Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Wednesday, December 11, 2019

KASUS PROF. SUTEKI; HAKIM HARUS BERPEGANG PADA HIKMAH-KEBIJAKSANAAN BUKAN KEKUASAAN



Kurdiy Attubany

Professor Suteki, Seorang Guru Besar Hukum di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang saat ini tengah berjuang untuk mendapatkan keadilan hukum atas kasus yang menimpanya, yakni pencopotan atas berbagai jabatan dan tugas beliau dengan tuduhan yang absurd yakni dianggap sebagai dosen/guru besar yang anti Pancasila.

Tuduhan ini memang tuduhan yang sungguh absurd kalau tidak bisa dibilang sebagai tuduhan mengada-ada, mengingat kiprah beliau sebagai pengajar mata kuliah Pancasila selama lebih kurang 24 tahun.

Situasi yang menimpa Prof. Suteki sesungguhnya sangat memprihatinkan bagi rakyat negeri ini, dan yang lebih membuat kita miris adalah bahwa kasus ini justru terjadi dan/atau dilakukan/dimotori oleh civitas akademika dalam hal ini adalah rector Kampus UNDIP.

Bisa dibayangkan, Dosen/Guru Besar dalam khazanah keagamaan adalah ulama, dan rector adalah punjer dari para ulama, orang yang berilmu dan orang yang berilmu tentu bercirikan rasionalitas, argumentative serta ilmiah.

Sementara disisi lain, kasus yang dialami oleh Profesor Suteki dapat dilihat dengan mata awam sekalipun, bahwa sungguh, kasus yang dialami oleh Profesor Suteki adalah bukanlah kasus yang memiliki dasar arugmentasi yang jelas apalagi kuat dari sisi keilmuan. Justru yang dapat dibaca dari kasus Prof.Suteki ini dapat diduga adalah kasus pesanan, kasus yang dipaksakan akibat dari perbedaan pandangan dalam ranah keilmuan yang beliau miliki dengan pandangan politik penguasa. Sesuatu yang amat berbeda bukan, yang satu berpegang pada logika keilmuan yang satu berpegang pada logika politik-kekuasaan.

Parahnya rector sebagai pemegang punjer keilmuan justru patut diduga mengikuti logika politik dari pada logika keilmuan-akademik.

Karena itu sudah selayaknya hakim yang akan memutus perkara Prof. Suteki mengembalikan hak-hak beliau yang telah dirampas, karena telah sedemikian nyata fakta kedzaliman yang didapatkan oleh Prof. Suteki.

Hakim, sebagaimana namanya tentu adalah sosok-sosok yang dihiasi oleh sikap hikmah – kebijaksanaan serta paham atas resiko akhirat jika dia memutuskan dengan hawa nafsunya.

Pak Hakim, Ittaqillah!! #KamiBersamaProf.Suteki

No comments:

Post a Comment

Adbox