Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Wednesday, December 25, 2019

JANGAN TAKUT MENJADI AGEN RADIKAL




(RAMAH, TERDIDIK, BERAKAL)!

#ReportaseSpesial
#KuliahOfflinePerdanaUniOl

Rep. Puspita Satyawati


"Karena definisi radikalisme bersifat obscure (kabur) dan lentur, maka jangan takut dikatakan radikal jika Anda memiliki prinsip. To be radical agent!"

Demikian kalimat penutup (closing statement) dari Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum., (pakar hukum dan masyarakat FH Undip, rektor online UniOl 4.0 Diponorogo), salah satu narasumber Talkshow Inspiratif bertajuk "RADIKAL.IS.ME Dimulai dari Kampus, Masjid, Atau Pesantren?"

Gelaran ini diprakarsai oleh Universitas Online (UniOl) 4.0 Diponorogo dan Komunitas Sahabat Suteki. Bertempat di Hotel Candi Indah, Semarang, Jawa Tengah, pada Rabu (25/12).

Dihadiri lebih dari seratus peserta yang berasal dari bermacam kalangan dan berbagai wilayah di Jawa Tengah, Jawa Timur dan D.I. Yogyakarta.



Bertindak sebagai narasumber lainnya yaitu Tri Widodo, S.Pt. (aktivis masjid, pendakwah) dan Muhammad Nur Rakhmad, S.H. (advokat, direktur advokasi LBH Pelita Umat Jawa Timur).

Menurut Ibu Syam Purwaningsih, S.Pt., Akp., selaku ketua panitia dan sekretaris online UniOl, agenda ini diadakan sebagai wujud kepedulian UniOl terhadap isu-isu yang berkembang di masyarakat.

"Radikalisme adalah isu seksih yang masih hangat hingga saat ini. Masyarakat membutuhkan penjelasan apa makna sejati radikalisme dan diarahkan ke siapa isu ini," jelas Syam.

Selain itu, Syam menuturkan bahwa acara ini juga dimaksudkan sebagai kuliah offline perdana UniOl dan launching logo UniOl.





Dalam paparannya, Tri Widodo menyampaikan ada penelitian yang menyebut 41 masjid di lingkaran pemerintahan terpapar radikalisme. Ada yang terkategori level rendah, sedang dan tinggi.

Namun Tri menyanggahnya. Menurut Tri, "Berdasarkan definisi radikalisme dan ketidakjelasan parameter mengenai masjid terpapar radikalisme, maka sejatinya radikalisme masjid hanyalah propaganda tanpa ada fakta jelas."

Adapun Nur Rakhmad, menegaskan bahwa sebagaimana di masjid, radikalisme di pesantren hanyalah propaganda. "Tapi justru di pesantren banyak program deradikalisasi," imbuhnya.

Prof. Suteki pun memaparkan bahwa ada tiga unsur lembaga pembinaan umat yaitu masjid, pesantren dan kampus. Yang jika dipertemukan akan menjadi modal pembangunan utama.

Sayangnya, kini ketiganya dijadikan sasaran propaganda radikalisme. Yang kian melemahkan fungsi strategisnya. Padahal radikalisme adalah nomenklatur politik obscure (kabur) dan lentur. Bukan definisi hukum. Sehingga mudah ditarik-ulur oleh pemerintah untuk melawan pihak yang berseberangan.

"Khusus di kampus,  munculnya karakter radikal di kampus harusnya dimaknai positif mengingat dunia kampus adalah episentrum perubahan yang bersifat mendasar (radikal). Karena watak ilmu adalah membebaskan sekaligus mencerahkan, sehingga karakternya pasti radikal," pungkas Suteki.

Acara berjalan lancar dalam suasana akrab dan hangat. Dalam sesi tanya jawab, peserta bahkan berebut mengacungkan tangan hendak menyampaikan pertanyaan.

Pertanyaan seputar fakta akibat keberadaan isu radikalisme, keinginan untuk mengundang kalangan civitas akademika UniOl hadir di forum mereka, hingga ada yang ingin bergabung dalam kuliah online.

Acara inti ditutup oleh host Mujahid Wahyu, S.Pd., M.Pd. dengan pertanyaan yang diajukan kepada para peserta, "Apakah siap menjadi manusia radikal?" Dengan kompak dan lantang, peserta menjawab, "Siap!"

Maa syaa Allah. Mudah-mudahan ini menjadi pertanda suksesnya acara pada pagi hingga siang hari ini. Acara keseluruhan ditutup oleh MC Ervan Liem, Mesp. dengan doa penutup majelis serta pengumuman.(ps)


#Lamrad
#SalamRadikal
#RamahTerdidikBerakal
#LiveOppressedOrRiseUpAgainst!

No comments:

Post a Comment

Adbox