Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Saturday, September 26, 2020

Memata - Matai Indonesia Adalah Bentuk Permusuhan!

September 26, 2020
  Fajar Kurniawan (Analis Senior PKAD) Dari 2,4 juta orang yang ada di database mulai dari 35.000 warga Australia dan 2.100 WNI data bocor d...
Continue Reading

Indonesia Resesi?

September 26, 2020
  Lukman Noerochim (stafsus FORKEI) Ekonomi global dunia saat ini mengalami krisis yang cukup serius. Dampak buruk dari resisi ekonomi dunia...
Continue Reading

Cina Menyiapkan Perlawanan Militer Raksasa Yang Membuat Kemungkinan Riil Untuk Mengancam Keunilateralan Politik AS di Dunia

September 26, 2020
  (Sebuah Analisis ) Umar Syarifudin (Pengamat Politik Internasional) Dikabarkan The Hoan Cau Times, sub-publikasi People's Daily, coron...
Continue Reading

Sekeranjang Bunga Untuk Diktator Komunis Kim Jong-un Dari Presiden Indonesia?

September 26, 2020
  Agung Wisnuwardana (Strategic And Military Power Watch) Dikutip dari liputan6.com Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un menerima sek...
Continue Reading

TUNDA PILKADA ATAU UBAH CARANYA DEMI KESELAMATAN BERSAMA

September 26, 2020
  Oleh Wahyudi al Marok (Dir. PAMONG Institute) Nasihat dari para tokoh dan ulama untuk menunda pilkada belum juga didengar penguasa. Nasiha...
Continue Reading

Ban Menggelinding Di Pusaran Fiksi Perang Melawan Teror

September 26, 2020
Agung Wisnuwardana (Strategic And Military Power Watch) Selama 2 dasawarsa terakhir, suatu opini global telah dibangun bahwa Islam radikal, ...
Continue Reading

Friday, September 25, 2020

Sisi Gelap Demokrasi: Teror, Penahanan Rahasia, Penculikan, Politik Dinasti

September 25, 2020
  Hadi Sasongko (Direktur POROS) Demokrasi dan Kapitalisme diklaim sebagai pembawa kebaikan. Di sisi lain Perang Melawan Teror dan radikalis...
Continue Reading

Menhan Menanam Singkong, Hankam Siapa yang Mengurus?

September 25, 2020
  Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP)  Pada tanggal 9 Juli lalu, Presiden Jokowi menunjuk Menhan Prabowo Subianto berpartisipasi dalam progr...
Continue Reading

Thursday, September 24, 2020

Menolak Visi Sekuler

September 24, 2020
Achmad Fathoni (Direktur el Harokah Research Center) Secara historis, sekularisme masuk ke Indonesia secara paksa melalui proses penjajahan,...
Continue Reading

Demokrasi dan Pseudo Suara Mayoritas

September 24, 2020
Oleh : Kurdiy AtTubany (Swasembada Center) Tok, Pemerintah dan DPR Sepakat Meneruskan Tahapan Pilkada. Demikian judul berita sebuah media on...
Continue Reading

Wednesday, September 23, 2020

Larangan Kanz al Maal

September 23, 2020
  Indarto Imam Kanzu adalah mashdar dari kanaza–yaknizu–kanz [an]. Al-Kanzu secara bahasa artinya harta yang dipendam. Al-Kanzu juga merupak...
Continue Reading

Politik Dan Islam

September 23, 2020
  Taufik S. Permana (Geopolitical Institute) Politik tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita. Dalam sistem sekular, politik lebih didasark...
Continue Reading

Apakah Rasulullah Berpolitik?

September 23, 2020
  Ilham Efendi (Revival Circle Forum) Ada sebagian umat yang menyatakan bahwa dakwah Rasulullah saw. hanyalah merupakan gerakan keagamaan ya...
Continue Reading

Urgensi Mengoreksi Pemimpin

September 23, 2020
  Suardi Basri (el Harokah Research Center) Menasihati para penguasa menyimpang dan zalim secara terang-terangan adalah bavian dari muhasaba...
Continue Reading

Dia Tidak Akan Mencium Harumnya Surga

September 23, 2020
Boedihardjo, S.H.I Harapan rakyat tentu adalah dipimpin oleh pemimpin yang bersih, adil dan amanah. Untuk menilai apakah pemimpin betul-betu...
Continue Reading

Tuesday, September 22, 2020

Demam K-Pop dan Drakor, Generasi Jadi Pengekor

September 22, 2020
  Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP)  Wapres Ma'ruf Amin ikut berkomentar tentang tren K-Pop dan Drakor. Menurutnya hal demikian bisa m...
Continue Reading

LOCK DOWN 59 NEGARA, MEREKA TAKUT ATAU TAK PERCAYA KITA? (Catatan Diskusi Baitul Ilmi TV) Oleh: Wahyudi al Maroky (Dir. PAMONG Institute) Era wabah corona belum juga berakhir. Korban yang sakit terus bertambah dan wilayahnya terus meluas. Bahkan korban nyawa pun terus meningkat. Di sisi lain, Upaya yang dilakukan Pemerintah tak begitu dianggap oleh negara lain. Ada 59 negara di dunia yang melakukan lock down. "Bukan hanya WNI tidak diterima masuk ke 59 negara itu, bahkan ada 11 negara, seperti Amerika Serikat dan Australia mengimbau warganya untuk tidak pergi ke Indonesia, karena penyebaran COVID-19 dan fasilitas kesehatan yang tidak memadai," ujar Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid dalam keterangannya, Kamis (10/9) (detik.com, 10/9). Mengapa begitu banyak negara yang bersikap demikian? Apakah mereka begitu takut dan segan kepada kita? Atau karena kita tak dipercaya mereka? Untuk membahas hal itu, Baitul Ilmi TV dan Hidup Berkah Channel menggelar diskusi pada Ahad, 20/09/20. Diskusi yang digawangi Supriyono Aries, S.E., M.M. itu mengambil tema “Dilock Down 59 Negara, Rezim Gagal Atasi Pandemi?” Dari diskusi tersebut, Penulis memberikan 3 catatan penting sebagai berikut: PERTAMA; Negara mereka ingin melindungi warganya. Kita mesti memaklumi dan memahami bahwa negara-negara yang melakukan Lock down itu demi melindungi warga negara mereka. Ini merupakan salah satu tujuan dibentuknya sebuah negara, yakni untuk melindungi segenap warganya. Jadi jangan marah pada mereka. Semestinya negara kita juga melakukan hal yang sama demi mencegah menularnya wabah yang mengancam nyawa warga negara kita. Bukankah dalam konstitusi kita juga termuat salah satu tujuan negara adalah untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah indonesia? Jika saja dulu kita serius dan mengambil langkah lock down seperti 59 Negara itu, bisa jadi wabah dari Wuhan-China itu, tak sampai masuk negara kita. Bahkan kala itu penulis sudah mengingatkan dalam sebuah artikel yang berjudul “Menangani Wabah Corona Belajar pada Khalifah Umar”. Ya, Khalifah Umar kala itu melakukan Lock down atau karantina wilayah agar tak terjadi pergerakan manusia dari daerah wabah ke daerah yang aman. Namun semua sudah terjadi. Wabah sudah masuk negeri ini, korban nyawa sudah ribuan. Itu korban nyawa yang bukan sedikit. Sedangkan di Sisi Allah Sang pencipta Manusia dan alam semesta, sangatlah menghargai nyawa manusia. Bahkan diibaratkan, hancurnya dunia ini lebih ringan dibanding satu nyawa manusia yang mati tanpa haq. Hal ini mestinya jadi acuan bagi penguasa untuk menangani wabah corona. Bukan semata lebih utama pertimbagan ekonomi. KEDUA; Negara Mereka tak Percaya kita. Jika saja mereka percaya bahwa penanganan wabah corona sangat baik dan sesuai standar Internasional yang aman, tentu mereka tak perlu khawatir. Apalagi sampai melakukan lock down. Bisa jadi pemerintah kita sudah mengeluarkan dokumen resmi bahwa yang pergi dan masuk negara mereka itu mengantongi surat Bebas dari virus corona. Namun tetap saja negera mereka tak begitu yakin dan merasa aman. Hal tersebut bisa saja terjadi. Tentu mereka juga memantau dan punya catatan atas praktek surat menyurat dinegeri ini. Apalagi masih segar ingatan publik atas kasus Koruptor Kakap Joko Tjandra yang bisa masuk dan keluar negeri ini dengan leluasa. Bahkan ia bisa mengurus berbagai dokumen dan mendapat kawalan khusus oknum Aparat penegak hukum. Ini pun bisa jadi catatan pertimbangan negara lain. KETIGA; Negara Mereka Tak Perlu Kita. Jika saja posisi kita sangat diperlukan oleh 59 negara yang melakukan lock down itu tentu kita punya posisi daya tawar yang baik. Mereka tentu akan memberikan beberapa pertimbangan dan pengecualian. Bahkan mereka akan mengundang dan memeberikan fasilitas khusus untuk keperluan mereka. Ibarat kita melakukan lock down, tidak menerima orang luar datang ke rumah kita. Namun karena kita perlu Gas untuk menghidupkan kompor dan memasak maka tetap saja tukang gas boleh datang ke rumah kita. Ia bahkan diharapkan segera datang untuk mengganti tabung gas yang habis dan memasang yang baru. Demikian juga soal air Minum, ketika stok air minum habis maka kita akan meminta penjual Galon minuman untuk datang dan mengganti stok galon minuman kita. Intinya, meski dalam kondisi pandemi C-19 (covid-19), kita memang menolak semua orang asing datang kerumah kita namun karena kita perlu dan membutuhkan maka ada beberapa orang yang punya daya tawar untuk bisa datang ke rumah kita karena memang diperlukan. Dalam menangani wabah semestinya semua saling bahu membahu berupaya dan tentu dibarengi dengan berdoa. Ibarat sebuah keluarga yang di dalam rumahnya ada 10 orang (ayah, ibu, anak, kakek, nenek, dan asisten Rumah tangga), ada yang terkena virus berbahaya. Lalu sang Ayah tampil sebagai pemimpin yang tegas dan penuh tanggungjawab. Ia Melakukan lock down. Mengumumkan kepada masyarakat dan tetangganya bahwa ada anggota keluarganya yang terkena virus berbahaya dan akan ditangani dengan serius secara profesional sesuai standar internasional. Dalam masa penanganan itu maka tidak menerima orang bertamu juga tak mengijinkan anggota keluarganya keluar rumah. Tujuannya agar tak terjadi penularan pada warga lainnya. Didatangkan dokter ahli terbaik. Juga menggunakan alat-alat terbaik. Melakukan semua prosedur dengan profesional sesuai standal internasional. Semua dilakukan secara transparan sehingga pada waktunya ia mengumumkan bahwa saat ini sudah sembuh dan sudah aman kembali. Ia mengumumkan membuka kebijakan lock down dan menjamin semua aman kembali. Maka para tetangganya pun yakin dan percaya. Demikianlah gambaran hidup bertetangga dan membangun kepercayaan masyarakat. Dalam skala lebih luas, hidup bernegara tentu tak beda jauh dalam membangun kepercayaan kepada para negara tetangga. Semoga saja wabah corona ini segera berakhir dan Allah mengampuni kesalahan-kesalahan kita. Dan negeri ini menjadi aman, damai dan berlimpah barokah karena pemimpinnya dan rakyatnya bertakwa pada Allah SWT…. Aamiin. *) Penulis pernah belajar pemerintahan di STPDN angkatan ke-04 dan IIP Jakarta angkatan ke-29 serta MIP-IIP Jakarta angkatan ke-8

September 22, 2020
  (Catatan Diskusi Baitul Ilmi TV) Oleh: Wahyudi al Maroky (Dir. PAMONG Institute)   Era wabah corona belum juga berakhir. Korban yang sakit...
Continue Reading

Monday, September 21, 2020

Kapitalisme Menyuburkan Kemiskinan dan Eksploitasi Ekonomi

September 21, 2020
  Suro Kunto (Ketua SPBRS Jatim) Kapitalisme memiliki andil besar menciptakan masyarakat yang egois dan eksploitatif terhadap orang banyak. ...
Continue Reading

Kapitalisme Dan Legalisasi Dehumanisasi Massal

September 21, 2020
  Fajar Kurniawan (analis senior PKAD) Kapitalisme juga memiliki prinsip dan pilar-pilar ekonomi yang konsisten memproduksi kemiskinan secar...
Continue Reading
Adbox