Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Thursday, January 9, 2020

Iran - AS, Antara Perang Dan Damai



Taufik S. Permana
(Geopolitical Institute)

Hubungan Iran-AS dinamis, mengalami pasang surut sejak puluhan tahun silam. Namun sejak Trump memimpin, hubungan Iran-AS terus menerus memanas, puncaknya usai kematian Qasem Soleimani di Bandara Internasional Baghdad, Jumat (3/1/2020) dini hari waktu setempat.

Qasem dikabarkan dibunuh komandan pasukan elit al-Quds Iran dan menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di Negeri kaya minyak itu. Atas kematian Qasem, Iran bersumpah akan melakukan balas dendam terhadap AS.

Sejumlah asumsi menyatakan bahwa semua ketegangan Iran - AS di wilayah Teluk sebagai isyarat bahwa perang telah berada di ambang pintu, namun dilihat dari pernyataan - pernyataan kedua pihak, Amerika dan Iran, memberi potret lain bahwa perang dijauhkan kemungkinannya.

Pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei mengatakan tidak akan ada perang dengan Amerika Serikat, dalam komentar yang dipublikasikan di media pemerintah dan di situs jejaring sosial Twitter. Ayatollah Ali Khamenei mengatakan: "Kami tidak berusaha ke arah perang, mereka juga tidak berusaha ke arah perang" (BBC, 14/5/2019).

Reuters, 16/5/2019 – Surat kabar New York Times pada Kamis mengutip dari para pejabat di pemerintah Amerika yang tidak disebutkan namanya, bahwa presiden Donald Trump memberitahu pelaksana tugas Menteri Pertahanan Patrik Shanahan bahwa dia tidak ingin terjun dalam perang dengan Iran. New York Times mengatakan bahwa presiden memberitahu Shanahan komentar ini pada Rabu pagi.

Penjabat Menteri Pertahanan AS Patrick Shanahan mengatakan dalam konferensi pers bahwa tujuan pemerintah AS dari memperkuat kehadiran militernya di Teluk Arab adalah "untuk mencegah Iran dan bukan untuk terjun dalam perang melawan Iran. Kami tidak akan pergi untuk berperang." (France 24, 22/5/2019).

Pernyataan-pernyataan Amerika dan Iran ini menunjukkan bahwa apa yang dilaporkan oleh media tentang perang Amerika-Iran yang sudah di ambang pintu, laporan itu diliputi oleh keraguan. Yang paling jelas dari pernyataan itu adalah pernyataan meyakinkan dari pemimpin Iran kepada rakyatnya bahwa Iran tidak berjalan ke arah perang dan Amerika juga tidak berjalan ke arah perang. Artinya, perang sesuai pernyataan-pernyataan dengan menghancurkan Iran atau penghancuran kapal perang Amerika di Teluk, dijauhkan kemungkinan akan terjadinya perang.

Hal yang sedang terjadi adalah Amerika memainkan permainan konflik politik secara terbuka dengan Iran untuk menandatangani perjanjian nuklir baru dengan Iran yang juga mencakup program misil dan pengaruhnya di wilayah tersebut.  Untuk itulah terjadi kunjungan Menteri luar negeri AS Mike Pompeo ke Irak.

Amerika ingin memainkan permainan terbuka dengan Iran untuk menandatangani perjanjian nuklir baru dengan Iran yang juga mencakup program misil dan pengaruhnya di wilayah tersebut.  Untuk itulah terjadi kunjungan Menteri luar negeri AS Mike Pompeo ke Irak.

No comments:

Post a Comment

Adbox