Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Monday, December 30, 2019

Catatan Politik 2019 (2): Radikal Is You



Oleh Hanif Kristianto
(Analis Politik-Media di Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD))

  Gaung radikalisme kini menyeruak dan memenuhi ruang kerja para mentri. Perang melawan radikalisme menjadi instrumen utama kinerja. Kata radikal akan terus dikumandangkan dan disematkan kepada mereka yang menginginkan perubahan mendasar. Hal ini wajar, sebab rakyat sebenarnya merasakan hal pahit dan hidup dalam kesusahan. Entah, sebenarnya ke arah mana bandul narasi melawan radikalisme? Apakah memang soft approach yang ditujukan kepada umat Islam? Ataukah ini skenario pesanan untuk melemahkan semangat kebangkitan Islam?

  Kata radikal telah bebas pendefinisian. Jika dikaitkan dengan politik, istilah radikal digunakan untuk memukul mundur oposisi dan pengkritik penguasa. Maka, makna radikal akan menjadi tafsir tunggal dari penguasa. Sering pula penerjemahan radikal mematikan akal sehat dan menegasikan sikap kritis. Radikalisme seolah telah menjelma menjadi hantu politik. Cara efektif mempalu godam siapapun yang dianggap bersebrangan. Kondisi seperti ini sejatinya telah membunuh demokrasi dan menunjukkan sikap anti kritik.

  Jika diamati secara menyeluruh dan mendalam, persoalan Indonesia bukan sebab sikap radikalisme. Lebih pada soal ekonomi, politik, hankam, dan sosial yang memang mengalami depresi mendalam. Jadi tidak ada gunanya didegungkan perang melawan radikalisme, sementara borok-borok negara yang salah urus terus ditampakkan dalam pemberitaan media.

  Sesungguhnya siapa yang sebenarnya radikal? Radikal is you or is me? Hal inilah yang harus dijawab tuntas untuk mengungkap makna dan simbol war on radicalism. Jika ditelaah lebih dalam, isu radikalisme ini muncul diakibatkan oleh:

Pertama, kekerdilan dalam memahami persoalan utama Indonesia. Ketidakpahaman masalah Indonesia menyebabkan solusi yang diambil sering salah dan sekadar coba-coba. Sudah jelas persoalan Indonesia tidak hanya pada orang per orang yang diberikan amanah berkuasa. Ada juga persolan sistemis yang menjadi model kinerja berjalannya kekuasaan.

Kedua, isu radikalisme diadopsi dari global map Barat. Barat sejak dahulu, siang dan malam, berfikir keras untuk menjauhkan Islam dari umatnya. Virus sekularisme dan liberalisme yang dicangkokkan pada demokratisasi telah berhasil mengalihkan sementara. Sayangnya, lambat laun virus itu dianggap sebagai racun, dan disadari sebagai biang masalah. Alih-alih semakin merendah, justru tensi perang pemikirian kian meruncing dan memuncak. Berawal dari radikalisme lalu diturunkan menjadi terorisme. Ke depan akan ada istilah baru dalam perang opini yang sama.

Ketiga, kebencian pada Islam yang berdasar pada aqidah dan syariah. Islam bagi penganut sekularisme dan liberalisme dianggap sebagai masalah. Maka tak mengherankan bahwa isu radikalisme ini ditujukan spesial bagi Islam. Islam yang mengatur segala aspek kehidupan menjadi rival utama dalam perang ideologi dunia. Maka tak mengherankan, upaya sistematis perang melawan radikalisme ini dikerjakan bersama-sama. Dari level penguasa hingga rakyat biasa. Dari level pejabat hingga tokoh dan aktifis yang disiapkan mengarahkan opini.

Keempat, pergeseran arah perubahan baru dunia. Untuk sementara waktu, semenjak Kapitalisme dan Sosialisme berkuasa menggeser Islam, kedua ideologi itu dipuja-puja. Seiring hampir 100 tahun mengatur kehidupan dunia, tampak kerusakan nyata. Kapitalisme dan sosialisme menjadikan manusia tak manusiawi. Satu sisi bicara persamaan, sisi lain dengan mudahnya mereka membunuh, merampok kekayaan alam, dan memenjarakan manusia tak berdosa. Satu sisi bicara kebebasan dan hak asasi manusia, sisi lain dengan nyata mereka memperkosa hak-hak Allah SWT dalam mengatur kehidupan dunia. Satu sisi bicara keadilan, sisi lain dengan mudahnya mempertontonkan kebiadaban, jual beli aturan, dan keberpihakan pada pemilik kuasa dan modal. Kondisi inilah yang memunculkan arus baru manusia untuk mencari solusi yang manusiawi, sesuai akal pikiran manusia, dan menentramkan jiwa. Lagi-lagi, Islam kian dilirik kembali untuk menggeser kedua ideologi batil tadi.

  Oleh karenanya, tudingan radikal ini hanya sebagai kedok bagi kegagalan suatu rezim. Sudah menjadi hal yang biasa di manapun demokrasi diterapkan mudah menuduh lawan politik dengan sebutan teroris, radikalis, ekstrimis, dan makar. Tak ayal gejala itu muncul di Indonesia yang mayoritas muslim. Tak malu menuding rakyatnya terpapar radikalisme, terpapar khilafah, anti—Pancasila, NKRI,UUD 45, dan Bhineka Tunggal Ika—, dan tudingan keji pada Islam yang mulia. Alhasil, bukankah Radikal Is You? Dugaan itu diperkuat dengan semakin brutalnya penjualan aset negara kepada asing, korupsi yang sistemis, menuduh yang lain radikal padahal dirinya radikal ugal-ugalan dalam mengelola pemerintahan. Mengaku Pancasilais, tapi tingkahnya menginjak Pancasila. Mengaku demokratis, tapi anti kritik dan kompromistis. Di sisi lain, rakyat pun kian sadar bahwa tidak boleh lagi ada pembodohan sistemis atas nama perang melawan radikalisme.

  2019 segera berlalu. Tampaknya perang melawan radikalisme ini akan berlanjut pada tahun 2020. Pertarungannya kian sengit. Vis a vis penguasa dengan rakyatnya. Seperangkat aturan telah disiapkan, apa daya mereka lupa bahwa rakyat tidaklah bodoh. Mereka pun akan bergerak dan melawan setiap penindasan, baik dengan pikiran, lisan, maupun aksi tindakan.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox