Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Friday, December 20, 2019

Wall Street Journal dan Uighur yang Tak Mujur



Oleh Hanif Kristianto
(Analis Politik-Media di Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD))

Media massa baik elektronik maupun cetak mampu mempengaruhi opini publik. Ditambah lagi media sosial yang saat ini jadi komunikasi antarkelas dan tanpa batas. Untuk menjatuhkan seseorang atau badan cara mudah ialah dengan mewartakannya. Jika ingin mendalam, biasanya dengan liputan investigatif, berita yang dibuat kian bombastis. Hal inilah yang terjadi dari mencuatnya isu Uighur di Xinjiang, China.

Wall Street Journal (WSJ) tiba-tiba, bisa jadi sudah disetting sedemikian rupa, menurunkan laporan kondisi di kamp konsentrasi untuk suku Uighur China. Hal ini juga dipengaruhi kepentingan politik AS di kancah persaingan global. Selain itu, kepentingan ideologi menjadi dasar AS untuk meraih simpati dari dunia muslim. Sudah menjadi wacana umum, China berideologi komunis dan AS berideologi kapitalisme. Pertarungan antar ideologi inilah yang akan terus menerus berlangsung selama kehidupan manusia di bumi.

Tak hanya WSJ, media internasional seperti BBC London, ABC Australia, dan lainnya sudah pernah meliput langsung di kamp konsetrasi. Sayangnya, banyak kejadian yang tidak terekspos di lapangan. Lebih pada wawancara bekas tahanan yang menceritakan detail kondisi di dalam kamp. Pemberitaan oleh WSJ kemudian disanggah pemerintahan China melalui beragam media. Lantas, apakah dunia langsung bisa mempercayai dengan ragam alasan untuk menghapus ekstrimisme, radikalisme, dan terorisme yang ditengarai telah merasuk dalam alam pikiran kaum Uighur?

Isu-isu humanisme akan lebih mudah dinaikkan pembicaraannya tatkala ada publik figur atau pejabat publik yang mengetengahkan di khalayak umum. Mezut Ozil, pesepakbola Arsenal, telah menjadi perhatian khusus dan menyedot perhatian dunia. Sementara penguasa di beberapa negara ada yang sejalan dengan China, abstain, dan menolak terang-terangan. Kondisi inilah yang akhirnya memetakan negera mana yang sebenarnya memeiliki kepedulian ikhlas terhadap sesama manusia?

Nah, hal menarik yang dapat dianalisis dari isu Uighur ini ialah

Pertama, kondisi global yang saat ini didominasi oleh kapitalisme dan komunisme tampaknya sering mengorbankan Islam dan umatnya. Terkadang negara berideologi kapitalisme dan komunisme bekerja sama menyerang Islam. Terkadang kapitalisme dan komunisme berseteru sendiri. Sementara, ketiadaan negara yang mengemban ideologi Islam akhirnya Islam pun tak mampu bertaji dalam kancah global.

Kedua, media seperti WSJ dan lainnya merupakan cara mudah untuk menekan obyek yang akan dibongkar makar dan kejahatannya. Negara asal media itu akan membela habis-habisan. Akhirnya dimunculkanlah isu Hak Asasi Manusia, Humanisme, dan kebebasan. Uighur yang merupakan umat Islam, tak ubahnya seperti umat Islam yang tertindas di negeri lainnya seperti Rohingnya, Palestina, India, dan benua Afrika. Kalulah dimunculkan isu ke opini publik, ini lebih pada kepentingan AS dan sekutunya untuk meraih simpati dunia muslim. Isu-isu komunisme pun diangkat untuk bergerak bersama-sama membenci dan menumbangkannya.

Ketiga, tidak ada kebebasan HAM untuk umat Islam. HAM hanya akan peduli dan dijadikan senjata untuk menikam Islam dan sayariahnya. Semenjak peristiwa WTC ramai-ramai muncul istilah terorisme yang disematkan pada pelaku yang diduga muslim. Sementara, ketika korbannya umat Islam, tak satu pun pelaku yang bukan muslim disebut toririsme. Dunia lebih banyak bungkam dan diam ketika korban itu muslim, sementara dunia akan bercuit keras ketika korbannya bukan muslim.

Keempat, umat Islam harus memiliki kesadaran politik global. Jumalah boleh banyak, namun banyak terkadang tidak mewakili kekuatan. Alhasil, perlu ada kesadaran kolektif dari umat Islam untuk mewujudkan persatuan global. Umat Islam perlu memiliki negara global yang akan melindunginya dari ancaman musuh-musuh Islam. Hampir seratus tahun inilah ketika umat Islam kehilangan pelindung, yaitu khilafah nasibnya tak beranjak mulia. Sudah banyak bukti umat Islam selalu tertindas meski mayoritas.

Kelima, kondisi yang menimpa umat Islam di Uighur, China dan di belahan dunia Islam lainnya akan semakin meningkatkan kepedulian pentingnya ukhuwah. Suara persatuan dan kesatuan itu pun akan meluncur dari lisan umat Islam sendiri. Tatkala umat Islam mengadu, mereka tidak lagi pada PBB, Amerika, atau lainnya. Mereka akan mengadu pada khalifah yang memimpin negara global Khilafah.

Oleh karena itu, Amerika melalui WSJ untuk menjatuhkan China adalah cara Allah untuk membangkitkan kesadaran umat Islam. Aksi-aksi tak sekadar berhenti pada demonstrasi dan penggalangan dana. Umat harus mendorong penguasa di dunia Islam untuk bertindak nyata, tidak sekadar kecaman atau boikot. Lebih dari itu, harus ada aksi nyata untuk mewujudkan persatuan global dalam khilafah. Inilah esensi penting khilafah sebagai negera global yang menjadi mimpi buruk bagi Amerika Serikat, China, dan negara yang memusuhi Islam. Dunia terus berubah, kebangkitan Islam sudah di pelukpuk mata. Ya Allah lindungi dan tolonglah umat Islam di Uighur, Palestina, Rohingnya, dan negeri muslim lainnya.[]

1 comment:

  1. Subhanallah, berbagai derita kaum muslimin semakin menunjukkan bahwa umat butuh khilafah!

    ReplyDelete

Adbox