Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Monday, January 13, 2020

China Curi Ikan di Natuna, Indonesia Bisa Apa?



Muntik A. Hidayah

Masih hangat di media tentang kapal China yang mencuri ikan di wilayah perairan Indonesia, Laut Natuna. Pada 24 Desember 2019 kapal China menangkap ikan dengan pukat harimau yang turut didampingi pula oleh dua kapal penjaga pantai dan satu kapal pengawas perikanan China. Kehadiran kapal asing ini tentu sangat berpengaruh pada nelayan lokal. Mereka menjadi takut untuk melaut karena khawatuir akan ada ancaman, pun perolehan ikan turun drastis dari yang semula satu kelompok nelayan bisa mendapat 4 box penuh dengan muatan masing-masing 100 kg hanya bisa memperoleh 1 box ikan saja.

Lantas bagaimana respon yang telah diberikan terhadap China atas pelanggaran wilayah ZEE Indonesia ini? Dilansir dari Liputan6.com (5/1) menurut penuturan Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I TNI Laksamana Madya TNI Yudo Margono langkah yang ditempuh masih bersifat persuasif dan mengutaman perdamaian. Hal serupa juga dituturkan oleh Menteri Pertahanan dan Keamanan, Prabowo Subianto, yang menuturkan akan mencari solusi terbaik sehubungan dengan status China sebagai negara sahabat.

Wajar saja jika sejauh ini Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa. Menindak tegas hingga menenggelamkannya mungkin hanya bisa menjadi angan-angan saja. Saat ini hal paling memungkinkan adalah ‘merayu’ kapal-kapal itu untuk kembali pulang. Bagaimana tidak, dengan jumlah hutang yang demikian menggunung pada China sangat mustahil untuk menentangnya dan berlagak punya kedaulatan sedang infrastruktur yang kini sedang digencarkan pembangunannya hutang pakai duit China. Dilansir dari Kompas.com (4/1) dari data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI), per September 2019 utang Indonesia pada China tercatat sebesar 17,75 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 274 triliun (kurs Rp 13.940).

Melalui jalur ekonomi China berhasil menekan Indonesia dan sedikit demi sedikit merenggut kedaulatannya. Setelah semua investasi itu yang kononnya untuk kepentingan rakyat, namun faktanya sebut saja proyek jalan tol, sudahlah pemukiman mereka digusur dengan kompensasi yang tidak seberapa, pun harus membayar mahal untuk menikmati fasilitas itu.
Padahal sejatinya ia merupakan hajat hidup orang banyak yang semestinya pemerintah berkewajiban seutuhnya dalam menyediakannya secara gratis atau murah. Tidak cukup sampai di sana, hari ini nelayan lokal di sekitar Laut Natuna takut untuk melaut yang notabene mata pencaharian mereka sedang pemerintah tak sanggup ambil tindakan tegas. Lantas bagaimana mereka akan memenuhi kebutuhan hidupnya?

Inilah dampak dari ekonomi kapitalisme. Ketika yang kaya semakin kaya dan yang miskin dipaksa terus menyuapi mulut penuh mereka. Indonesia dengan segala sumber daya alam yang seolah tiada habisnya tak lagi berdaya ketika dililit hutang menggunung dengan bunga yang terus beranak-pinak. Indonesia kini hanya menjadi si miskin yang terus diperas habis daya hidupnya dengan jeratan rantai investasi yang terus dipanjangkan.

Solusi hakiki atas permasalahan ini tidak lain adalah kembali kepada Islam secara seutuhnya, menerapkan Islam kaffah.
Lupakah kita ketika Daulah Khilafah menguasai dunia selama 1300 tahun lamanya dengan segala wibawa dan kehormatannya. Menjadi negara adidaya yang tak terkalahkan dan ditakuti oleh negara lain. Bahkan Amerika yang hari ini menjadi negara adidaya dengan semua kuasanya dulu hanya negara kecil yang memohon pertolongan pada Daulah Islam Turki Utsmani kala mengalami kebakaran yang menghabiskan hutan-hutan dan pemukiman warganya.

Dengan bersatunya seluruh kaum muslimin yang saat ini tersebar di seluruh dunia dan terpisah dengan negeri-negeri kecil maka akan menjadi kekuatan besar dan kokoh seperti sedia kala. Penerapan hukum Allah ﷻ adalah jaminan akan kesejahteraan dan kemuliaan hidup seluruh umat manusia. Cengkeraman rantai kapitalisme asing dan aseng pun akan terlepas dengan sendirinya.
Jangankan untuk mencengkeram, sekadar menengadahkan kepala untuk memandang Daulah Islam pun tak akan berani mereka lakukan. Jaminan Allah ﷻ dalam QS. An-Nisa’ ayat 141:

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا
“Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.”
Hadanallahu waiyyakum. []


No comments:

Post a Comment

Adbox