Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Sunday, January 19, 2020

Kritik Atas Rencana Pemerintah Mengurangi Subsidi Elpiji 3 Kg



Lukman Noerochim
(Stafsus FORKEI)

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan akan menerapkan subsidi tertutup untuk gas 3 kilogram (kg). Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan hal tersebut dilakukan terkait pengurangan subsidi.

"Semua subsidi akan bertahap dikurangi, tapi kita berikan langsung ke yang membutuhkan," kata Luhut di kantornya, Jumat (17/1).

Luhut menjelaskan selama ini subisidi yang diberikan kepada masyarakat, salah satunya gas 3 kg kurang efisien. Dia menegaskan meski subsidi gas 3 kg dilakukan secara tertutup namun tidak akan merugikan masyarakat.

"Saya pastikan, pemerinta itu tidak ada rencana untuk merugikan masyarakat. Ini konteksnya efisiensi," tutur Luhut. (https://m.republika.co.id/berita/q48mes383/luhut-semua-subsidi-secara-bertahap-akan-dikurangi)

Catatan

1. APBN 2020 masih bertumpu pada pendapatan pajak dan cukai. Pajak makin dijadikan sandaran penerimaan negara. Sebaliknya, penerimaan dari sumberdaya alam dan BUMN justru tidak dioptimalkan. Ini sungguh aneh! Pasalnya, negeri ini memiliki kekayaan alam yang sangat besar dan BUMN yang jumlahnya cukup banyak. Namun, sumbangan penerimaan dari hasil kekayaan alam dan BUMN justru tidak dinaikkan.

2. Target penerimaan pajak yang makin besar. Masalahnya, dalam perekonomian yang melambat, optimisme penerimaan pajak dengan basis asumsi seolah-olah ekonomi berjalan normal jelas kurang sejalan. Perusahaan dan pelaku usaha akan sulit ditingkatkan pungutan pajaknya dalam situasi perekonomian melambat.

3. Di sisi lain, negeri ini memiliki kekayaan alam yang sangat besar. Sayang, kekayaan yang besar itu bukannya dimaksimalkan untuk penerimaan negara dengan dikuasai dan dikelola langsung oleh negara, tetapi sebagian malah diserahkan kepada swasta bahkan asing.

4. Pengurangan subsidi dianggap sejumlah pengamat akan menambah jumlah penduduk miskin.

5. Pengurangan subsidi pada APBN secara terus-menerus itu akan makin memberatkan beban rakyat yang sudah sangat berat.

6. Ironisnya utang luar negeri makin besar. Semakin besar utang berarti makin besar bahaya bagi negeri ini. Pasalnya, selama ini utang luar negeri menjadi alat campur tangan dan kontrol pihak asing terhadap kebijakan Pemerintah. Artinya, utang menjadi alat penjajahan asing, antara lain dengan mendiktekan UU di negeri ini sesuai keinginan mereka, bahkan sejak pembuatan draft-nya. Lahirlah banyak UU bercorak liberal yang lebih menguntungkan mereka dan merugikan rakyat.

7. Selain itu, saat utang makin menumpuk, APBN yang notabene uang rakyat makin tersedot untuk bayar utang plus bunganya. Semua itu adalah untuk kepentingan para pemilik modal, termasuk pihak asing. Sebaliknya, alokasi anggaran untuk kepentingan rakyat, khususnya dalam bentuk subsidi, terus dikurangi bahkan bakal dihilangkan sama sekali.

No comments:

Post a Comment

Adbox