui dimana rimbanya.

Bagi netizen yang akrab dengan sosial media, pasti pernah membaca artikel-artikelnya yang kadang garang, kadang lucu, kadang melankolis dan kadang penuh romantisme. Bagi yang rajin membaca goresan pena Nasjo (demikian dia biasa disebut) akan beragam dampak psikologisnya. Ada beberapa yang tidak suka dengan tulisan-tulisan Nasjo, tapi ada juga yang merasa tulisan itu mewakili suara dirinya.

Bahkan beberapa waktu yang lalu sempat ramai tagar saya nasjo, sebagai bentuk dukungan atas suara kritis yang ditujukan kepada penguasa agar penguasa menyadari kesalahannya dan kembali ke jalan yang benar. Memang harus diakui bahwa goresan pena Nasjo telah menguasai jagad medsos. Produktifitas literasinya luar biasa, bahkan saya sebagai seorang penulispun belum mampu mengejar kecepatan goresan penanya.

Goresan pena Nasjo yang menggurita dalam alam demokrasi ini justru dianggap sebagai ujaran kebencian, bukan sebagai bagian dari kebebasan berfikir dan berpendapat. Sementara ujaran-ujaran kebencian kepada Islam dan kaum muslimin justru sering kali tak dipersoalkan. Memang sayangnya Nasjo tinggal di negeri sekuler yang anti Islam, yang akhirnya penyebar tulisannya terkena delik. Nasjo sendiri sampai hari ini masih belum diketahui keberadaannya.

Tulisan ini hanya sekedar analisa dari Ahmad Sastra yang sudah biasa dan akrab dengan dunia tulis menulis. Esensi dan narasi tulisan Nasjo sebenarnya cukup baik untuk dijadikan renungan bagi bangsa ini. Saat negeri ini diliputi oleh rasa takut karena represifisme rezim, muncul seorang Nasjo yang mampu membuka tabir gelap kebekuan intelektual bangsa ini.

Mestinya bangsa ini berterima kasih kepada Nasjo, sebab ibarat kapal, negeri ini seperti kapal yang akan tenggelam karena kebocoran dimana-mana. Nah, dalam kondisi ini narasi Nasjo justru ingin menyelamatkan kapal oleng ini agar bisa diselamatkan. Bagaimana mungkin seorang yang ingin menyelamatkan negara kok malah dianggap ujaran kebencian. Disini inkonsistensi demokrasi begitu nyata dipertontonkan.

Diskursus intelektual mestinya dijadikan sebagai pilar kemajuan bangsa ini, sebab sejarah kemajuan sebuah bangsa pasti ditopang oleh keberadaan para pemikir dan ilmuwan. Jikapun tidak setuju dengan narasi Nasjo, hal itu wajar saja, sayapun tidak semua setuju dengan tulisan Nasjo, ada beberapa artikel yang saya berseberangan. Lantas saya membuat tulisan untuk mengimbangi narasi Nasjo.

Perbedaan pendapat, selama dibangun dengan argumen dan diimbangi dengan argumen, maka akan melahirkan produktifitas intelektual yang sangat berguna bagi kemajuan sebuah bangsa. Namun jika argumentasi justru dilawan dengan persekusi, ini adalah kemunduran sebuah bangsa. Apakah sejarah Galileo akan terulang di negeri ini hanya karena ada perbedaan pendapat antara intelektual dengan penguasa, meskipun kaum intelektual dalam posisi yang benar secara saintifik.

Kembali kepada narasi dan esensi Nasjo yang secara kritis mampu memberikan analisa sekaligus solusi atas persoalan multidimensi negeri ini, meski tentu tidak semua benar, maka mestinya diskursus ini harus bisa dinikmati oleh bangsa ini. Represifisme rezim atas perbedaan pendapat justru akan dicatat sebagai sejarah buruk oleh generasi mendatang. Sebab siapapun penguasa di negeri ini tidak akan lama, sebab umur manusia juga tidak lama, namun mewariskan kebaikan kepada generasi penerus adalah sebuah keharusan.

Apa yang hendak diwariskan oleh penguasa kepada rakyatnya dengan sikap represif atas perbedaan pendapat rakyatnya sendiri. Perbedaan pendapat adalah aset bagi kematangan intelektual suatu bangsa. Jika semua disekapi dengan bijak, maka perbedaan pendapat akan menjadi energi positif bagi upaya perbaikan carut marut negeri ini. Dalam Islam menasehari penguasa agar berjalan di atas jalan kebenaran adalah bagian dari kewajiban dakwah.

Dengan demikian, dimana keberadaan Nasjo menjadi tidak terlalu penting jika kita sebagai bangsa yang memiliki kematangan intelektual. Sebab narasi bisa dibalas dengan narasi, argumentasi bisa diimbangi dengan argumentasi, bukan dengan persekusi. Toh masyarakat sekarang sudah sangat cerdas dan terbuka informasi, sudah bisa membedakan mana yang benar dan yang salah.

Dengan narasi dan esensi goresan pena Nasjo, sebenarnya Nasjo tidak bersembunyi, tapi telah menjadi bagian dari pemikiran dan perasaan banyak orang, terlepas dari beberapa orang yang berseberangan. Nasjo adalah narasi yang keberadaannya justru sangat mudah dideteksi. Dia tidak bersembunyi di tempat yang jauh, tapi tinggal di tempat terdekat, yakni di pikiran dan perasaan rakyat Indonesia.

Namun bagi yang berseberangan dengan narasi Nasjo, tidaklah jadi masalah, justru bagus dan perlu dipelihara. Saya sendiri (Ahmad Sastra) sering menulis kontra Nasjo sebagai bentuk perimbangan intelektual agar memperkaya sudut pandang atas pembacaan persoalan bangsa ini. Bangsa ini juga harus menghargai rakyat banyak yang merasa diwakili oleh narasi Nasjo.

Adalah lebih bijak bagi bangsa ini jika mau merenungkan bahwa penguasa bukanlah pemegang otoritas kebenaran. Namun rakyat juga bukan berarti selalu salah atau sebaliknya selalu benar. Sebab sumber kebenaran hanyalah milik Allah Sang Pencipta manusia, kehidupan dan alam semesta ini. Kedaulatan hukum hanyalah milik Allah, manusia hanya diberikan amanah sebagai khalifah untuk menjalankannya secara amanah dengan penuh tanggungjawab.

Jadi Nasjo dimana ?. Mungkin berada di pikiran dan perasaan rakyat Indonesia. Tapi bisa jadi juga sedang diintai agar keluar dari pikiran dan perasaan rakyat. Hal ini sangat bergantung kepada kita untuk memilih berdiri dimana, apakah berdiri dalam perjuangan kebenaran atau berdiri sebagai pecinta kesesatan. Yo wes lah, terserah aja, sak karepe dewe wae yo.

*(AhmadSastra,KotaHujan,13/01/20 : 18.30 WIB)*

No comments:

Post a Comment

Adbox