Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Monday, December 9, 2019

ADA ‘KHILAFAH’ DALAM SOAL UJIAN? YA WAJAR KAN JIKA MEMANG ITU AJARAN ISLAM?



Oleh : Firdaus Bayu, Pusat Kajian Multidimensi

Banyak masyarakat masih meyakini bahwa HTI dan gagasannya hingga hari ini belum mati, meski BHP ormas tersebut sudah dicabut dua tahun lalu. Buktinya, pembahasan khilafah masih eksis sampai saat ini. Kita bisa lihat, di forum-forum televisi, apalagi di media sosial, nyaris setiap hari masih kita jumpai istilah ‘khilafah’ berseliweran, termasuk juga ‘khilafah’ ternyata terdengar di atas panggung reuni 212 tahun ini. Padahal kita tahu, reuni 212 bukanlah acara pribadi HTI. Terlepas pro dan kontra tentang khilafah, yang jelas harus diakui bahwa ‘khilafah’ masih viral dan menjadi tranding topic yang tidak membosankan. Yang terbaru, ‘khilafah’ ternyata juga muncul dalam soal ujian di sebuah sekolah di Kediri hari-hari ini. Anda pasti juga sudah mendengar beritanya, kan?

Baiklah, adalah hal yang wajar apabila soal ujian mata pelajaran olahraga mengandung istilah-istilah olahraga, misalnya agility, back roll, dojo, speed, dan lain-lain. Dan sesuatu yang wajar pula, jika dalam soal ujian seni budaya terdapat istilah-istilah seni budaya, seperti alergo, dirigen, eufoni, konserto, melodi, dan sebagainya. Juga sesuatu yang lumrah, ketika dalam soal matematika terdapat istilah kalkulus, geometri, logaritma, sinus, dan lain-lain. Apalagi kalau kita lihat soal biologi, bisa kita dapati istilah-istilah khusus seperti aardappel, acacia, achrazapota, brakte, coxa, konjugasi, nephron, xenobiosis, ZPG, dan banyak lagi yang lainnya. Jadi, jika memang khilafah itu benar-benar ajaran Islam, maka sebetulnya wajar saja kalau istilah tersebut muncul dalam sebuah soal ujian pelajaran agama Islam. Karena itu berarti, khilafah memang istilah yang ada dalam agama Islam.

Terlepas polemik setuju atau tidaknya masyarakat dengan khilafah, sebenarnya orang-orang yang selama ini terkenal sebagai dai khilafah di negeri ini telah lama menyampaikan bahwa khilafah itu gagasan Islam, ajaran Islam, yang terdapat dalam kitab-kitab ulama. Dalam buku fiqh sederhana tulisan H. Sulaiman Rasyid misalnya, yang ditulis pada 1938, jauh sebelum HTI ada, terdapat bab ‘Al Khilafah’ di bagian akhirnya. Tokoh nasional dari barisan dai khilafah Nusantara, misalnya KH. M. Shiddiq Al Jawi, juga pernah menuliskan beberapa referensi kitab-kitab ulama terdahulu yang membahas wajibnya khilafah, misalnya (sebagaimana yang beliau tulis), dalam kitab Al Fiqhul Akbar karya Imam Abu Hanifah, kitab Al Farqu Baina Al Firaq karya Imam Abdul Qahir Al Baghdadi, kitab Al Masaa’il Al Khamsuun fi Ushul Ad Din karya Imam Fakhruddin Ar Razi, karya Imam Ibnu Hazm dalam kitab beliau Ilmu Al Kalam ‘Ala Mazhab Ahlis Sunnah wal Jamaah, dan banyak lagi yang lainnya.

Jadi, sebaiknya kita tidak perlu terlalu gegabah menyikapi berita tersebut, apalagi sampai berniat memberi sangsi pada pihak-pihak tertentu. Rasanya hal itu berlebihan. Justru, jika kita berkenan membuka hati secara jujur, sebetulnya peristiwa tersebut bisa kita maknai sebagai isyarat bahwa boleh jadi khilafah itu memang ajaran Islam. Adapun urusan kita belum menyepakatinya, itu adalah pandangan pribadi. Tidak ada salahnya jika kita telaah lebih jauh tentang gagasan tersebut, mengundang tokoh-tokoh pejuangnya, misalnya, lalu duduk santun berdiskusi untuk memperluas wawasan, sembari tetap menjaga persaudaraan, barangkali ada kesalah pahaman yang selama ini bisa diluruskan.

Jika non muslim yang tidak mau berhormat pada bendera saja bisa kita maklumi sebagai keyakinan pribadi, tidak dituduh radikal, maka ketika muncul ‘khilafah’ dalam soal ujian agama Islam, ya wajar kan jika itu memang ajaran Islam?

No comments:

Post a Comment

Adbox