Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, January 28, 2020

CHINA TERKAPAR KARENA VIRUS CORONA, BAGAIMANA REZIM JOKOWI DENGAN BPJS-NYA?



Aminudin Syuhadak
LANSKAP

Presiden China Xi Jinping mengadakan pertemuan dengan elite Partai Komunis China saat Tahun Baru Imlek. Dalam pertemuan, mereka membahas wabah virus corona yang melanda negaranya dan Xi Jinping menyebut penyebaran virus yang cepat menjadikan China dalam situasi yang serius.

Dilansir Associated Press, Minggu (26/1/2020), ada lebih dari 1.200 orang dan 41 orang tewas karena terinfeksi virus corona. Pemerintah China didesak untuk segera menyelesaikan penyebaran virus corona. (Detik.com/26/1)

*Komentar*

Lebih dari sedekade terakhir RRC melejit menjadi negara yang sangat kuat bahkan melebihi negara-negara Eropa, Jepang, Korea dan menjadi ancaman sangat serius bagi hegemoni AS di dunia baik urusan ekonomi maupun politik internasional. Sengitnya perang dagang antara mereka dan rezim Trump menjadi bukti "kesaktian" China.

Dengan kekuatan anggaran Yang sangat liquid menjadikan China sebagai raksasa ekonomi dunia. Inisiasi OBOR/ BRI yang membentang dari Eropa, melintasi Afrika hingga Asia Timur Jauh menggambarkan ambisi sekaligus kekuatan China yang "mengerikan". Pemerintahan Xin Jinping seolah begitu mudah mendikte negara lain semisal menerapkan skema Turnkey Project yang notabene sangat merugikan negara-negara yang bekerja sama dengan mereka, termasuk di negeri ini.

Namun kali ini kehebatan RRC dihadapkan pada ganasnya wabah virus Corona. Gambaran fakta pada kutipan di atas menunjukkan betapa serius kasus ini. Saat wabah SARS pada 2003 lalu saja mereka menderita kerugian lebih dari USD 40 miliar. Menjadi menarik dinantikan apakah ketahanan ekonomi dan politik negara komunis ini mampu menundukkan ganasnya 'kekuatan alam' yang direpresentasikan makhluk super kecil bernama virus Corona.

Dalam perspektif lain dengan pesebaran wabah ini ke sejumlah negara -kabar terakhir sudah sampai ke Malaysia- adalah soal kemampuan rezim Jokowi mengantisipasi wabah tersebut jika menghinggapi Indonesia. Siapkah? Menilik dari sengkarut kerugian puluhan triliun rupiah yang dialami BPJS, ditambahi megakorupsi Jiwasraya yang belum berujung, serta tersedotnya anggaran pusat maupun anggaran pemerintah daerah untuk menanggulangi kerugian akibat beberapa bencana seperti banjir dan longsor baru-baru ini maka menjadi pertanyaan besar apakah pemerintahan Jokowi akan mampu menghadapi wabah virus Corona?

Belajar dari kasus wabah SARS pada 2003 lalu rezim Megawati mengalokasikan sekitar 120 miliar rupiah (https://nasional.tempo.co/read/8920/pemerintah-siapkan-dana-rp-120-miliar-untuk-atasi-sars). Sementara hingga saat ini sama sekali belum keluar rilis resmi dari pemerintah terkait persiapan penanggulangan  wabah virus corona. Tentu saja ini mengkhawatirkan masyarakat Yang sangat mungkin akan panik jika wabah tersebut melanda Indonesia. Apalagi berbagai konten wabah corona sangat deras mengalir di berbagai platform media sosial.

Ketidaksigapan rezim Jokowi ini bisa memunculkan simpang siur informasi dan ini tentu akan sangat merugikan masyarakat. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Kelambatan respon rezim ini patut disayangkan mengingat tidak semua masyarakat memiliki kesadaran yang baik terkait kesehatan maupun kebersihan lingkungan. Masyarakat pun minim kapasitas kemampuannya untuk meng-cover biaya kesehatan secara mandiri. Dengan situasi BPJS saat ini apakah mungkin bisa diandalkan untuk mengantisipasi biaya kesehatan jika terjadi wabah corona? Akankah masyarakat harus berjibaku sendiri dan "berdarah-darah" lagi seperti saat menghadapi wabah SARS dulu?

Padahal  menurut kajian yang dilakukan oleh Dana Moneter Internasional (IMF) menyebutkan bahwa kondisi saat ini sangatlah rentan dengan penyebaran wabah. Dampak ekonominya pun bukan main-main. Menurut kajian IMF tersebut ongkos yang ditanggung akibat adanya pandemi flu hampir setara dengan ongkos akibat perubahan iklim. Nilai kerugian yang harus ditanggung mencapai US$ 570 miliar (Rp 7.787,45 triliun dengan kurs saat ini) tiap tahunnya. Sebagai perbandingan, angka tersebut lebih dari setengah output perekonomian Indonesia tahun 2018. (https://www.cnbcindonesia.com/news/20200122130436-4-131892/horor-kerugian-akibat-virus-corona-bisa-capai-rp-7787-t/2)

Kapankah Jokowi akan bicara?[]

No comments:

Post a Comment

Adbox