Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Thursday, December 12, 2019

Arogan Terhadap Pendukung Khilafah, Lembek Terhadap Kelompok Separatis, Ironis!


Oleh : Achmad Fathoni
(Direktur el-Harokah Research Center)

     Sebagaimana diberitakan di laman kumparannews.com pada 9 Desember 2019 bahwa Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri berkomentar keras terhadap ideologi khilafah. Ketum PDIP yang biasa disapa Mega ini bahkan tegas mengusir mereka yang pro paham khilafah. “Jadi untuk apa hidup di Indonesia ini. Jangan rusak negara ini. Pergilah kalian, “ kata Megawati saat menyampaikan sambutan di Gedung Konvensi TMP Kalibata, Jakarta, Senin (9/12).

     Tentu saja pernyataan tersebut patut disayangkan oleh publik, terutama umat Islam. Pasalnya, pernyataan tersebut sangat arogan dan tendensius, dan dibangun dengan logika yang ngawur serta bertentangan dengan realitas yang sebenarnya. Oleh karenanya, pernyataan tersebut patut ditolak keras dengan argumentasi sebagai berikut.

     Pertama, penyebutan ideologi khilafah merupakan kesalahan fatal. Hal itu menunjukkan tingkat intelektualitas penuturnya patut dipertanyakan. Karena khilafah itu bukanlah ideologi, tetapi sistem pemerintahan Islam yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW. Sistem khilafah tersebut telah memimpin dunia selama lebih dari 13 abad lamanya, dan telah tertulis dalam tinta emas sejarah sebagai satu-satunya peradaban terbaik, serta telah memberikan kontribusi besar dalam memberikan kedamaian, kemakmuran, dan kesejahteraan  kepada seluruh umat manusia pada masanya.

     Menurut salah satu ulama’ nusantara, Prof. H. Sulaiman Rasjid, mendefinisikan Al-Khilafah ialah suatu susunan pemerintahan yang diatur menurut ajaran agama Islam, sebagaimana yang dibawa dan dijalankan oleh Nabi Muhammad saw semasa hidup beliau, dan kemudian dijalankan oleh Khulafaur-Rasyidin (Abu Bakar, ‘Umar bib Khattab, ‘Utsman bin ‘Affan, dan Ali bin Abi Thalib), kepala negaranya  dinamakan “Khalifah” (sumber: H. Sulaiman Rasjid, dalam “Fiqh Islam” hal. 465). Seharusnya Megawati paham tentang Khilafah, dia sendiri sebagai seorang Muslimah sudah selayaknya berkata yang benar tentang Khilafah. Jika belum paham, maka sikap yang lebih tepat adalah diam. Bukan malah bicara yang membenci khilafah dan pendukungnya. Jika dia benci Khilafah, yang merupakan merupakan taajul furudh (mahkota kewajiban) dari ajaran Islam, maka patut dipertanyakan ke-Islaman dia. Camkan, itu!

     Kedua, sikap keras Megawati tersebut tidak objektif dan tidak konsisten. Dia hanya bersikap keras terhadap pihak yang mendukung khilafah, namun dia diam seribu bahasa terhadap tindakan jahat gerombolan separatis OPM, yang jelas-jelas telah merongrong dan memecah belah NKRI. Dia tentu sangat tahu bahwa warga Papua, yang dia klaim sebagai basis konstituen partai yang dia pimpin, menjadi sasaran tindakan kejam dan biadab oleh gerombolan OPM, yang selama ini memang menjadi duri dalam daging bagi negeri ini. Jika dia mau melihat secara objektif, bahwa tidakan “barbar” yang tidak  berperikemanusiaan tersebut bukan hanya sekali, namun tindakan serupa sudah tidak terhitung banyaknya pada masa-masa sebelumnya, sejak diprokalamirkan OPM tahun 1965. Korban jiwa dari rakyat sipil dan aparat keamanan, serta harta benda tidak terhitung jumlahnya, apalagi kerugian non-material/psikis bagi masyarakat Papua dan bangsa ini sangatlah besar, yang tidak bisa dikonversikan dengan materi.

     Namun, patut disayangkan dia tidak pernah mengeluarkan sepatah kata pun kecaman terhadap kebiadaban OPM tersebut. Mana sikap nasionalisme yang senantiasa dia gembor-gemborkan, mana slogan NKRI harga mati, yang senantiasa menjadi “mantra-mantra” dia dalam setiap pidatonya. Toh, semua hanyalah “pepesan kosong” tidak ada tindakan nyata untuk membela NKRI. Jika demikian faktanya, jangan salahkan publik jika menyimpulkan sikap nasionalisme Megawati adalah abal-abal.

     Sedangkan khilafah yang sejatinya akan menyelamatkan negeri dan bangsa ini dari segala bentuk penjajahan, dia musuhi habis-habisan. Jika demikian adanya, berarti dia sedang mempresentasikan dirinya sebagai musuh Islam yang sejati. Waspadalah wahai kaum muslimin!.

     Ketiga, menunjukkan kedangkalan dalam berpikir Si Penuturnya. Ancaman akan Mengusir pihak yang mendukung khilafah, menunjukkan kekalahan intelektual yang sangat akut. Apa kapasitas dia? Sehingga berani mengeluarkan pernyataan ngawur akan mengusir pendukung khilafah dari Indonesia. Seakan-akan dia menuduh pendukung khilafah itu yang akan merusak Indonesia. Padahal negeri ini mengalami problem multi dimensional seperti saat ini karena penerapan ideologi kapitalisme, bukan karena penerapan sistem Islam, Khilafah Islamiyah.

     Sebagai seorang Muslimah tentu dia memahami dan meyakini bahwa pada hakikatnya alam semesta, termasuk bumi ini, dan segala yang ada di dalamnya adalah milik Allah SWT. Dan Allah SWT telah mengamanahkan kepada semua umat manusia yang hidup didalamnya untuk menaati segala titah-Nya , termasuk perintah menerapkan hukum yang berasal dari-Nya dalam seluruh aspek kehidupan dengan menegakkan sistem Islam, khilafah Islamiyah. Jadi, pihak yang tidak mau menaati titah dari pemilik hakiki alam semesta ini, dialah yang tidak berhak tinggal di bumi dan jagat raya ini. 

     Oleh karena itu, nasehat penulis untuk Ibu Megawati, segera bertobat dan menarik pernyataan yang sangat tidak patut tersebut. Dan penulis serukan kepada Ibu Megawati untuk segera ikut berjuang menegakkan kembali Khilafah Islamiyah sebelum ajal menjemput. InsyaAllah kebaikan dunia dan akhirat bagi orang-orang yang bertaubat dan mau menaati dengan sepenuh hati apa yang telah Allah SWT titahkan kepada umat manusia. Wallahu a’lam.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox