Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Saturday, December 21, 2019

Dari Uighur, Terbukti Siapa Yang Intoleran!



Endah Sulistiowati
Dir. Muslimah Voice

Mesut Ozil menuliskan:

Wahai Turkistan Timur...

Luka berdarah umat...

Komunitas Mujahid dan Mujahidin yang menentang penganiayaan...

Orang-orang beriman yang berperang melawan mereka yang memaksa meninggalkan Islam...
melawan mereka yang memaksa meninggalkan Islam...

Alquran sedang dibakar...

Madrasah dilarang ...

Sarjana agama dibunuh satu per satu ...

Saudara-saudara dipaksa masuk ke kamp. Sebagai gantinya, pria China ditempatkan di keluarga mereka ...

Perempuan dipaksa menikah dengan pria Zink ...
Terlepas dari semua ini...

Umat Muhammad tidak bisa berkata-kata ...

Suaranya tidak terdengar ...

Muslim tidak dapat mengklaim...

Tidak tahu bahwa kekejaman Riza adalah kekejaman ...

Hazrat Ali berkata: Jika anda tidak bisa menghentikan penganiayaan, beritahu dia!

Bahkan di media dan negara Barat, ini telah menjadi agenda selama berbulan-bulan dan berminggu-minggu.

Tidakkah mereka tahu bahwa diamnya saudara-saudari Muslim agar tidak disiksa oleh para penindas yang akan diingat oleh saudara-saudari kita di masa-masa pahit ini.

Ya Rabi, bantu saudara dan saudari kami di Turkistan Timur

Tentu saja, Allah adalah sang Maha Baik

#TheGoodestFridayEastTurkey

====

Unggahan Twitter Mesut Ozil yang mengecam perlakuan Cina terhadap Muslim Uighur di Xinjiang dikecam oleh Cina. Beijing menyangkal tuduhan Mesut Ozil yang menuduh Cina mempersekusi Muslim Uighur di Xinjiang sebagai berita palsu. Sementara itu, pertandingan Arsenal telah diblokir di Cina.

Jika kasus di Uighur adalah hoax sebagaimana yang dituturkan oleh sebagian orang yang "merasa berhutang budi" dengan Cina, juga bantahan dari pemerintah Cina, maka harusnya cuitan Ozil bukan masalah untuk mereka. Namun sikap pemerintah Cina secara sepihak memblokir Arsenal adalah tindakan yang semakin mempertegas bahwa benar ada sesuatu yang terjadi di Uighur.

/8 Fakta Uighur/

Nicholas Bequelin, Direktur Regional di Amnesty International, memaparkan temuan di situs Amnesty International tentang situasi di Xinjiang. Dikutip dari situs Amnesty.org, 19 Desember 2019, Amnesty International telah mewawancarai 400 lebih orang kerabat Xinjinag yang mengungsi ke luar negeri. Mereka menyebut ada penyiksaan di Xinjiang. Amnesty International juga meneliti bukti foto satelit dan dokumen pemerintah Cina tentang program penahanan.

Berikut adalah temuan yang dipaparkan oleh Amnesty International di Xinjiang.

1. Kamp interniran massal
Diperkirakan satu juta orang yang mayoritas beragama Islam, seperti Uighur dan Kazakh, telah ditahan di kamp-kamp interniran di Xinjiang, barat laut Cina. Pemerintah telah berulang kali menyangkal keberadaan kamp, menyebutnya sebagai pusat pendidikan kejuruan sukarela. Tetapi mereka yang dikirim tidak memiliki hak untuk menentang keputusan tersebut.

2. Perlakuan tahanan
Kairat Samarkan termasuk di antara mereka yang dikirim ke kamp penahanan pada Oktober 2017, setelah ia kembali ke Xinjiang dari Kazakhstan. Dia memberi tahu Amnesty kepalanya ditutup, dibelenggu di lengan dan kakinya, dan dipaksa berdiri dalam posisi tetap selama 12 jam ketika pertama kali ditahan. Dia mengatakan para tahanan juga dipaksa untuk menyanyikan lagu-lagu politik dan menyanyikan "Hidup Xi Jinping" (presiden China) sebelum makan atau menghadapi hukuman yang keras.

3. Hukuman
Pihak berwenang memutuskan kapan tahanan telah "berubah". Mereka yang menolak atau gagal menunjukkan kemajuan yang cukup, menghadapi hukuman mulai dari pelecehan verbal hingga pengurangan jatah makanan, kurungan isolasi dan pemukulan. Ada laporan tentang kematian di dalam fasilitas, termasuk bunuh diri mereka yang tidak dapat menanggung penganiayaan.

4. Pemblokiran informasi
Pihak berwenang Cina telah mengundang Mesut Ozil untuk datang ke Xinjiang dan melihat-lihat situasinya sendiri. Menurut Amnesty hal itu adalah alibi, karena pemerintah telah menyelenggarakan puluhan tur propaganda untuk orang asing sambil mencegah pakar independen PBB mengunjungi wilayah tersebut, melecehkan jurnalis asing dan menginstruksikan pejabat lokal untuk merahasiakan program penahanan massal.

5. Program antiteror Cina
Pemerintah Cina telah membenarkan tindakan ekstremnya sebagai hal yang diperlukan untuk mencegah ekstremisme agama dan apa yang mereka klaim sebagai kegiatan teroris. Sikap mereka terhadap etnis minoritas Xinjiang telah mengeras sejak serangkaian insiden kekerasan di ibu kota Urumqi pada tahun 2009 dan serangan pisau di stasiun kereta api Kunming di Cina barat daya pada tahun 2014. Para ahli PBB menyimpulkan bulan lalu bahwa kebijakan Cina di Xinjiang cenderung memperburuk risiko keamanan.

6. Ditangkap karena menumbuhkan jenggot
Penganiayaan terhadap Muslim Xinjiang telah meningkat sejak sebuah peraturan yang disahkan pada 2017 berarti orang dapat dicap "ekstremis" karena alasan seperti menolak menonton program TV publik atau memiliki janggut "abnormal". Mengenakan jilbab, berdoa secara teratur, berpuasa atau menghindari alkohol juga dapat dianggap "ekstremis" di bawah peraturan tersebut.

7. Pengawasan massal
Setiap orang di Xinjiang berisiko ditahan. Wilayah ini dipasang dengan kamera pengintai pengenalan wajah, yang didukung oleh penggunaan kecerdasan buatan dan pengumpulan DNA massal. Pemeriksaan keamanan di mana-mana adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, dengan pihak berwenang memeriksa ponsel yang memiliki konten yang mencurigakan.

Orang mungkin juga dicurigai melalui pemantauan rutin terhadap pesan yang dikirim pada aplikasi media sosial seperti WeChat. Syrlas Kalimkhan mengatakan dia menginstal WhatsApp di telepon ayahnya dan mengujinya dengan mengirim pesan, "Hai, Ayah." Kemudian, polisi bertanya kepada ayahnya mengapa dia memiliki WhatsApp di teleponnya. Dia kemudian dikirim ke kamp pendidikan ulang.

8. Ancaman berbicara
Sebagian besar keluarga tahanan tidak tahu tentang nasib mereka, sementara mereka yang berbicara berisiko ditahan. Untuk menghindari timbulnya kecurigaan seperti itu, Uighur, Kazakh, dan lainnya di Xinjiang telah memutuskan hubungan dengan teman dan keluarga yang tinggal di luar Cina. Mereka memperingatkan kenalan untuk tidak memanggil dan menghapus kontak luar dari aplikasi media sosial.
(https://dunia.tempo.co/amp/1285496/amnesty-international-paparkan-8-fakta-kondisi-muslim-uighur)

Sehingga memang hal yang lazim, jika pemerintah Cina benar-benar membatasi komunikasi dan gerak suku Uighur. Menurut sumber Associated Press di Xinjiang, pemerintah setempat sudah menerapkan pengetatan kendali informasi di wilayah itu sejak Oktober lalu. Menurut mereka, sejumlah pejabat daerah setempat juga memusnahkan sejumlah dokumen yang berisi data sensitif tentang biodata warga Uighur yang ditahan dengan cara dibakar.

Seorang perempuan Uighur yang tinggal di Belanda, Asiye Abdulaheb, mengaku kepada surat kabar de Volkskrant bahwa dia yang membocorkan dokumen pada Juni tahun lalu. Dokumen itu berisi panduan supaya pemerintah Urumqi melakukan kendali sosial, yaitu menangkap etnis Uighur secara acak meski mereka tidak melanggar aturan atau berbuat kejahatan. Mereka nantinya dikirim ke kamp untuk dicuci otak supaya mengadopsi nilai-nilai Komunisme ketimbang Islam, dan mengubah bahasa mereka. Bahkan saat ini ada 1 juta suku Uighur yang ditahan secara masal.
(http://www.repelita.com/china-kebakaran-jenggot-usai-dokumen-soal-uighur-bocor-di-seluruh-dunia/)

Paparan fakta diatas telah mengkonfirmasi bagaimana sesungguhnya perlakuan pemerintah Cina terhadap muslim Uighur. Muslim Uighur benar-benar berada pada kondisi genosida yang genting. Bahkan jumlah penduduk Uighur turun drastis sejak 10 tahun terakhir. Tidak ada pembelaan, tidak ada pertolongan. Hingga saat ini ketika mata dunia mulai iba, pemerintahan Cina kian represif membabi buta.

Intoleran yang selalu dituduhkan pada umat Islam, telah menunjuk aktor sebenarnya. Intoleran benar-benar jualan untuk menutupi borok sesungguhnya. Namun, Uighur butuh lebih dari kutukan dan kecaman. Uighur butuh aksi dari satu milyar lebih saudara Muslim di dunia, yang tersekat oleh nasionalisme. Pemimpin negeri-negeri Muslim harus buka suara, menyingsingkan lengan dan bergerak, jangan sampai Muslim Uighur hanya tinggal nama. Wallahu'alam.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox