Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Thursday, January 2, 2020

Dampak Maksiat Adalah Lemah dalam Beribadah, Kesulitan hidup, Berkurangnya Nikmat



Suhari
(Majelis Taklim Nahdlatul Ummah)

Sangat penting bagi setiap mukmin khususnya pengemban dakwah untuk sejauh mungkin menghindari dosa, baik yang kecil apalagi yang besar.
Dalam hal ini, tampaknya kita perlu belajar banyak kepada para ulama salafush-shalih terdahulu. Salah satunya kepada Imam Abdurrahman, salah seorang ulama Syafiiyah yang terkenal dengan sifat wara'-nya.

Sayyidina 'Ali berkata, "Dampak maksiat adalah lemah dalam berbadah, kesulitan hidup, berkurangnya nikmat" Ketika beliau ditanya, "Seperti apa berkurangnya nikmat?" Beliau jawab, "Tidak akan mendapatkan dorongan pada perkara yang halal, kecuali membuatnya gelisah" (As-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa', h. 144)

Dijelaskan dalam kitab
Fashlul Khithab fi al-Zuhd wa al-Raqaiq wa al-Adab – al-Juz al-Tsani: 

Sebelum Anda bermaksiat kepada Allah, ingatlah, siapa diri Anda?

Siapa Anda wahai si miskin hingga Anda berani bermaksiat kepada Tuhan semua (makhluk) dari yang pertama hingga yang terakhir, serta Tuhan semesta alam?

Siapa Anda wahai si lemah, yang tidak memiliki untuk dirinya sendiri manfaat, bahaya, daya dan kekuatan, hingga Anda berani bermaksiat kepada Dzat Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa sehingga segala sesuatu tunduk pada-Nya; kebesarannya meliputi semua yang ada; kekuasaannya mampu memaksa semuanya; dan kekuatannya mengelilingi semua makhluknya.

Ingatlah, siapa Anda, dan siapa Dzat Yang Maha Agung yang Anda bermaksiat kepada-Nya. Sementara Anda miskin dan sangat butuh kepada-Nya.

Dan ingatlah bahwa seberapa besar Anda mengagungkan Allah di dalam hati Anda, maka sebesar itu pula kedudukan Anda di sisi-Nya. Allah SWT berfirman:

﴿وَمَن يُعَظِّمۡ حُرُمَٰتِ ٱللَّهِ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥ عِندَ رَبِّهِۦۗ ٣٠﴾

"Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya." (TQS. Al-Hajj [22] : 30).

Bertobat adalah amal yang utama. Tobat tentu harus dilakukan dalam bentuk tawbatan nashuha secara menyeluruh

Ali bin Abi Thalib radhiyalLah 'anhu menjelaskan bahwa tobat harus menghimpun enam hal: 1. menyesal atas dosa yang telah lalu; 2. kembali melaksanakan kewajiban; 3. menolak atau mengembalikan kezaliman (mengembalikan hak kepada yang berhak); 4. mengurai persengketaan; 5. ber-'azam tidak akan mengulangi kemaksiatan itu; 6. menggiatkan diri dalam ketaatan seperti dulu membiasakan diri dalam kemaksiatan (Imam al-Baydhawi, Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta'wil, tafsir QS at-Tahrim: 8).

Karena itu untuk melakukan tawbatan nashuha itu kita harus: Pertama, menyesali kemaksiatan yang dilakukan. Bahkan menurut Imam an-Nawawi, an-nadam (penyesalan) ini adalah rukun utamanya. Kedua, memohon ampunan (istighfar) kepada Allah. Ketiga, berhenti dan meninggalkan kemaksiatan itu. Keempat, bertekad tidak mengulangi kemaksiatan itu pada masa datang. Kelima, meng-qadha' kewajiban yang ditinggalkan yang memang harus di-qadha'. Keenam, mengembalikan hak kepada pemilik hak dan atau meminta bara'ah (pembebasan) dari orang yang haknya dilanggar. Tentu tobat menjadi tidak bermakna jika hak orang yang dilanggar masih terus dikangkangi.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox