Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Thursday, January 9, 2020

China Terus Membuka Catatan Gelap Bagi Muslim Uighur, Sementara Penguasa Sekuler di Negeri Muslim Diam... Baik Kami Ingat! Tidak Kami Lupakan!



Achmad Fathoni
(Direktur el Harokah Research Center)

China menghadapi protes internasional karena menahan sekitar satu juta muslim Uighur lain di satu kamp di barat daya Xinjiang. Awalnya Beijing menyanggah adanya kamp di Xinjiang namun kemudian mengatakan kamp itu adalah tempat pelatihan yang perlu dilakukan untuk menangani terorisme.

Para pakar PBB mengatakan "tempat penahanan tak jelas, penghilangan paksa dan persidangan rahasia tak bisa dijalankan di satu negara yang memiliki hukum."

Bukan rahasia lagi, pemerintah Cina menganggap keberadaan Muslim Uyghur di Provinsi Xinjiang sebagai pihak yang mengganggu kestabilan dan keamanan. Menurut surat kabar Xinjiang Daily (10/2014), pertempuran melawan ekstremisme tidak dapat dihindari karena ekstremis keagamaan ini adalah bentuk halangan bagi stabilitas keamanan. Cina terus menyebarkan retorika melawan Muslim Uyghur yang mereka sebut teroris dan ekstremis.

Pemerintah China tidak cukup hanya menduduki Turkistan Timur dan menggabungkannya menjadi bagian dari China, tetapi ia mengubah bentuk penjajahannya menjadi penjajahan kependudukan, di mana ia memindahkan sekitar delapan juta bangsa China dari keturunan Han yang merupakan suku terbesar ke Turkistan Timur. Selanjutnya mereka diberi jabatan tinggi dan kekuasaan penuh. Sementara penduduk asli dijadikan penduduk kelas dua yang dipekerjakan sebagai pegawai rendahan, dan pekerja kasar untuk memperoleh penghidupannya.

Sungguh tindakan-tindakan permusuhan terhadap kaum Muslim di Turkistan Timur yang diduduki oleh Cina mencerminkan sejauh mana kebencian rezim komunis terhadap Islam, juga merupakan ketakutan dari negara Cina akan pengaruh Islam yang besar pada masyarakat Cina. Ini menunjukkan sisa-sisa doktrin komunis yang represif dan memiliki warisan sejarah penganiayaan agama minoritas masih tetap berakar kuat dalam negara. Meski ideologi Komunisme di dunia telah runtuh, Muslim Uighur merasakan tekanan dalam kehidupan mereka dari segala penjuru. Hak - hak beragama mereka dirampas secara sistematis dan keji, juga hak mereka untuk berkeluarga dan memiliki keturunan. Partai Komunis yang berkuasa telah berupaya secara berkala untuk membasmi hijab dan busana Muslimah sejak mengambil kekuasaan di tahun 1949. Pertama kali meluncurkan upaya-upaya ateisme dan kemudian melarang jilbab sama sekali di tahun 1960-an dan 70-an.

Muslimah Uyghur bukan hanya harus berhadapan dengan kebijakan represif yang mengancam identitas mereka dengan larangan hijab, namun juga harus dihadapkan dengan kebijakan brutal yang merusak rahim-rahim mulia mereka dengan program aborsi dan sterilisasi massal yang amoral! Program brutal yang lahir dari penguasa kriminal Cina yang membenci Islam dan ketakutan akan lahirnya generasi mujtahid dan mujahid Islam yang mampu mengembalikan kejayaan Islam di Turkistan Timur dan seluruh penjuru dunia Islam. Sebabnya, dari rahim-rahim mulia kaum Muslimah di Uyghur dan Muslimah di seluruh dunia akan lahir generasi pemimpin umat yang akan membawa umat ini dari kegelapan menuju cahaya.

Inilah salah satu realitas penderitaan kaum Muslim dan muslimah yang menyedihkan di timur Dunia Islam. Mereka adalah korban tak berdaya dari serigala - serigala penguasa kufar yang dibiarkan eksis oleh sistem dunia yang diskriminatif terhadap Umat Islam. Selama sistem dunia masih memuja demokrasi dan sekularisme, maka penderitaan kaum Muslimah di Xinjiang, Turkistan Timur niscaya tidak akan pernah berakhir. Pasalnya, pangkal masalah dari semua penderitaan ini tidak lain adalah tidak hadirnya Khilafah yang merupakan perisai bagi umat Islam, yang akan menghilangkan hegemoni kufar atas kaum Muslim dan melindungi kehormatan kaum Muslimah dan anak-anak di seluruh dunia Islam.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox