Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Sunday, December 15, 2019

KARENA ULAMA BUKANLAH STEMPEL PENGUASA


 (Fungsi Strategis Ulama di Tengah Umat)

Oleh: Puspita Satyawati
(Analis politik dan media,
Dosen online di UniOl 4.0. Diponorogo)

Ulama dalam Dinamika Sejarah
--------------------------------------

Dalam dinamika sejarah perjuangan Islam, kriminalisasi ulama bukanlah hal baru. Demi kebenaran, banyak ulama berani mengkritik penguasa. Merekalah ulama lurus yang tidak silau dengan iming-iming penguasa dan kepentingan dunia.

Benar dikatakan benar. Salah dikatakan salah. Hadits Nabi Saw tentang keutamaan jihad di hadapan penguasa yang zalim nan tiran dipegang teguh. Meski berbalas ketidaknyamanan, hidup di tahanan, penyiksaan, hingga syahid di tiang gantungan.

Sejak awal era kenabian, Rasulullah Saw. sempat memverifikasi kepada Waraqah Naufal tentang tantangan yang akan ia hadapi ketika membawa kebenaran Islam.

Saat itu beliau bersabda, “Tidak ada seorangpun yang datang membawa kebenaran seperti yang kamu bawa, melainkan pasti dimusuhi.” (HR. Bukhari).

Terbukti. Selama 23 tahun Rasul mendakwahkan Islam, sering difitnah, diejek, didiskreditkan, diboikot, bahkan hendak dibunuh oleh pembesar kafir Quraisy.

Dari perjalanan siroh beliau, kita belajar bahwa pembenci kebenaran selalu memiliki kekhasan yaitu berupaya menghalangi pertumbuhan kebenaran dengan berbagai cara. Terlebih jika berkuasa, maka cara-cara keji dan represif sering dilakukan untuk menangkal pengaruhnya.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah dicambuk dan dipenjara selama 30 bulan karena tidak mengakui kemakhlukan Alquran sebagaimana diyakini Mu’tazilah (al-Kamil fi at-Tarikh, 3/180). 

Imam Bukhari akhirnya pergi dari negerinya karena berusaha disingkirkan oleh penguasa Bukhara saat itu. Penyebabnya, beliau menolak permintaan sang penguasa untuk mengajar kitab “al-Jami’” dan “al-Tarikh” di rumahnya. Bukhari beralasan, harusnya orang yang butuh ilmu yang mendatanginya, bukan ulama yang mendatangi (Tarikh Baghdad, 2/33).

Dalam sejarah Islam di Nusantara, sebelum kemerdekaan Indonesia, ulama juga mengalami kriminalisasi karena menentang penjajah, seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol dan Maulana Hasanuddin.

***
Hebatnya, penjara tak menghalangi ulama menghasilkan karya. “Majmu’ al-Fatawa,” magnum opusnya Ibnu Taimiyah yang berjilid-jilid lahir dari rahim penjara. Pun Tafsir Fii Zhilaliil Qur’an, sebuah karya fenomenal, diselesaikan oleh Sayyid Qutb saat beliau menjalani hukuman dalam tahanan. Hingga syahid di tiang gantungan.

Ulama kenamaan Nusantara yaitu Buya Hamka, sewaktu dipenjara oleh rezim Orde Lama mampu menghasilkan karya tulis besar, Tafsir Al Azhar. Hal yang mungkin tak kan tuntas diselesaikan jika beliau tak dimasukkan ke balik terali besi.

Bagi para pejuang, dipenjara seakan sedang bertamasya (rihlah). Tak heran, dalam kondisi seperti itu mereka masih tetap berkarya. Bagaimana dengan kita?

Ulama Tak Sekadar Berilmu
-----------------------------------

Ulama adalah jamak dari kata ‘alim. Artinya orang yang berilmu. Khususnya di Indonesia, telah menjadi sebutan bagi figur yang dinilai memiliki kedalaman ilmu Islam, berkepribadian luhur dan diakui sebagai pemimpin non formal masyarakat/umat.

Dalam Alquran, kata “ulama” disebut di ayat 197 Surah Asy Syuara dan ayat 28 Surah Al Fathir. Kedua ayat tersebut menyebut ulama dalam konteks pembahasan kitabullah dan pengkajian alam semesta.

Syaikh Muhammad Nawawi Al Bantani dalam kitab Asmaul Husna merumuskan bahwa ulama adalah para hamba Allah yang faqih hukum syara’. Dengan ilmunya, mereka menyebarkan agama yang haq baik menyangkut akidah maupun syari’ah amaliyah.

Ulama yang baik menurut beliau, sedikitnya memiliki ciri-ciri:

1. Iman yang kokoh, takwa utuh, jiwa istiqomah dan tulus ikhlas.

2. Mempunyai sifat kerasulan (shiddiq, amanah, fathonah, tabligh).

3. Faqih fiddin sampai rashikhuna fil ‘ilmi.

4. Mengenal situasi dan kondisi masyarakat.

5. Mengabdikan seluruh
hidupnya untuk perjuangan menegakkan ajaran Allah.

***
Keutamaan ulama digambarkan dalam sabda Rasulullah Saw, “Sesungguhnya perumpamaan ulama di bumi ibarat bintang-bintang di langit yang menjadi petunjuk dalam kegelapan. Jika sinar-sinar bintang itu lenyap, maka tongkat-tongkat pun hampir tersesat.” (HR. Ahmad dan Anas)

Ulama yang berhak menyandang keutamaan seperti gambaran di atas, adalah ulama yang menerapkan ilmunya dan berani berterus terang mengatakan yang haq. Tidak takut dalam memperjuangkan agama Allah dan tidak peduli terhadap orang yang mencercanya. Mereka senantiasa melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.

Selain itu, ulama berkewajiban memberikan teladan pengamalan syariat Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Mereka juga memberikan fatwa dan nasihat keagamaan untuk membantu masyarakat memecahkan persoalan yang dihadapinya.

Tidak henti-hentinya menanamkan pengertian dan menumbuhkan keyakinan masyarakat terhadap ajaran Islam.
Mereka menyadari bahwa Islam menghendaki sikap terus terang dalam menyampaikan kebenaran, dakwah tanpa rasa gentar dan takut.

Para ulama menghayati betul firman Allah Swt; “Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga sedikit.” (QS. Al Maidah: 44)

***
Memperhatikan urusan umat merupakan tugas utama ulama dengan niat mengharap ridha Allah Swt. Merasa sedih bila umat terbelakang, bodoh, bergelimang kesesatan dan maksiat. Apalagi bila sampai ditindas umat lain.

Kebahagiaannya ialah saat umat memahami kebenaran Islam, mengamalkannya dan turut memperjuangkannya. Ulama sejati tak akan tinggal diam jika terdapat kebenaran yang diselewengkan, hukum Allah dilanggar dan umat yang dihinakan.

Teringat akan nasihat Rasulullah Saw; “Barangsiapa di pagi hari sedang tujuan utamanya bukan Allah, maka tidak ada arti sedikitpun baginya di sisi Allah. Dan barangsiapa di pagi hari tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka dia bukan golonganku.” (HR. Al Hakim dari Ibnu Mas’ud)                                                                                                                                                                                                                                                                                 

Fungsi Strategis Ulama di Tengah Umat
---------------------------------------

Kehidupan umat tidak dapat dilepaskan dari kebijakan politik yang diambil oleh penguasa. Politik dalam arti luas menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Mafahim Siyasah (hal.3) adalah ri’ayatus su’unil ummah dakhiliyan wa kharijiyan (pengaturan urusan umat di dalam dan di luar negeri).

Dalam konteks Islam, pengaturan ini dilakukan tentu dengan hukum Islam.

Dengan demikian tugas utama ulama di tengah umat adalah:

1. Berjuang mewujudkan sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang islami.
Bersama kaum Muslimin bahu-membahu mewujudkan ini.

Ulama harus mengingatkan umat akan kewajibannya sebagai Muslim  mewujudkan hukum Allah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan dakwah, ulama membina umat dengan pembinaan terarah atau mengarah kepada tujuan yang dimaksud.

Ini adalah semulia-mulia perjuangan. Adakah perjuangan yang lebih mulia dari mewujudkan hukum-hukum Allah Swt di muka bumi? Apa tugas ulama sebagai waratsatul anbiya, bila bukan mewujudkan cita-cita tersebut?

2. Jika kehidupan islami terbentuk, tugas berikutya ialah menasihati, mengingatkan, mengoreksi penguasa serta umat secara umum agar senantiasa berjalan dalam rel Islam dan melaksanakan hukum Islam. 

Dalam konteks kehidupan Islam, para ulama berusaha berijtihad untuk memecahkan segenap problem kehidupan masyarakat yang terus berkembang. Sehingga kehidupan umat terkendali dan berkembang dalam arah benar. Ulama dalam hal ini juga berperan sebagai mujtahid.

Ulama Bukanlah Tukang Stempel Penguasa
---------------------------------------

Sejarah kehidupan umat Islam menunjukkan bahwa baik buruknya masyarakat tergantung pada baik buruknya ulama dan penguasa.

Rasulullah Saw. bersabda, “Ada dua golongan di antara umatku apabila baik maka menjadi baik pulalah manusia, yakni ulama dan umara” (HR. Ibnu Abdil Barri dan Ibnu Abbas). 

Kenyataannya, tidak sedikit ulama jaman sekarang yang tinggal diam melihat penguasa yang menyimpang dari Islam dan berbuat kerusakan. Para penguasa itu menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah.

Berhukum kepada hukum selain Allah. Tidak memenuhi hak-hak rakyat. Bahkan, tidak segan menindas rakyat yang berjuang bagi tegaknya hukum Allah Swt.

Tidak sedikit pula ulama segan mengungkap dan menentang peraturan tidak islami. Takut menjelaskan kesewenang-wenangan penguasa, lantaran khawatir akan muncul ancaman kepada dirinya.

Bahkan, sebagian ulama  berperan tak lebih sebagai “tukang stempel” penguasa.  Yaitu sebagai pembenar (justifikator) terhadap kebijakan penguasa sehingga menambah “legalitas” agar kebijakan tersebut diterima oleh umat.

Lebih tragis lagi, bila ulama justru menjadi alat kekuatan eksternal yang merugikan umat Islam. Inilah ulama al suu’. Ulama jahat yang membenarkan kerusakan penguasa.

Akibatnya, kerusakan, kemusyrikan, kekafiran dan kemaksiatan terus terjadi saat ini. Tanggung jawab terbesar atas kerusakan itu di pundak para ulama.

Karena merekalah faktor utama yang karena diamnya terhadap setiap pelanggaran, mempercepat terjadinya kerusakan umat. Pun terhadap kerusakan penguasa, ulama adalah orang yang paling bertanggung jawab.

Ulama menjadi  tukang stempel bagi penguasa tak lepas dari politik pemerintah terhadap ulama dan kyai yang tidak bisa dilepaskan dari sistem politik yang berlaku. Yakni terkait dengan corak negeri ini yang dikatakan sebagai bukan negara agama, tapi juga tidak melepaskan agama.

Agama sebatas keyakinan individual dan penyumbang nilai moral spiritual dalam pembangunan. Konsekuensinya, roda pembangunan sejak perencanaan, pelaksanaan, penyusunan perundangan tidak pernah menyertakan ulama.

Kalaupun menyertakan ulama, perannya tak lebih sebagai gula-gula atau lipstik. Politik kamuflase, agar seolah wajah penguasa terlihat lebih islami.

***
Perlakuan semacam ini ternyata tidaklah baru. Menurut Karel A. Steenbrink dalam bukunya “Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke-19,” sebagaimana dikutip oleh Prof. M. Dawam Raharjo dalam buku “Risalah Cendekiawan,” politik Belanda ketika menjajah Indonesia secara sengaja memisahkan antara para penghulu (kyai yang menjadi pegawai, digaji dan setia kepada Belanda) dengan para kyai (independen).

Kyai yang mandiri dan mengakar di tengah masyarakat dicegah pengaruhnya agar tidak membesar. Tapi apakah lantas para penghulu diikutsertakan dalam proses pengambilan keputusan politik?

Ternyata juga tidak. Itu tampak dari tugasnya yakni sebatas mengurus masjid, mengumpulkan zakat dan menangani pengadilan agama (nikah, talak, rujuk, waris).

Belanda memang memandang secara stereotip ulama sebagai agamawan (rijaluddin) yang muncul dari sejarah gelap Eropa. Pada masa renaissance, terjadi kesepakatan dimana kaum politikus dan negarawan memegang kekuasaan politik yang terpisah dari kekuasaan spiritual yang dipegang agamawan.

***
Pandangan warisan Belanda ini jelas keliru. Islam tidak mengenal rijaluddin (pemuka agama) dan rijaluddaulah (negarawan). Islam tidak mengenal kekuasaan negara yang terpisah dari agama.

Justru tegaknya negara adalah dalam rangka melaksanakan perintah agama, yakni terlaksananya hukum-hukum Allah secara keseluruhan. Islam adalah dien, dan negara menjadi bagian darinya. Islam adalah akidah dan daulah.

Undang-undang Islam adalah hukum syara’ yang telah dikeluarkan oleh para mujtahid berdasarkan Alquran dan Sunnah. Para mujtahid dan fuqoha bukanlah rijaluddin sebagaimana paham Nashrani yang berperan sebagai wakil Tujhan di bumi, bertindak sebagai perantara manusia dan Tuhannya, menghalalkan dan mengharamkan sesuatu.

Ulama, mujtahid, fuqoha hanyalah menjelaskan hukum syara’ berdasarkan nash Alqur’an dan As sunnah. Tidak dapat berbuat seenaknya. Terikat dengan nash itu sendiri bahkan kaedah penetapan hukumnya.

Oleh karena itu, ide menjauhkan ulama dari masalah politik tidak ada kamusnya dalam Islam. Justru politik merupakan garapan pokok ulama, yakni memperhatikan urusan umat dan penguasa.

Penutup
------------------

Bagaimana semestinya peran ulama di negeri ini? Jawabannya terletak pada jawaban atas pertanyaan. Sudahkah di negeri ini terbentuk kehidupan bermasyarakat dengan sistem Islam?

Bila belum, maka menjadi tugas ulama (dan umat Islam) untuk mewujudkannya. Ulama membina umat agar meningkat kesadaran Islamnya, mendorong mengamalkan dan memperjuangkannya.

Dengan dakwah, setiap umat Islam apapun kedudukannya (ASN, wiraswasta, ABRI, dll.), didorong berperan apa saja yang mampu bagi syiar Islam. Sehingga terbentuk kekuatan dalam diri umat Islam di negeri ini yang muncul dari kesadaran hasil pembinaan terus-menerus oleh ulama.

Pustaka

‘Islam Ideologi: Refleksi Cendekiawan Muda,” Ismail Yusanto, Al Izzah, 1998

Kriminalisasi Ulama Salaf, Mahmudi Budi Setiawan, Hidayatullah.com 

#LamRad
#LiveOppressedOrRiseUpAgainst

No comments:

Post a Comment

Adbox