Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Saturday, December 7, 2019

Antara Medali SEA Games dengan Gunungan Emas di Papua



Lukman Noerochim
(Stafsus FORKEI)

SEA Games 2019 sedang digelar, menyedot antusiasme sebagian masyarakat untuk menonton secara live di TV. Menurut informasi yang beredar, sampai hari ini Indonesia baru mengoleksi 12 emas, 20 perak, dan 21 perunggu.

Terlepas dari perhelatan ini, penulis ingin mengingatkan bahwa medali emas yang kecil dan sedikit dalam SEA Games diperebutkan, sedangkan gunung emas di Timika dibiarkan begitu saja diambil Amerika. Jangan sampai kita terlena memperebutkan emas yang kecil dan sedikit dalam SEA Games tetapi emas di Timika yang berjuta-juta kali lebih banyak dibiarkan dikeruk Freeport Amerika.

Ingat, Indonesia adalah negara kaya raya. Forbes Internasional merilis, bahwa Indonesia menduduki posisi nomer dua dengan cadangan emas terbanyak di dunia. Bahkan, tahun 2015 saja, terjadi peningkatan sebanyak 20 persen. Tak hanya itu, keseluruhan produksi emas dari 10 negara terbaik yang memiliki tambang emas mengalami peningkatan produksi sebanyak 1,8 persen menjadi 3.211 ton per tahun.

Freeport yang memiliki dua kawah besar tambah emas dan tembaga ini pada tahun 2014 bisa memproduksi 38.8 persen dari total produksi tambah dunia. Sedangkan di tahun 2015 mencapai angka 42.3 persen.

Indonesia menduduki posisi kedua merupakan tambang emas terbanyak dalam segi produksi. Indonesia berada dibawah Uzbekistan dengan total produksi hingga 61 persen.

Secara ekonomis, cadangan PT Freeport memang sangat besar. Freeport memperkirakan cadangan bijih yang siap ditambang  pada saat itu mencapai 2,6 milyar ton! Freeport merupakan simbol bagaimana kuatnya penjajahan kapitalisme dalam bentuk investasi di negara ini. Eksistensi Freeport juga menjadi cermin betapa lemahnya Pemerintah dan kuatnya konspirasi mereka untuk melanggengkan eksistensi perusahaan-perusahaan asing dalam mengeruk kekayaan alam negeri ini.

Kita semua menyadari, kekayaan alam yang ada di Papua (dari migas, mineral, emas, tembaga, uranium dll), menjadi motivasi penguasaan asing atas dua wilayah tersebut. Namun tentu saja bukan sekadar itu. Di samping sumber daya alam, Papua sudah menjadi simbol dan representasi dari Indonesia.

Kuatnya peran Pemerintah AS dalam investasi Freeport diakui oleh Muhammad Sadli, Ketua Komite Penanaman Modal Asing pada awal pemerintahan Soeharto. Ia mengakui bahwa kontrak Freeport dilakukan bukan hanya karena pertimbangan ekonomi, namun juga pertimbangan politik, yakni untuk mendapatkan dukungan militer dan jaminan politik dari AS yang memiliki ekonomi terbesar dan kekuatan paling berpengaruh di dunia. Kehadiran Freeport di Indonesia menjadi penting bagi AS. Semakin besar keuntungan Freeport McMoran, pajak yang didapatkan Pemerintah AS akan semakin besar.

yang paling penting, bahwa tambang emas di Papua itu milik kita, milik rakyat, bukan milik mereka (Freeport). Islam menetapkan tambang adalah milik umum seluruh rakyat. Tambang itu harus dikelola langsung oleh negara dan seluruh hasilnya dikembalikan untuk kemaslahatan rakyat. Hanya dengan pengelolaan sesuai aturan syariah seperti itulah, kekayaan alam itu akan benar-benar menjadi berkah buat negeri ini dan penduduknya. Karena itu, pemberian ijin ataupun perpanjangan ijin kepada swasta/asing untuk menguasai pengelolaan tambang, termasuk Freeport, jelas menyalahi Islam.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox